Resep Sang Profesor - RILIS.ID
Resep Sang Profesor
[email protected]
Rabu | 06/03/2019 18.14 WIB
Resep Sang Profesor
Wirahadikusumah (kanan) dan Rektor UIN Raden Intan Lampung Prof. Moh. Mukri. FOTO: Segan P.S.

Rinai hujan menemani perjalanan saya menuju Universitas Negeri Islam (UIN) Raden Intan Lampung tadi pagi (6/3).

Kedatangan saya ke kampus tersebut untuk bersilaturahmi dengan Rektor UIN Raden Intan Lampung Prof. Moh. Mukri.

Sebenarnya saya tidak ada janji bertemu dengannya. Saya hanya menerima ajakan kawan.

Pimpinan Perusahaan Rilislampung.id Segan Petrus Simanjuntak lah yang mengajak saya menemaninya bertemu pria yang juga menjabat Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung itu.

Ajakan tersebut saya terima lantaran sebelumnya saya memang ingin sekali berdiskusi dengan Prof. Mukri.

Sebenarnya saya pernah bertemu Prof. Mukri di beberapa acara. Terlebih kami sama-sama tergabung di organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Lampung. Namun, sekalipun saya tak pernah berdiskusi dengannya.

Karena itu, dengan antusias saya menerima ajakan Segan Petrus Simanjuntak itu. Selain ingin bersilaturahmi, saya ingin tahu "resepnya" mengembangkan UIN Raden Intan Lampung yang kini menjelma menjadi kampus yang tak bisa dipandang sebelah mata lagi.

Tak dapat dipungkiri, dahulu kampus ini tidak banyak dilirik pelajar yang ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.

Bahkan, saya ingat saat mahasiswa dulu, kawan saya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bandarlampung yang berkuliah di kampus tersebut pernah menyampaikan ada fakultas yang terancam tutup karena minimnya pendaftar.

Tetapi kini, pelajar dari berbagai penjuru di Indonesia berebut kursi untuk bisa kuliah di universitas yang berlokasi di Kecamatan Sukarame, Bandarlampung ini.

Buktinya, informasi yang saya terima, pendaftar UIN Raden Intan Lampung melalui jalur Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN) tahun ini jumlahnya mencapai 16.924 orang.

Belasan ribu pendaftar itu berasal dari 31 provinsi di Indonesia. Hanya Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara dan Maluku saja yang pelajarnya tidak mendaftar.

Itu pun baru satu jalur pendaftaran yang dibuka. Sementara, UIN Raden Intan Lampung membuka pendaftaran mahasiswa baru dari jalur lainnnya.

Data ini menunjukkan, UIN Raden Intan Lampung sudah dikenal dan diminati pelajar di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Saya yakin, keberhasilan UIN Raden Intan Lampung sekarang karena ada "campur tangan" leadership yang kuat dari Prof. Mukri selaku rektor, sehingga kampus ini diperhitungkan sampai level nasional.

Meskipun memang, Prof. Mukri mengatakan kepada saya tadi pagi, menterengnya UIN Raden Intan Lampung di level nasional saat ini bukan karena dirinya saja. Capaian itu diraih berkat komitmen dan kinerja civitas akademika yang sungguh-sungguh. Yang orientasinya adalah kualitas.

”Tentunya juga karena campur tangan Allah SWT,” katanya di ruang kerjanya tadi pagi.

Dia mengakui, dahulu peminat yang ingin kuliah di UIN Raden Intan Lampung tidak banyak. Bahkan, awal dirinya menjadi rektor, jumlah mahasiswa di kampus ini hanya sekitar 2.500 orang. Sementara saat ini, hampir 28 ribu orang.

”Kalau dahulu, pendaftarnya 1.000 orang, yang diterima bisa 1.050 orang. Bayangkan, tidak mendaftar saja, diterima oleh kampus ini,” candanya sambil tertawa lepas.

Dia mengatakan, tidak ada kebijakan khusus yang dilakukannya di UIN Raden Intan Lampung. Sebagai pimpinan, dirinya hanya menerapkan keteladanan, kebersamaan, dan hope (harapan).

