Revolusi Mental untuk Kemerdekaan Sejati - RILIS.ID
Revolusi Mental untuk Kemerdekaan Sejati
[email protected]
Sabtu | 17/08/2019 11.29 WIB
Revolusi Mental untuk Kemerdekaan Sejati
Ismi Ramadhoni, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung. ILUSTRASI: RILISLAMPUNG.ID/ Anto RX

74 tahun sudah negara Indonesia melangkah sebagai sebuah bangsa yang terus memainkan peranan sebagai warga dunia. Gegap gempita khidmat merayakan peringatan hari proklamasi kemerdekaan di sudut-sudut kampung dan perkotaan. Memberi suntikan gotong royong serta memberikan edukasi kepada generasi mendatang untuk tetap teguh mempelajari nilai-nilai heroisme dan nasionalisme.

Tujuh dasawarsa lebih berdiri, bukan jalan yang mudah untuk dilihat dan dipelajari. Banyak catatan sejarah yang menjadi bahan diskursus untuk menata kembali atau untuk menjahit kembali tenun kebangsaan dalam pusara sang saka merah putih.

Sebagai bangsa yang penuh dengan kemajemukan, banyak akan kelebihan. Kita patut bangga dan bisa berbesar hati karena peluh perjuangan para pahlawan menghitung kemungkinan dengan bermodal bambu runcing melawan bedil akhirnya terbayar atas rasa persamaan nasib dan termuatlah dalam preambule UUD 1945 yang berbunyi "Atas berkat rahmat Tuhan yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya".

Ada dua dorongan yang melahirkan Indonesia dalam preambule tersebut, yakni Tuhan Maha Esa dan keinginan luhur, frasa yang sangat mistis dan sangat condong ke pola pikir yang tidak rasional. Bangsa yang lahir akan kepercayaan rakyatnya pada Tuhan, yang menggantungkan hidupnya dengan keberanian dan kemungkinan, hingga kita percaya bahwa bambu runcing dapat mengalahkan pistol buatan Belanda.

Sampai hari ini, kita harus akui bahwa bangsa kita masih menjadi bangsa yang bergantung dengan kemungkinan bangsa yang berjudi dengan kemungkinan terbawa oleh kepercayaan mitos masyarakat dan juga ditambah karena tidak sentralistiknya pemerintah dalam mengambil kebijakan jangka panjang untuk anak-anak bangsa ke depan.

Tan Malaka hadir untuk mematahkan ketergantungan rakyat pada alam mistis sehingga pikirannya sampai hari ini dapat kita baca dalam buku 'Materialisme'. Dialektika, logika dan manifesto Jakarta menyusun konsep bahwa bangsa Indonesia harus belajar menjadi bangsa yang rasional dan ilmiah.

Juga mempunyai kalkulasi data yang jelas terhadap apa yang ingin dicapai. Kemudian apa yang ingin dihindari.

Rakyat Indonesia merupakan tipikal manusia yang unik, menari-nari dengan kemungkinan serta berharap dan berpisah bahwa kemiskinan adalah takdir yang mustahil dirubah. Sehingganya setiap lapisan dari yang miskin sampai kaya menggantungkan hidupnya dengan kemungkinan.

PNS yang menggadaikan SK untuk mengambil pinjaman di bank karena ingin buat rumah, sekolah anak, beli kendaraan hingga gajinya sebagai abdi negara habis untuk membayar tagihan bank. Kemudian kita lihat mereka yang bertani, di mana harga jual beli hasil bumi relatif rendah.

Sementara para petani bertekad untuk merubah nasib yang ditanamkan kepada anaknya untuk sekolah ke jenjang pendidikan tinggi, yang dimana kampus sudah sangat mahal dan petani itu terseok-seok menuntaskan anaknya kuliah. Setelah itu timbul masalah baru tentang sulitnya mencari pekerjaan dan menumbuhkan pengangguran baru setiap tahunnya.

PNS punya SK dan petani masih punya tanah yang dikerjakan. Bagaimana kalau suatu keluarga tidak punya tanah sebidang pun dan tidak punya usaha karena tidak punya uang dan pekerjaan untuk menunjang itu jauh bicara soal anaknya kuliah, hidup sehari-hari saja bermain dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Pesimisme itu tumbuh kuat karena negara tidak hadir dalam memberikan sentuhan terhadap masyarakat. Lelucon elite politik lebih mewarnai panggung sandiwara yang sedang mereka mainkan. Elite kita hari ini tidak punya orientasi yang jelas kemana bahtera ini akan berlabuh, harapan yang dilontarkan tidak selaras dengan konsep yang taktis dan jangka panjang. Elite kita banyak yang tertangkap korupsi dan saling meluncurkan kebencian kepada masing-masing lawan politik. Itu realitanya hari ini.

Coba kita renungkan hari ini, apakah mereka elite politik kita pernah tidak tidur semalaman karena memikirkan nasib orang tua yang menahan sakit dan tidak mau berobat karena tidak punya biaya, anak-anak yang tidak bisa lanjut sekolah karena tidak ada biaya, anak-anak yang sudah kecanduan narkoba, dan anak-anak pengangguran yang menjadikan kompleksitas masalah sosial di Republik Indonesia. Apakah elite politik kita pernah pikirkan itu tiap malam? Apa yang mereka pikirkan?

Ketidakhadiran negara menggiring masyarakat untuk tidak percaya kepada pemerintah. Akhirnya krisis kepercayaan melanda Indonesia sampai kepada kehidupan bertetangga hingga kita hidup dalam egosentris yang tinggi dan tidak percaya satu sama lain. Ketidakpercayaan terhadap satu sama lain ini dianggap Francis Fukuyama sebagai masalah besar, karena akan dapat memporakporandakan suatu bangsa.

Jabatan publik seharusnya jangan dibuat main-main, karena jauh kita bicara pertanggungjawaban, tapi ini soal mengurus manusia ramai dan pemimpin yang kita harapkan harus menjadi 'Superman'. Kita cari yang terbaik dari yang terbaik, kita terbuai akan kesederhanaan padahal konsepsi yang dibangun tidak punya arah.

Pemimpin harus memberikan yang terbaik untuk rakyatnya harus komitmen dan punya mimpi yang nyata terhadap anak bangsa ke depan, karena kalau disederhanakan dikhawatirkan akan ketertinggalan bangsa ini dan jatuh pada jurang kehancuran. Bangsa lain sudah menuju luar angkasa, kita Indonesia masih sibuk berdebat soal ucapan hari raya.

Ketika masa penjajahan Belanda, ada kolam renang yang ditulis peringatan di depannya "Anjing dan Pribumi tidak boleh masuk". Dimulai dari kita mari kita menyongsong janji-janji politik kepada para elite dan janji menuntaskan revolusi mental.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-74. (*)

Editor Segan Simanjuntak


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID