Ruang Terbuka Publik Metro: Instagrammable atau Lovable? (1) - RILIS.ID
Ruang Terbuka Publik Metro: Instagrammable atau Lovable? (1)
[email protected]
Senin, 2018/07/09 06.00
Ruang Terbuka Publik Metro: Instagrammable atau Lovable? (1)
Dr Eng Fritz Akhmad Nuzir ST MA IAI, Peneliti di IGES (Institute for Global Environmental Strategies) Kitakyushu Urban Centre-Jepang; Dosen Program Studi Arsitektur Universitas Bandar Lampung

MENURUT publikasi dari UCLG-ASPAC yang berjudul Public Spaces in Asia Pacific: Why Local Governments Need to Act (2016), kota-kota yang sukses dalam pembangunan, pada umumnya mengalokasikan kurang lebih 50 persen dari lahan perkotaannya untuk ruang publik. Komposisi ruang publik itu sekitar 30-35 persen untuk area jalan dan 15-20 persen untuk ruang terbuka dan fasilitas publik.

Pada kesepakatan internasional dalam Sustainable Development Goals (SDGs) dalam tujuan Nomor 11 poin 7 pun ditegaskan, "Sampai dengan 2030 menyediakan akses yang universal untuk ruang terbuka dan ruang hijau publik yang aman, inklusif, dan mudah diakses, khususnya untuk wanita dan anak-anak, orang lanjut usia, dan orang yang berkebutuhan khusus". Dari sini dapat kita lihat betapa penting peranan ruang terbuka publik dalam wacana internasional.

Di Kota Metro sendiri saat ini pembahasan tentang ruang terbuka untuk masyarakat umum, cenderung masih terfokus pada persepsinya sebagai ruang terbuka hijau (RTH).

Data yang menunjukkan luasan total RTH publik di Kota Metro baru terhitung sekitar 17 persen dari luasan kota, membuat warga dan pemerhati kota selalu menyuarakan agar pemerintah kota berkomitmen untuk menyediakan RTH seluas 30 persen. Ini sesuai standar yang ditetapkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Jika ditelaah lebih detil, prosentase 30 persen itu terdiri dari 20 persen RTH publik dan 10 persen RTH privat. Dari sini bisa kita lihat sesungguhnya angka 17 persen itu tidaklah jauh dari target 20 persen untuk RTH publik.

Sedangkan RTH privat atau milik pribadi warga kota secara faktanya di lapangan dapat terlihat dengan jelas bahwa target 10 persen sudah terpenuhi, terutama pada kawasan pinggiran kota.

Namun memang saat ini semakin bertambah banyak permasalahan lingkungan yang muncul, seiring pertumbuhan kawasan permukiman dan komersil yang tak terkendali. Seperti banjir di wilayah perkotaan dan pembuangan sampah ilegal. Sehingga pemerintah kota harus mulai mengambil langkah evaluasi, perencanaan, aksi, dan pengawasan yang tegas untuk menjaga keberadaan RTH dan fungsi ekologisnya ini.

Terkait permasalahan di atas dan yang juga tak kalah mengkhawatirkan adalah sangatlah sedikit dari kawasan-kawasan RTH publik di Kota Metro, yang benar-benar berfungsi sebagai suatu ruang terbuka publik. Seharusnya selain memiliki fungsi ekologis, RTH merupakan bagian dari ruang terbuka publik.

Idealnya keberadaan suatu ruang terbuka publik dapat dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul komunitas, tempat berolahraga, pertunjukan seni, sarana edukasi, dan arena bermain anak-anak. Diisi pula oleh kegiatan komersil seperti aneka kuliner dan spot-spot wisata lainnya sebagai fungsi penunjang tanpa melupakan fungsinya sebagai kawasan hijau dan paru-paru kota yang tak kalah penting.

Beberapa RTH publik di Kota Metro di antaranya adalah Taman Merdeka, Lapangan Samber, Taman Demokrasi, Taman Gajah, Taman Ki Hajar Dewantara, Taman Yosomulyo, dan Lapangan Armor.

Lalu, Taman dan Lapangan Mulyojati, Taman Terminal Mulyojati, Hutan Kota Linara, Hutan Kota Tejosari, Bumi Perkemahan, Lapangan Garuda, Lapangan Sepakbola Hadimulyo Barat, Lapangan Sepakbola Hadimulyo Timur, Landbouw, dan kawasan Dam Raman.

Pada kenyataannya hanya beberapa dari RTH publik Kota Metro itu yang dapat dianggap memenuhi kriteria ideal di atas. Itu pun belum benar-benar sempurna. Baru Taman Merdeka dan Lapangan Samber-lah yang dapat dikatakan digunakan oleh warga kota untuk berbagai aktivitas publik.

Secara berkala warga Kota Metro menggunakan taman-taman tersebut untuk bermacam-macam kegiatan. Mulai olahraga, kumpul-kumpul, acara komunitas, hobi, rekreasi, dan sebagainya. Di beberapa taman tersebut memang terdapat fasilitas-fasilitas umum seperti misalnya jalur pejalan kaki, lapangan olahraga, tempat duduk, dan sebagainya. Namun kualitas, kelengkapan teknis, dan perawatan dari sebagian besar fasilitas-fasilitas tersebut masih di bawah standar.

Penyebutan area Lapangan Samber sebagai RTH pun sebenarnya kurang tepat. Karena pada dasarnya sebagian besar dari areanya telah tertutup oleh paving atau permukaan buatan lainnya. Penghijauan pun hanya diwakili oleh beberapa pohon di bagian tepi lapangan.

Sebaliknya di Taman Merdeka hanya sebagian kecil kawasannya yang memang didesain dan ditujukan untuk menampung kegiatan dan pergerakan fisik dari warganya. Akhirnya area rerumputannyalah yang sering menampung aktivitas warga sehingga kemudian berulang kali mengalami kerusakan karena terinjak-injak.

Jadi sebenarnya apa yang menjadi daya tarik dari tempat-tempat yang telah digunakan sebagai ruang terbuka publik di Kota Metro tersebut?

Ada beberapa faktor yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Yang, pertama adalah aksesibilitas atau pencapaian ke lokasi ruang-ruang terbuka publik tersebut. Bukanlah suatu kebetulan kedua ruang terbuka publik tersebut terletak tepat di area pusat Kota Metro.

Area pusat kota ini dapat dengan mudah dicapai baik oleh warga Kota Metro sendiri ataupun pendatang yang berkunjung. Area ini juga berdekatan dengan berbagai macam kawasan mulai permukiman, perkantoran, pendidikan, sampai kawasan komersil dan perdagangan.

Dengan keterhubungan kepada beranekaragam guna lahan tersebut, otomatis keberadaan Taman Merdeka dan Lapangan Samber dengan mudah menjadi ”destinasi” aktivitas warga secara terus-menerus, baik yang memang secara khusus bermaksud mengunjunginya maupun yang hanya numpang lewat atau sengaja transit.

Fakta bahwa sistem angkutan umum di Kota Metro belumlah dapat melayani dengan baik seluruh wilayah kota membuat performa RTH dan ruang-ruang terbuka publik lainnya yang disebutkan di atas belum mampu ”menyaingi” performa Taman Merdeka dan Lapangan Samber sebagai ruang terbuka publik di Kota Metro.

Faktor selanjutnya adalah kehadiran aktivitas dan kegiatan publik yang telah rutin dijalankan di kedua tempat tersebut. Baik yang sifatnya terorganisasi sebagai kegiatan formal atau semiformal, maupun kegiatan nonformal yang secara historis telah ada di kedua tempat tersebut.

Pemerintah Kota Metro telah menyelenggarakan kegiatan-kegiatan rutin seperti misalnya yang paling besar adalah kegiatan Car Free Day yang diselenggarakan sebanyak dua kali sebulan di tiap hari Minggu.

Kegiatan ini telah berlangsung sejak 2011 yang lalu dengan melibatkan seluruh staf pemerintah kota dan juga warga Kota Metro. Bahkan ada juga yang sengaja datang dari daerah lain di sekitar Kota Metro. Kegiatan formal pemerintah seperti upacara, peringatan hari besar, dan sebagainya juga sering diadakan terutama di Lapangan Samber.

Sedangkan kegiatan nonformal warga seperti kegiatan rekreasi, olahraga, komunitas, pusat jajanan, dan kegiatan komersil dadakan mengambil tempat di Taman Merdeka dan juga sebagian Lapangan Samber. Kehadiran kegiatan dan aktivitas inilah yang sebenarnya berperan besar dalam membuat kedua tempat tersebut, Taman Merdeka dan Lapangan Samber, berfungsi seperti layaknya ruang terbuka publik. Kedua faktor tersebut membuat pilihan warga Kota Metro akan ruang terbuka publik hanya terbatas pada area pusat kota ini. (*/bersambung)

Editor gueade


komentar (0)