Saum dan Akhlak - RILIS.ID
Saum dan Akhlak
[email protected]
Kamis | 24/05/2018 06.00 WIB
Saum dan Akhlak
Asrian Hendi Caya, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Lampung; Peneliti Pusat Studi dan Informasi Pembangunan

RILIS.ID, – SAUM tidak cukup hanya dengan menahan lapar dan haus. Tapi juga harus mampu mengendalikan hawa nafsu dengan melakukan perbuatan yang akhlaqul karimah. Maka itu saum diwajibkan untuk menjadikan manusia ber-akhlaqul karimah. Bukankah Nabi sendiri bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak (innama bu’istu liutammima maqarimal akhlaq-Bukhari dalam Adabul Mufrad: 273).

Banyak hadis yang mengaitkan saum dengan anjuran berbuat baik dan menjauhi perbuatan tercela. ”Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah Ta’ala tidak peduli dia meninggalkan makan dan minumnya.” (Shahih HR. Al-Bukhari No. 1804).

Puasa adalah tameng, maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah dia berkata kotor dan janganlah bertengkar dengan mengangkat suara. Jika dia dicela dan disakiti maka katakanlah saya sedang berpuasa.” (Shahih, HR. Muslim).

Jadi saum sangat kental dengan pengendalian diri yang berwujud perilaku yang santun, lemah lembut, dan bijaksana. Siapa yang tidak suka dengan perilaku yang akhlaqul karimah?

Ikrar dua kalimat syahadat, yaitu ’asyhadu an laa ilaaha illall?h wa asyhadu anna Muhammad Rasuulull?h’ (Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah), pada hakekatnya adalah komitmen untuk berperilaku  sebagaimana diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah. 

Dengan, mengakui Allah kita berserah diri pada-Nya dan mengikuti semua aturan-Nya. Dengan mengakui Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya maka kita menjadikannya tauladan (uswatun hasanah). Itulah sebabnya rukun Islam yang pertama yaitu syahadat. Dan wajib setiap muslim mengikrarkannya sebagai komitmen yang mengikat baik perilaku maupun pemikiran.

Begitu juga dengan salat. Dirikanlah salat untuk mengingat Allah (aqimis shalati li zikri – Qs 20: 14 ). Dengan ingat Allah maka kita merasa dalam pengawasan-Nya sehingga kita akan menjaga perilaku sehingga berbuat dengan akhlaqul karimah.

Salat mencegah dari perbuatan fahsya dan mungkar (asshalah tanha anil fahsya iwal munkar – Qs 29: 45). Dengan demikian, salat melatih dan membentuk perilaku yang menghindari kerusakan dan kekacauan serta membangun disiplin. Juga ketekunan dan kesabaran.

Zakat adalah bentuk kepedulian yang dipaksakan. Karena di dalam kekayaan kita ada hak orang tidak mampu. Dengan zakat diharapkan kita peduli pada sesama yang mengalami kekurangan dan keterbatasan. Itulah sebabnya menafkahkan harta yang dicintai merupakan perbuatan baik yang dimuliakan Allah. Kita tahu bahwa banyak orang yang sangat membutuhkan pertolongan. Pertolongan tidak diminta tapi diberikan, itulah yang menjadi kebaikan dalam akhlaqul karimah.

Lebih-lebih haji. Mengingat haji adalah pertemuan akbar umat Islam seluruh dunia dengan beragam latarbelakang budaya, kelas sosial, pendidikan, dan umur maka akan banyak pergesekan dan perbenturan kebiasaan dan tradisi. Tentu ini membutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk menerima perbedaan. Belum lagi kepadatan jamaah yang ingin melakukan hal sama pada tempat yang seringkali terbatas sehingga membutuhkan toleransi dan keikhlasan yang luar biasa. Di sinilah akhlak mengedepan. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa misi beliau adalah merubah akhlak. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID