Soal Singkong di Debat Pilgub - RILIS.ID
Soal Singkong di Debat Pilgub
lampung@rilis.id
Selasa, 2018/04/10 06.01
Soal Singkong di Debat Pilgub
Isbedy Stiawan ZS, Budayawan

Soal singkong yang kemudian ditambah satu kata menjadi singkong goreng dalam Debat Pilgub Seri 1 Sabtu (7/4/2018) malam, masih menyisakan kenangan dan "tertawaan".

Padahal, sekiranya Arinal Djunaidi tampil santai, kata singkong itu bisa ia lanjutkan "mahal" atau lainnya. Bahkan, bisa melempar bola salju kepada petahana. Tetapi, itu tak ia lakukan. Begitu pun saat lemparan kata e-commerce lepas tanpa dijawab.

Pada sesi saling bertanya, tampaknya yang paling menarik antara Sutono dan Ridho. Keduanya boleh dibilang sudah taraf cekatan.

Kemudian Nunik dianggap primadona, ia menjadi ratu panggung debat dan berita (advertorial?) mewarnai beberapa media lokal. Bupati Lampung Timur nonaktif itu lebih kerap "membantu" pasangannya pada seri 1 Debat Pilgub yang ditaja KPU Provinsi Lampung dengan moderator Juwendra Asdiansah.

Sebetulnya, debat publik para kandidat Pilgub tak ada yang bisa diambil sebagai acuan untuk masyarakat memilihnya atau tidak. Atau tidak bisa dijadikan ukuran, yang baik bermain di panggung debat baik pula kepemimpinannya kelak. Begitu pun sebaliknya, yang kurang pas di panggung belum tentu tak mampu mengendalikan pemerintahan nantinya.

Pasalnya, masyarakat sudah punya pilihan jauh-jauh hari. Memilih pasangan calon (paslon) adalah soal hati, persoalan yang sangat subyektif dan privasi. Boleh pula lantaran sudah saling menanam kebaikan, menerima dan memberi jasa. Bisa juga karena kedekatan emosi, keluarga, mempesona, simpatik, dan sudah kadung "jatuh cinta" pada paslon.

Pada sisi lain, mungkin karena sudah menerima kebaikan dari paslon. Misal, mendapat "titipan sembako" dan lain sebagainya. Seperti adagium masyarakat: siapa yang memberi lebih besar, dialah yang dipilih. Sikap ini memang memprihatinkan, namun begitulah kenyataan di lapangan.

Kemajemukan masyarakat ini tak mudah dimobilisasi ataupun digiring. Bahkan, mungkin kepada calon kepala daerah (kada) yang notabene kesandung hukum: bisa saja terpilih sebab keharuan semata.

Pada bagian lain, petahana mendapat keuntungan yang lebih. Ia sudah jelas telah melakukan. Ia juga memiliki "tangkisan" jika diserang. Karena itu, menyaksikan tayangan debat pilgub di Novotel, paslon petahana lebih percaya diri. Dari kehadirannya di ruangan yang buncit, tetap bisa menaburkan senyuman ke khalayak. Bisa dibayangkan jika paslon lain datang belakangan, mungkin kikuk dan barangkali pula menerima gemuruh undangan.

Itu soal keuntungan petahana. Namun bukan berarti yang lain tidak mendapat keuntungan. Pasti ada diuntungkan dalam suatu ruang dan waktu seperti itu. Saya misalkan dalam sebuah panggung pertunjukan, aktor harus bisa memanfaatkan ruang dan waktu di atas panggung. Harus pandai memanfaatkan dan bisa memainkannya.

Dari debat publik setidaknya masyarakat bisa meraba atau mengira-ngira siapa yang layak menjadi pemimpin kita; entahkah dari ketenangan, kestabilan menjaga emosi, mengurai masalah saat ada permasalahan (soal), dan seterusnya.

Dalam debat publik ini juga jangan diartikan bahwa inilah bagian terkecil dari bangunan pemerintah. Oleh sebab itu, tak perlulah serius-serius amat, tegang, apalagi sampai hendak menerkam lawan politik.

Joke-joke segar perlu juga ditabur, sindir-menyindir yang cerdas diperlukan untuk mencairkan suasana. Alangkah indah menonton debat Pilkada Jabar di sebuah televisi swasta. Bagaimana santai dan kocaknya Dedy Mizwar sehingga membuat suasana jadi mengalir.

Saya kira pemandu debat Pilkada Lampung Seri 1, Juwendra, sudah tepat. Ia netral, juga tegas, dan nyantai.

Bagaimana pun pemirsa atau masyarakat Lampung menginginkan tontonan menarik dan menghibur. Soal visi misi itu bagian lain. Masyarakat, kadang tak mengindahkan visi misi, karena yang dibutuhkan adalah kerja nyata: kesejahteraan, kenyamanan, keamanan, adanya lapangan kerja.

Persoalan-persoalan kemasyarakatan inilah yang mesti jadi primadona setiap pemimpin. Kemudian masyarakat perlu kenyamanan, maka keamanan harus ditingkatkan. Untuk meningkatkan keamanan, angka pengangguran mesti diminimalisasikan. Caranya buka lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Setiap perusaahan mengutamakan putra daerah untuk dipekerjakan. Ini bukan berarti pendatang atau perantau tak mendapat tempat. Apalagi mengutamakan pekerja asing.

Lalu manfaatkan dana CSR (corporate social responsibility) bagi kemashlahatan masyarakat. Setiap pembangunan harus ada mata rantai bagi kemakmuran rakyat. Bukan cuma buat rakyat golongan elit atau kaya. Misal, pembangunan flyover itu kiranya menguntungkan pemilik kendaraan (roda empat dan roda dua), sementara masyarakat awam hanya jadi penonton.

Sekiranya pemanfaatan lahan kosong di dekat flyover bagi masyarakat bawah, mungkin ada yang bisa merasakan dampak dari pembangunan. Ini hanya misal.

Belum lagi soal senibudaya, ekonomi kreatif, pariwisata yang masih perlu dipikirkan dan diperjuangkan. Ini tugas pemimpin periode berikut, siapa pun dia.

Debat kandidat, seperti juga kampanye, adalah ajang bagi-bagi janji. Para paslon akan berjanji jika terpilih akan begini dan begitu. Intinya: "berencana" mensejahterakan rakyat. Sebab rencana, bisa saja tak terpenuhi kelak.

Saya merindukan apa yang dijanjikan pada kampanye dan debat publik bisa terealisasi saat memimpin. Terutama pemenuhan harapan masyarakat banyak. Bukan pembangunan fisik perkotaan hingga harus berhutang.

Bukan juga soal perekonomian semata, tetapi mengabaikan masalah pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan, menghidupkan kebudayaan, meramaikan kegiatan spiritual (keagamaan), serta disiplin di lingkungan pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian, bukan yang diharapkan masyarakat sekadar gimik melainkan ayunan kaki, tangan, serta tindakan nyata.

Siapapun yang menjadi pemimpin di Lampung ini, jangan lagi kita mendengar ucapan pesimistis seperti ini: "kita tetap begini saja." Tetapi, ya akan tetapi, kita merindukan ucapan bahwa siapa pun yang memimpin kelak, nasib masyarakat harus "lebih dari sebelumnya" yaitu lebih sejahtera, makmur, berdaya saing, dan lebih lainnya yang positif dan progresif.

Mari menonton Debat Pilgub Lampung penuh keriangan. Salam. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)