Penulisan Aksara 'Dewan Kesenian Lampung' Dianggap Salah - RILIS.ID
Penulisan Aksara 'Dewan Kesenian Lampung' Dianggap Salah
[email protected]
Jumat | 31/05/2019 20.41 WIB
Penulisan Aksara 'Dewan Kesenian Lampung' Dianggap Salah
Gedung Dewan Kesenian Lampung di kawasan PKOR Wayhalim, Bandarlampung. FOTO: ISTIMEWA

RILIS.ID, Bandarlampung – Beberapa penggiat budaya memprotes keras kesalahan penulisan ”Dewan Kesenian Lampung” dengan aksara Lampung di gedung itu.

Pertama, Andi Wijaya adoq Layang Marga Batin, pelaku seniman dan budayawan Lampung.

Kedua, Novellia Yulistin Sanggem adoq Pangeran Mustika (Ketua Gamolan Institute Lampung).

Ketiga, Fajar Ramadhan adoq Raden Ningrat Nata Marga (Duta Gamolan/pengamat sosial, politik, dan budaya).

Menurut Andi Wijaya, aksara Lampung adalah warisan budaya orang Lampung yang sangat bernilai. Tidak semua daerah memiliki.

”Karenanya, sepatutnya untuk melestarikan dan mempelajari dengan benar bagaimana menuliskannya,” ungkapnya diamini Fajar Ramadhan, Jumat (31/5/2019).

Novel Sanggem, penggiat aksara Lampung pada channel YouTube ’Cawo Ekam’ membenarkan kesalahan penulisan ”Dewan Kesenian Lampung” di gedung Dewan Kesenian Lampung (DKL) tersebut. Tepatnya terletak pada kata ”wan”, ”kese”, ”an”, dan ”ng”.

”Wan” pada kata dewan, aksaranya induk huruf ”wa” dengan anak surat datasan ”n” yang berada di atas, bukan di samping induk hurufnya.

”Kese” pada tulisan kesenian, induk huruf sudah benar. Tetapi anak surat bukan memakai ulan ”e”, tetapi memakai bicek ”e”.

Lalu, ”an” pada kesenian, dituliskan aksara Lampung sesuai dengan pembacaan lafalnya, ”keseniyan”. Maka, penulisannya dengan induk huruf ”ya” dan datasan ”n” yang diletakkan di atas induk huruf.

Lalu penggunaan ”ng” pada tulisan Lampung tidak menggunakan induk huruf ”nga” nengen. Karena nengen hanya bisa digunakan ketika tidak ada anak surat. Maka penggunaan kata Lampung memakai ”la”, ”ma” nengen dan ”pa” bitan ”u” tekelubang ”ng”.

”Sebaiknya segera tulisan aksara di gedung tersebut diperbaiki. Malu kita sebagai orang Lampung menggunakan aksara salah dan dibiarkan saja,” pungkas Novel.

Sementara itu, Sekretaris DKL Bagus Pribadi menyatakan pihaknya sudah sejak empat bulan lalu mendapat masukan dari internal terkait masalah tersebut. Saat ini tengah dilakukan perbaikan.

"Terima kasih buat beberapa kawan-kawan di Lampung atas perhatiannya. Kesalahan tulisan hanya dua huruf di belakang kata-kata. Jadi, tinggal ganti aja kok," singkatnya, Sabtu (1/6/2019). (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID