Pesan Moral di Balik Ibadah Kurban - RILIS.ID
Pesan Moral di Balik Ibadah Kurban
[email protected]
Sabtu | 25/08/2018 06.00 WIB
Pesan Moral di Balik Ibadah Kurban
Gunawan Handoko; Pengurus IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Kota Bandarlampung

SESUAI syariat, ibadah kurban disunahkan bagi umat muslim yang mampu. Tidak berdasarkan nisab, namun pada kebutuhan per individu. Yaitu apabila seseorang setelah memenuhi  kebutuhan sehari-harinya masih memiliki dana lebih dan mencukupi untuk  membeli hewan kurban, khususnya di hari raya Iduladha dan tiga hari tasyriq.

Ada hal yang menggembirakan, di mana kesadaran umat muslim dalam menunaikan ibadah kurban dari waktu ke waktu semakin tinggi. Bahkan jauh lebih tinggi dibanding dengan kepatuhannya dalam menunaikan zakat harta. Bila di masa lalu pelaksanaan kurban hanya dikelola panitia di masjid-masjid atau pengurus kampung, saat ini sudah menjamur dan meluas ke berbagai organisasi sosial kemasyarakatan.

Menggembirakan memang, tapi pernahkah kita berpikir apa makna kurban yang sesungguhnya dan apa yang bisa kita petik dari ibadah kurban tersebut?

Pertanyaan ini layak untuk direnungkan agar kita dapat meresapi makna yang sesungguhnya sehingga kurban yang kita laksanakan akan sampai kepada Allah dan bukan sekadar menggugurkan kewajiban sebagai hamba yang bertakwa.

Dengan mengetahui makna kurban secara mendalam, maka akan semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya, bahwa Allah sama sekali tidak memerlukan daging yang kita kurbankan, bahwa semua itu hanya untuk kepentingan dan kewajiban kita sebagai umat manusia agar saling berbagi.

Secara sederhana kurban bisa diartikan mendekatkan diri kepada Allah dan menjalankan perintah-Nya. Bila mengacu pengertian tersebut, maka berkurban dengan tujuan mencari popularitas, menarik simpati, ingin dipuji dan berbagai macam niatan selain taqorrub ilallah bisa dipastikan tidak sampai kepada Allah.

Makna selanjutnya, ibadah kurban sebagai bukti ketundukan secara total dari seorang hamba kepada sang penciptanya, apapun dan bagaimanapun beratnya perintah itu sebagaimana yang tertuang dalam firman-firman Allah dan hadis Nabi SAW terkait dengan kurban.

Salah satu firman Allah yang sarat dengan pesan moral dan nilai kemanusiaan termuat dalam surah Al-Kautsar ayat 1-3. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)”.

Dari ayat tersebut ada tiga kata kunci penting yang berhubungan dalam kehidupan ini, yaitu nikmat yang banyak, salat, dan berkurban. Jika ingin agar nikmat tersebut lestari maka lakukanlah salat untuk memperkuat hubungan vertikal agar nikmat tersebut memiliki nilai yang hakiki, tidak semu.

Selanjutnya, lakukan pengurbanan agar secara sosial menjadi nikmat bagi sesama. Nikmat Allah tidak mungkin bisa terasa nikmat bila hanya dinikmati oleh diri sendiri, tanpa keterlibatan orang lain.

Maka selain untuk menunjukkan kepatuhan hamba kepada Allah, kurban merupakan kata kunci bagi terciptanya harmonitas dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tanpa pengurbanan, cita-cita luhur untuk menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat hanyalah retorika dan isapan jempol belaka.

Kepedihan yang menimpa sekian banyak umat Islam yang masih hidup di bawah garis kemiskinan juga berawal dari tidak adanya pengorbanan yang sejati dari umat muslim yang berkecukupan. Maka motivasi berkurban selain untuk lebih mendekatkan diri dengan Allah, juga harus didasari pertimbangan akal-rasio dan ilmu yang memadai yaitu untuk kepentingan kemaslahatan, kemakmuran, dan kedamaian masyarakat umum.

