Saum dan Alquran - RILIS.ID
Saum dan Alquran
[email protected]
Sabtu | 26/05/2018 06.00 WIB
Saum dan Alquran
Asrian Hendi Caya, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Lampung; Peneliti Pusat Studi dan Informasi Pembangunan

RILIS.ID, – SAUM dan Alquran punya kaitan yang erat. Alquran diturunkan pada bulan Ramadan. ”(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (Qs 2:185). Dan di dalam Alquran perintah saum dimuat. ”Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikum al-shiyam” (Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa - Qs 2:183).

Saum dan Alquran merupakan rahmat Allah bagi manusia. Keduanya akan menolong manusia yang mengagungkannya. Rasulullah SAW bersabda, ”Puasa dan Alquran keduanya akan memberikan syafaat kepada seorang hamba di hari kiamat, puasa berkata, ’Wahai Rabb, aku telah mencegahnya dari makanan dan nafsu syahwat di siang hari, maka izinkan aku memberi syafa’at padanya,’ dan Alquran berkata, ’Aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka izinkan aku memberi syafaat padanya.” Rasulullah melanjutkan, “Maka keduanya diizinkan memberi syafaat”[Musnad Ahmad No. 6589]. Ternyata Alquran dan saum saling berlomba bersaksi akan kemuliaan manusia dan meminta kesempatan untuk memberikan syafaat. Apakah kita tidak termotivasi untuk memuliakan saum dan Alquran?

Bahkan Nabi Muhammad SAW mengokohkan dan memantapkan Alquran setiap Ramadan dalam bimbingan Jibril. ”Dahulu Jibril mendatangi dan mengajarkan Alquran kepada Nabi shalallahu ’alayhi wa sallam setiap tahun sekali (pada bulan Ramadan). Pada tahun wafatnya Rasulullah shalallahu ’alayi wasallam Jibril mendatangi dan mengajarkan Alquran kepada beliau sebanyak dua kali (untuk mengokohkan dan memantapkannya)” (HR. Bukhari No. 4614). Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW setiap bulan Ramadan berinteraksi dengan Alquran.

Apakah kita tidak tergerak untuk menegakkan sunah dengan berinteraksi dengan Alquran selama bulan Ramadan. Bukankah Allah memerintahkan untuk mengikuti Rasulullah. ”Apa yang diberikan Rasul padamu, ikutilah. Dan apa yang dilarang oleh Rasul maka jangan dikerjakan, berhentilah” (QS. Al-Hasyr: 7). Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (QS. 4:80).

Membaca Alquran itu sendiri banyak kebaikannya. ”Bacalah Alquran, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya” (HR. Muslim dari Abu Umamah). “Siapa yang membaca satu huruf dari Alquran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan ’alif lam mim’ satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf”(HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, No. 6469). ”Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala salat sepanjang malam” (HR. Ahmad dan disahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, No. 6468).

Imbalan ini akan berlipat ganda pada saat saum Ramadan. Akankah kita menyia-nyiakan kesempatan baik ini, dengan bermalas-malasan berinteraksi dengan Alquran.  Semoga dengan saum kita diberi hidayah untuk cinta dan mendawamkan berinteraksi dengan Alquran. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID