Ramadan dan Zakat Fitrah - RILIS.ID
Ramadan dan Zakat Fitrah
[email protected]
Kamis | 07/06/2018 06.00 WIB
Ramadan dan Zakat Fitrah
Asrian Hendi Caya, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Lampung; Peneliti Pusat Studi dan Informasi Pembangunan

RILIS.ID, – KEWAJIBAN terkait bulan Ramadan selain saum adalah membayar zakat fitrah. Zakat fitrah melengkapi saum dan merupakan penyempurna.

Allah Maha Tahu bahwa manusia banyak kelemahan dan kekurangan karena memang diciptakan lemah. ”Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah” (Qs 4: 28). Untuk itulah Kasih Sayang (Rahman Rahim) Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk dapat melengkapi kekurangannya.

Sebagaimana juga salat, pelaksanaannya banyak kekurangannya. Dan Allah menyediakan kesempatan melengkapinya dengan salat sunat Rawatib. Apalagi yang kita keluhkan kepada Allah atas tugas-tugas amal ibadah?

Setidaknya ada dua dimensi zakat fitrah. Dimensi pertama adalah melengkapi saum. ”Dari Ibnu ’Abbas, dia berkata, ’Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perkataan keji dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum salat (’Id), maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya setelah salat (’Id), maka itu adalah satu sedekah dari sedekah-sedekah” (HR Abu Dawud No. 1609; Ibnu Majah No. 1827. Dihasankan oleh Syaikh al Albani).

Di sinilah sekali lagi Allah ingin agar amal ibadah manusia bersih dan sempurna. Karena itu, Allah memberikan fasilitas melalui ibadah lain yang melengkapi. 

Dimensi kedua zakat fitrah adalah saling berbagi sebagai bentuk kepedulian atas sesama manusia. Semua manusia adalah sama. Dan manusia diciptakan Allah sehingga menghormati. Allah berimplikasi pada penghormatan pada manusia.  Itulah sebabnya Allah menekankan aspek sebagai makanan bagi orang miskin. Melalui mekanisme ini Allah ingin muruah dan derajat manusia tetap dijaga.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Orang miskin bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta kepada orang banyak, lalu peminta itu diberi sesuap-dua suap, atau sebutir dua butir kurma”. Para sahabat bertanya, "Kalau begitu, seperti apakah orang yang miskin itu?" Beliau menjawab, "Orang miskin sesungguhnya ialah mereka yang tidak memiliki apa-apa untuk menutupi kebutuhannya, namun keadaannya itu tidak diketahui orang supaya orang bersedekah padanya, dan tidak pula meminta-minta ke sana ke mari” (Hadits Muslim No. 1722). Sungguh luar biasa cara Allah mengangkat muruah manusia.

Tapi pada saat yang sama justru zakat fitrah menjadi ajang pamer kemiskinan. Orang-orang miskin diminta untuk antre bahkan sampai ada yang harus terinjak, pingsan, bahkan meninggal untuk mendapat bagian zakat.  Hal ini menghilangkan muruah orang miskin, yang justru dijaga Allah. Saatnya kita mengembalikan makna zakat kepada substansi sebagaimana maqosid syariahnya. Dasar syariah adalah kemaslahatan!

Karena itu, diutamakan pemberian zakat pada lingkungan sekitar. Mengapa? Karena lingkungan sekitar adalah tetangga sehingga akan saling mengenal dan tahu kondisi. Inilah makna silaturahim. Dengan demikian akan diketahui siapa sebenarnya fakir miskin yang membutuhkan bantuan.

Tugas kita mengantarkannya tanpa mereka harus kehilangan harga diri karena memamerkan kemiskinannya. Itulah sebabnya, amil zakat mendapat bagian dari zakat yang terkumpul. Maksudnya agar amil proaktif mendata dan mendistribusikan zakat. Tidak selayaknya justru menunggu orang membayar zakat dan memanggil fakir miskin untuk menerima zakat.

Andai semua masjid melakukan ini, maka fakir miskin tidak kehilangan muruahnya sehingga tidak minder untuk bergabung dengan jamaah masjid. Dan mereka menjadi bangga sebagai muslim karena dihargai eksistensinya.  Semoga. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID