Petambak Bratasena Diguyur Rp40 Miliar, DKP Optimistis PDB Tembus Rp9 Triliun - RILIS.ID
Petambak Bratasena Diguyur Rp40 Miliar, DKP Optimistis PDB Tembus Rp9 Triliun
Segan Simanjuntak
Selasa, 2018/03/13 09.25
Petambak Bratasena Diguyur Rp40 Miliar, DKP Optimistis PDB Tembus Rp9 Triliun
Plt. Kepala Dinas Kelautan Perikanan Lampung Toga Mahaji Ritonga. FOTO: RILISLAMPUNG.ID/Hendarmin

RILIS.ID, Bandarlampung – Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) optimistis pendapatan domestik bruto (PDB) produksi budidaya perikanan naik tiga kali lipat dari kondisi saat ini sekitar Rp3 triliun. Pencapaian ini sama dengan PDB perikanan tangkap.

Optimisme ini muncul setelah PT Pertamina (Persero) mengalokasikan dana CSR (Corporate Social Responsibility) sebesar Rp40 miliar untuk membangkitkan kembali kejayaan tambak udang di wilayah Bratasena. Diketahui, ratusan petambak bertahun-tahun tidak memproduksi dan mengekspor udang ke luar negeri.

“Tahun ini akan diserahkan. Penyerahan pertama sudah dilakukan dengan nilai Rp10 miliar untuk penandatanganan kerja sama (PKS). Setiap petambak akan mendapatkan sebesar Rp77 juta untuk membiayai satu petak tambaknya,” kata Plt. Kepala DKP Lampung Toga Mahaji Ritonga kepada rilislampung.id, Senin (12/3/2018).

Dengan nilai Rp77 juta itu, lanjut Toga, para petambak menggunakan dananya untuk mempersiapkan tambak, membeli benur, membeli pakan, dan biaya operasional. Para petambak bisa panen dalam kurun dua hingga tiga bulan. “Dana yang dialokasikan kepada para petambak bersifat pinjaman dengan biaya jasa sekitar 3 persen. Misal, kalau dana itu dipakai dalam setahun, maka tiga persen dari totalnya harus dikembalikan,” ujarnya.

Total ada sekitar 514 petambak dengan luasan tambak sekitar 500 hektare di wilayah Bratasena. Jika budidaya sudah beroperasi dan produksi, maka pendapatan domestik bruto (PDB) atau ekonomi perikanan bisa mencapai tiga kali lipat atau sekitar Rp9 triliun.

“Untuk saat ini, PDB atau ekonomi yang ditimbulkan dari produksi budidaya perikanan sama dengan produksi perikanan tangkap yaitu sebesar Rp3 triliun. Produksi budidaya seyogyanya lebih tinggi dari produksi perikanan tangkap. Karena tambak udang di Bratasena beberapa tahun belakangan produksinya merosot, maka PDB-nya pun merosot,” papar Toga.

Mantan pegawai Kementerian Kelautan Perikanan ini mendapatkan penugasan khusus dari Gubernur Lampung nonaktif M. Ridho Ficardo untuk membenahi tambak udang di wilayah Bratasena. “Saya sudah melihat ke sana (Bratasena) dan tidak memungkinkan APBD Provinsi Lampung bisa membiayai para petambak. Karenanya, kami melobi beberapa pemodal dan Pertamina bersedia mengalokasikan dana CSR-nya ke sana,” ungkapnya.

Toga berharap kucuran dana segar tersebut bisa membangkitkan budidaya tambak udang dan meningkatkan ekspor perikanan Lampung. Selain itu, pertumbuhan ekonomi perikanan diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan 2.500 kepala keluarga (KK) yang bermukim di wilayah Bratasena.
"Mengenai pasar, Toga mengklaim pemasarannya sudah bagus dan ekspor. Para petambak tidak perlu lagi difasilitasi karena sudah berjalan dengan sendirinya," tuturnya.

Di bagian hulu, masih kata Toga, pembenuran di pesisir Kalianda juga sudah mulai bangkit. Awalnya, hampir 500-an pembenihan tutup. "Pembenihan ini kita datangkan induknya dari Amerika, kemudian dibenurkan di Kalianda. Selama dua hari sudah bisa produksi, lalu dijual dengan harga Rp5 ke seluruh wilayah di Indonesia, ada yang ke Medan, Makassar, Kalimantan, dan beberapa daerah lainnya,” bebernya.

“Untuk benur dengan masa pembenuran 20 hari dibanderol lebih tinggi sebesar Rp45. Pemerintah terus membangkitkan semangat para pembenur, sehingga bisa saling menopang,” tambahnya.

Toga juga berupaya meningkatkan sektor pengolahan sehingga bisa menghasilkan PDB yang signifikan. “Misalnya, kita olah produk-produk ini nilainya lebih tinggi seperti memanfaatkan kulit ikan patin untuk bahan dasar kerupuk,” ujarnya.

Menurut Toga, DKP Lampung di bawah kepemimpinannya akan mencoba membangkitkan ekonomi perikanan. “Dan rekan-rekan PNS sudah bergerak di lapangan. Saya berharap tidak ada lagi pegawai yang menganggur. Karena potensi laut Lampung yang memiliki garis pantai 1.105 kilometer dan 132 pulau sungguh luar biasa,” pungkasnya. (*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)