Berkurban dengan menyembelih sapi atau kambing adalah sebagian kecil dari berkurban dalam arti yang luas. Banyak pengurbanan lain yang dapat dilakukan, seperti merelakan sebagian tanah yang dimilikinya untuk fasilitas umum, menyokong tersedianya lembaga pendidikan yang representatif, membantu saudara kita yang sedang terkena musibah bencana di Lombok misalnya. Dan banyak contoh lain yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat.

Berkurban juga harus didasari oleh kesadaran akan pesan moral-etis yang terkandung di dalamnya sehingga ada upaya yang terus menerus untuk meningkatkan spiritualitas diri dan masyarakatnya.

Di antara pesan moral dan akhlak yang dapat kita petik dari berkurban adalah, pertama, adanya keikhlasan untuk menyisihkan sebagian harta yang dititipkan oleh Allah kepada kita bagi kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Kedua, adanya kesediaan untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk kepentingan umum serta agama. Orang yang telah terilhami makna berkurban, diyakini akan dapat bergaul secara baik dengan masyarakat dan lingkungan sosialnya.

Ketiga, adanya kesediaan melakukan dakwah dan taklim dengan menyebarkan ilmu dan keterampilannya untuk pemberdayaan masyarakat. Dalam kenyataannya masih banyak umat muslim yang memiliki ilmu agama cukup, tetapi enggan untuk mentransfer ilmunya kepada masyarakat sekitar.

Keempat, berpartisipasi aktif dalam proses kepemimpinan (imamah) dan sanggup memegang kepemimpinan dengan arif dan penuh rasa tanggungjawab.

Dalam kedudukannya sebagai rakyat, berkurban berarti sanggup menjadi warga masyarakat yang baik, partisipatif, kreatif dan mampu melakukan kontrol yang bermoral untuk pemimpin dan lingkungan sosialnya.

Secara jujur harus diakui bahwa pemahaman akan arti kurban seperti ini belum terealisasikan secara konsisten bagi masyarakat muslim. Masih banyak di antara umat muslim yang belum bisa memahami akan makna duniawi di balik ibadah kurban.

Kelompok ini beranggapan bahwa ibadah kurban semata-mata urusan antara manusia dengan Allah, tidak ada kaitannya dengan urusan duniawi. Masih ada umat muslim yang taat dalam beribadah, paham akan hukum agama serta hidup berkecukupan, namun tidak memiliki empati untuk menyisihkan hartanya untuk berkurban.

Padahal sesungguhnya harta itu milik Allah yang dipinjamkan kepada manusia. Itulah kaidah tentang harta menurut prinsip Islam sebagaimana QS. Al-Hadid : 7 : ”Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebahagian dari hartamu yang Allah telah meminjamkan-Nya kepadamu”.

Pada kenyataannya masih banyak umat Islam yang beranggapan bahwa harta itu miliknya dan merupakan hasil jerih payah diri pribadi, tanpa adanya ’campur tangan’ Allah.

Meski firman Allah sudah sangat jelas bahwa harta yang kita miliki adalah ’titipan Allah’, pada kenyataannya tidak mampu mengalahkan sikap kikir dan bathil serta ego yang melekat pada sebagian umat Islam. Itulah sebabnya, banyak di antara mereka (kaum kaya) yang tidak dapat menikmati kekayaannya karena hidupnya telah dikendalikan oleh harta.

Inilah tantangan bagi para pendakwah untuk secara terus menerus mengobarkan semangat berkurban dalam arti luas yang dapat menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Kesediaan melakukan pengurbanan untuk orang lain haruslah didasari demi mengharapkan keridaan Illahi Robbi, karena berkurban adalah sebuah ajaran tentang mengurangi kepentingan diri pribadi untuk kepentingan orang lain dalam rangka mencapai kemuliaan di hadapan Allah.

Dengan berkurban diharapkan akan menghantarkan kita untuk menggapai maqam tertinggi di hadapan-Nya sebagai hamba yang menyandang derajat muttaqin. Wallahu a’lam bis shawab. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID