Ruang Terbuka Publik Metro: Instagrammable atau Lovable (2/Habis) - RILIS.ID

Ruang Terbuka Publik Metro: Instagrammable atau Lovable (2/Habis)
[email protected]
Selasa, 2018/07/10 06.00
Ruang Terbuka Publik Metro: Instagrammable atau Lovable (2/Habis)
Dr Eng Fritz Akhmad Nuzir ST MA IAI, Peneliti di IGES (Institute for Global Environmental Strategies) Kitakyushu Urban Centre-Jepang; Dosen Program Studi Arsitektur Universitas Bandar Lampung

BAGAIMANA dengan kondisi RTH-RTH atau ruang terbuka publik di Kota Metro? Renovasi dan penambahan fasilitas yang gencar dilakukan selama satu atau dua tahun ke belakang, ternyata sampai sekarang belumlah cukup untuk menjadikan tempat-tempat tersebut sebagai ruang terbuka publik yang layak.

Fasilitas yang dibangun sayangnya masih terbatas kepada elemen gimmick atau hiasan belaka. Misalnya tulisan nama taman, ornamen lampu hias, dan penambahan warna.

Selain itu masih tak menghiraukan kebutuhan fasilitas umum yang mendasar. Seperti toilet umum, signage untuk kaum difabel, jalur pejalan kaki, dan sebagainya.

Belum ada pemahaman akan pentingnya faktor aksesibilitas dan aktivitas dalam penyediaan ruang-ruang terbuka publik tersebut seperti yang penulis sampaikan di atas.

Proses pembangunan ruang-ruang terbuka publik yang didasari dengan visi Kota Metro sebagai ”Kota Pendidikan dan Wisata Keluarga berbasis Ekonomi Kerakyatan Berlandaskan Pembangunan Partisipatif” memang mampu mengundang kepopuleran instan gimmick-gimmick yang baru dibangun tersebut di dunia maya. Namun tetap belum mampu mengundang kehadiran warga-warganya untuk melakukan kegiatan dan aktivitas publik di sana dengan nyaman.

Warga pun belum dilibatkan dalam proses perencanaan dan pembangunan ruang-ruang terbuka publik itu, tidak sesuai dengan visi kota yang mencantumkan istilah ”pembangunan partisipatif”. Alhasil warga juga belumlah secara sadar merasa memiliki dan ikut bertanggungjawab terhadap keberadaan ruang-ruang terbuka publik.

Sampah-sampah dapat dengan mudah ditemukan berserakan tidak pada tempatnya dan sarana-sarana yang baru selesai dibangun pun dengan cepat mengalami kerusakan akibat ulah oknum warga yang tidak bertanggungjawab. Tentunya terlepas dari kualitas pembangunannya yang juga belum optimal dan tidak ada acuan rencana induk yang jelas.

Beberapa waktu yang lalu penulis sempat melakukan ”riset” sederhana dengan membuat polling di akun media sosial pribadi dengan menanyakan, ”Untuk ruang terbuka publik, mana yang lebih penting?” Dua pilihan jawaban disediakan yaitu ”Penghijauan dan fasilitas” dan ”Aktivitas dan multifungsi”.

Dari kedua pilihan ini tentunya kita sudah bisa memprediksi bahwa”Penghijauan dan fasilitas” akan banyak menjadi pilihan orang. Karena memang pada dasarnya pertanyaan ini ditujukan kepada warga kota-kota di Indonesia yang secara umum masih sangat mendambakan keberadaan suatu ruang terbuka publik dengan fasilitas umum yang lengkap dan hijau.

Dan memang ternyata dari total 111 responden dengan polling di Facebook (FB) dan Instagram (IG) yang dibuka selama satu hari tersebut, hasilnya menunjukkan tren yang sama. 68 persen (di FB) dan 65 persen (di IG) memilih ”Penghijauan dan fasilitas”. Sedangkan 32 persen (di FB) dan 35 persen (di IG) memilih ”Aktivitas dan multifungsi” sebagai faktor terpenting dalam suatu ruang terbuka publik yang baik.

Namun yang menarik bagi saya adalah jika kita lihat lebih detil ke angka prosentasenya, ternyata perbandingannya adalah sekitar 2:1. Dimana cukup banyak juga yang menginginkan ruang terbuka publik yang multifungsi dan dapat menampung berbagai aktivitas warga kota. Inilah yang menjadi pembeda antara konsep perencanaan ruang terbuka publik ala "barat" dan "timur".

Barrie Shelton dalam bukunya yang berjudul ”Learning from Japanese Cities: Looking East in Urban Design” mengemukakan, sebenarnya ada perbedaan antara pendekatan perancangan kota di belahan dunia bagian barat dan dan dunia bagian timur dalam menciptakan ruang (terbuka) publiknya.

Di dunia barat pada umumnya perencana kota (urban planner) atau perancang kota (urban designer) dapat menciptakan suatu ruang baru yang kemudian diisi dengan fungsi dan aktivitas yang ditetapkan. Atau dengan kata lain, ruang lebih bersifat formal dan utama.

Sedangkan di dunia timur, biasanya fungsi dan aktivitas yang muncul terlebih dahulu dan menjadi tradisi yang kemudian melekat pada suatu ruang.

Ruang adalah sesuatu yang fleksibel dan mengikuti fungsi atau aktivitas. Secara umum penyediaan ruang terbuka publik diawali dengan proses perencanaan dan perancangan terutama dalam konteks tata ruang. Merencanakan ruang terbuka publik yang baru tidak harus berarti menciptakan suatu fasilitas yang baru di tempat yang baru, namun bisa saja dengan memfasilitasi fungsi atau aktivitas yang sudah lebih dulu ada.

Dari sini saja kita dapat memahami bahwa pendekatan perencanaan dan perancangan ruang terbuka publik ala Amerika atau Eropa belum tentu dapat menciptakan ruang terbuka publik yang baik dan berhasil. Tidak sedikit kita lihat banyak taman-taman yang asri dan plaza-plaza yang menawan terlihat kosong tanpa pengunjung.

Atau dalam konteks Kota Metro, ruang terbuka publik yang hanya populer di dunia maya. Hanya sebagai latar belakang dari postingan selfie di Facebook atau Instagram Stories.

Sebaliknya tidak jarang kita jumpai sudut-sudut jalan yang sempit dan pelataran pertokoan atau pasar yang sederhana namun ramai dengan pengunjung dan berbagai aktivitasnya.

Karena itu boleh jadi pendekatan fungsi dan aktivitas sebagai dasar dalam penciptaan ruang terbuka publik lebih tepat untuk diterapkan di Indonesia. Keterpaduan dan kolaborasi antar berbagai fungsi dan aktivitas merupakan kunci utama dari ruang terbuka publik yang berkelanjutan (sustainable public open space).

Kesuksesan uang terbuka publik yang ideal dan multifungsi dinilai dari bagaimana fungsi dan aktivitas yang ada di dalamnya bisa bersinergi dan berkelanjutan. Sehingga biasanya ruang terbuka publik yang sudah memiliki nilai historis atau aktivitas warga yang sudah menjadi tradisi akan lebih mudah diterima dengan rasa kedekatan dan kepemilikan yang tinggi oleh warga kota. Dan, kemudian tentunya harus didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang berkualitas serta akses pencapaian yang baik pula.

Bila kesemuanya tidak ada, maka bisa jadi diperlukan suatu pengelolaan atau manajemen yang khusus didedikasikan untuk merawat fasilitas ruang terbuka publik tersebut dan menciptakan serta mengembangkan fungsi dan aktivitas yang menjadi daya tarik bagi warga. Misalnya, melalui kerjasama antara pemerintah dan komunitas.

Saat ini sudah banyak pemerintah kota yang mulai berbenah dan menyediakan ruang-ruang terbuka publik seperti yang dideskripsikan di atas. Contohnya antara lain Taman Bungkul, Surabaya yang mempunyai nilai historis religi yang cukup tinggi sebelum kemudian dibenahi dan dibangun dengan fasilitas publik yang lebih lengkap.

Saat ini Taman Bungkul mewadahi aktivitas bermain untuk anak-anak, olahraga dan hobi, serta kesenian. Taman ini juga dilengkapi dengan fasilitas teknologi informasi dan tempat pedagang kaki lima yang tertata.

Aktivitas-aktivitas ini bersinergi dan melengkapi fungsi dan aktivitas awalnya yang merupakan tempat ziarah atau yang sekarang menjadi wisata religi. Kota-kota lain di Indonesia pun tak kalah berbenah. Ada Alun-Alun Kota di Bandung, Taman RPTRA di Jakarta, dan sebagainya.

Sedangkan untuk di Provinsi Lampung, pemerintah daerah pun mulai membenahi ruang-ruang terbuka publik misalnya seperti yang dilakukan di Kota Metro ini.

Memang dalam pelaksanaannya, ada yang berhasil namun ada juga yang belum memahami prinsip utama dalam perencanaan dan perancangannya. Sehingga, banyak menemui hambatan dan mendapatkan hasil yang kurang optimal.

Oleh karena itu perlu adanya komitmen dan upaya yang lebih serius dari Pemerintah Kota Metro dan pihak lain yang terkait untuk menempatkan ruang terbuka publik pada prioritas yang lebih tinggi dalam pembangunan kota yang berkelanjutan.  (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)