Menurutnya, pemimpin memang harus memberikan keteladanan bagi yang dipimpinnya. Jika seorang pemimpin tidak disiplin, pasti yang dipimpin juga akan ikut tidak disiplin.

"Pemimpin itu uswah (teladan). Dan itu ada pada Rasulullah. Nah, bagaimana cara memimpin? Contohlah Rasulullah!" pesannya kepada saya seraya membacakan Surah Al Ahzab ayat ke-21.

Kemudian prinsip kebersamaan. Maksudnya adalah penyamaan visi semua civitas akademika.

Menurut dia, untuk mencapai visi tersebut, gelombang frekuensi civitas akademika harus sama. Jika semuanya sudah satu persepsi, maka untuk mencapai target yang dikerjakan akan mudah.

Dengan persepsi yang sama juga, semuanya akan berkomitmen dengan aturan yang diterapkan.

Contohnya larangan merokok di lingkungan UIN Raden Intan Lampung, semuanya harus mematuhi itu.

"Seluruh kantin yang ada di kampus ini tidak ada yang berjualan rokok. Siapapun juga tak boleh merokok di sini. Termasuk tamu yang datang ke kampus ini. Itu sudah aturan, harus dipatuhi," tegasnya.

Selanjutnya hope atau harapan. Dia mengatakan, hope adalah stimulan dalam bekerja. Karenanya, hope itu penting dalam organisasi kerja.

Menurutnya, untuk mewujudkan mimpi harus dilakukan dengan ikhtiar yang keras. "Tentunya juga kita harus menyiapkan reward bagi yang berprestasi dan punishment bagi yang melanggar," paparnya.

Saat diskusi itu, Prof. Mukri sempat meminta saya berdiri dari tempat duduk dan mengajak mendekat ke jendela ruang kerjanya yang berada di lantai dua gedung rektorat.

"Coba Wira lihat, bersih tidak kampus ini? Tong sampah tersebar di mana-mana. Itu bukti komitmen kami menjaga kebersihan kampus ini," katanya.

Kemudian dia berjalan ke bilik jendela lainnnya. Dia lantas menunjukkan masjid yang hampir rampung pembangunannya kepada saya.

"Lihat masjid itu? Indah tidak? Masjid itu kami beri nama Safinatul Ulum. Kami memang berupaya membangunnya seindah dan sebagus mungkin. Dananya bukan dari uang negara, tapi swadaya. Insya Allah bisa menampung sampai 6 ribu jamaah. Kemungkinan adalah yang terbesar dari masjid-masjid yang ada di perguruan tinggi lainnya di provinsi ini. Masjid itu bakal menjadi ikon kampus kami," paparnya.

Dia mengatakan, beragam ornamen ada di masjid tersebut. Mulai ornamen Lampung hingga masjid-masjid yang ada di belahan dunia lainnya. "Ini gambar ornamen di plafon masjid yang kami bangun. Indah kan?" katanya saat menunjukkan gambar plafon masjid dari handphone-nya.

Prof. Mukri juga menjelaskan, tahun ini kampusnya akan membangun beberapa gedung baru. Di antaranya gedung rektorat, fakultas, dan sarana olahraga seperti kolam renang.

Dana pembangunannya berasal dari Islamic Development Bank (IDB). "Alhamdulillah kami mendapatkan bantuan dari IDB sebesar Rp650 miliar. Tahun ini beberapa gedung mulai dibangun. Ini rencana gambar gedung rektorat yang akan dibangun," katanya seraya memperlihatkan buku yang di dalamnya terdapat gambar rencana gedung rektorat yang akan dibangun.

Selain menambah fasilitas gedung di UIN, Prof. Mukri mengatakan, pihaknya kini terus berupaya menaikkan akreditasi program studi (prodi) yang ada di kampusnya.

"Tahun ini kami menargetkan lebih 50 persen dari 29 prodi di UIN Raden Intan Lampung terakreditasi A," ucapnya.

Prof. Mukri menyakini, dengan pembangunan dan target tersebut, UIN Raden Intan Lampung bakal lebih maju lagi dalam tiga tahun ke depan.

"Untuk itu semua, kami mohon doa dan dukungan semua pihak," pungkasnya. (*)

Editor Segan Simanjuntak


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID