Pilgub yang Membahagiakan Rakyatnya - RILIS.ID

Pilgub yang Membahagiakan Rakyatnya
[email protected]
Jumat, 2018/03/02 13.52
Pilgub yang Membahagiakan Rakyatnya
Dr. Oki Hajiansyah Wahab, Pengajar di Universitas Muhammadiyah Metro

Saat diminta senior saya Oyos Saroso HN dan Ade Yunarso untuk menulis, terus terang saya tidak tahu apa yang harus ditulis karena sudah cukup lama saya tidak aktif lagi menulis. Sepulang dari kampus saya melihat presentasi menarik dari Prof. Zudan Arif Fakrulloh berjudul Pelayanan Adminduk yang Membahagiakan Rakyatnya.

Membahagiakan rakyat sendiri dipopulerkan salah seorang begawan hukum Indonesia yang telah berpulang yakni Prof. Satjipto Rahardjo. Bukunya yang berjudul Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat dan pikiran-pikirannya terus diperbincangkan hingga kini karena visinya yang jauh ke depan. Izinkan saya mengambil inspirasi dari judul tersebut untuk tulisan ini.

Pemilihan gubernur (pilgub) adalah tema yang kini menjadi perbincangan warga di daerah-daerah yang kebetulan menggelar pemilihan, tak terkecuali di Lampung. Tak hanya media-media arus utama, media sosial juga dipenuhi diskursus mengenai pilgub dan berita para calon itu sendiri. Tak hanya para calon, para pendukungnya juga aktif terlibat dalam mempengaruhi opini untuk menggiring suara pemilih.

Di sisi lain kita juga tak bisa menafikan di balik janji para calon untuk mengikuti pemilihan secara damai dan bebas politik uang pada kenyataannya aneka barang milik para calon terus bertebaran. Janji tinggalah janji dan yang tersisa adalah praktik doktrin politik Machiavelli yakni the end justify the mean.

Pilgub juga bukanlah sarana kontestasi yang melahirkan dendam, kebencian atau bahkan kesengsaraan. Kita tentu mendapat pelajaran penting dari Pilkada DKI dimana pilkada berubah menjadi politisasi identitas yang mendangkalkan pikiran, segregatif, dan cenderung meminggirkan gagasan-gagasan substantif sebagai dasar pertimbangan warga untuk memilih.

Idealnya pilgub adalah satu even kontestasi gagasan, program tentang apa dan bagaimana membawa rakyat menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih jauh lagi menuju kebahagiaan. Gagasan-gagasan yang ditawarkan para kandidat yang berkontestasi itulah yang kemudian menjadi diskursus dan perdebatan warga dalam upaya memajukan daerahnya.

Kontestasi gagasan menjadi penting agar warga mengetahui dan memahami arah program dari para kandidat. Kontestasi gagasan yang dimaksudkan tentu saja terkait dengan berbagai isu mulai konsep tata kelola pemerintahan yang baik, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang partisipatif, pengelolaan tata ruang, hingga pemenuhan hak -hak dasar warga. Lewat diskursus gagasan kualitas peradaban warga perlahan akan terbentuk.

Kualitas perbincangan meningkat ketika perbincangan mengenai gagasan sendiri menjadi topik utama ketimbang perbincangan mengenai sembako apa yang dibagikan atau isu-isu personal yang bermuara pada saling serang antar warga. Pada konteks ini even-even pemilihan dimaknai sebagai suatu kesempatan untuk memperdebatkan gagasan-gagasan sekaligus menyeleksi rekam jejak para kandidat untuk melahirkan pemimpin yang terbaik.

Keterbatasan informasi membuat penulis menilai bahwa yang lebih banyak tampak hari ini masihlah sebatas perang slogan yang orientasinya terbatas pada perolehan suara. Padahal, bukankah kemenangan yang diraih pada hakikatnya adalah kesempatan untuk merealisasikan gagasan kandidat itu sendiri untuk membawa warga pada model kebahagiaan yang ditawarkannya?

Kita semestinya beranjak dari suramnya demokrasi transaksional yang terbukti lebih banyak gagal melahirkan pemimpin transformatif. Model politik transaksional pada gilirannya hanya menggunakan kekuasaan sebagai sarana untuk meningkatkan pundi-pundinya lewat eksploitasi sumber daya alam, regulasi hingga perangkat birokrasi.

Belum cukupkah kita menyaksikan berapa banyak kepala daerah yang pada gilirannya berurusan dengan KPK akibat suap maupun korupsi yang terkait dengan pilkada? Ke depan kita berharap para calon di Lampung mulai lebih aktif mengedepankan kontestasi gagasanya ketimbang kontestasi sembako.

Kita tentu boleh berharap bagaimana para kandidat memenangkan hati rakyat melalui gagasan dan program-programnya. Dengan demikian, pilgub diharapkan menjadi media pendidikan politik yang menggembirakan sekaligus membahagiakan.

Bahagia sendiri memang sebuah konsep yang terus-menerus diperdebatkan indikatornya. Meski demikian tentu upaya-upaya menuju bahagia itu sendiri harus terus dilakukan.

Akhirnya saya teringat apa yang dikatakan oleh Tan Malaka bahwasanya tugas kita bukanlah untuk berhasil, tugas kita adalah untuk mencoba dan kita akan belajar menemukan serta belajar membangun kesempatan untuk berhasil. Akankah Pilgub Lampung kali ini membahagiakan rakyatnya? (*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)