Puisi Akhir Tahun sang Paus Sastra Lampung - RILIS.ID

Puisi Akhir Tahun sang Paus Sastra Lampung
[email protected]
Senin | 31/12/2018 22.25 WIB
Puisi Akhir Tahun sang Paus Sastra Lampung
Isbedy Stiawan ZS

RILIS.ID, Bandarlampung – SAYA buka tulisan akhir tahun ini dengan puisi yang saya tulis dan posting di FB sore tadi. Mungkin itu puisi terakhir saya pada 2018.

Sebuah puisi, saya merasakan kehilangan, ketika kusebut namamu. Entah siapa dan entah apa. Tetapi, yang pasti, 2018 akan hilang di balik tikungan. Betapa pun kita panggil atau sapa berulang-ulang.

Kita sulit hanya untuk menyusun ulang huruf-huruf dari namanya. Juga, selain sisa bayang, aku lupa rupa tubuhmu.

Yang berlalu biarkan ia pergi dan tak kembali. Cuma jadikan pembelajaran terutama yang khilaf dan silaf. Agar tidak terulang pada hari kemudian.

Tahun 2018 tidak akan menemani kita lagi. Ia tak abadi. Pasti akan pergi, pasti akan tanggal. Serupa daun tentu gugur pada waktunya. Barangkali masih banyak harapan yang belum diraih, belum kita capai. Harapan yang selalu bersemayam dan tumbuh dalam diri setiap manusia.

Keberhasilan itu sudah ditakar dan taj akan tertukar. Jadi, apa yang kita daftarkan harapan-harapan pada 2018, berapa yang bisa kita raih atau diwujudkan. Itulah keberhasilan. Dan, didata; berapa yang berhasil dan berapa yang gagal. Banyak mana?

Belum lagi soal amalan-amalan yang kita citakan pada 2018, berapa yang dapat kita laksanakan? Misal sederhana saja, pada 2018 mau menjalani puasa sunah Senin-Kamis, lalu berapa kali kita mampu laksanakan?

Dan lainnya. Tetapi jadikan apa yang sudah kita raih pada 2018 makin ditingkatkan di 2019. Lalu apa yang belum dapat terwujud pada 2018, kita data ulang untuk kita harapkan pada 2019.

2019 hanya ganti pakaian. Cita-cita dan harapan tetap masih tahun-tahun yang lalu.

Selamat menempuh 2019. (*)

 

Menuju Harapan Baru
Oleh Isbedy Stiawan ZS

*

ketika kusapa namamu
kau hilang di balik tikungan
suaraku tak berjejak lagi
dan ingin kurebut, namun
tak mau kembali ke baris
hurufhuruf. kau rupanya
merajuk karena tak disebut
padahal serupa maut
selalu datang tak dipanggil

kini kupanggil namamu
kau melengos dan hilang
di balik jalan lengang
dan, kecuali sisa bayang
aku lupa rupa tubuhmu

Kotabumi, 31 Desember 2018

 


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID