Surat dari Papua untuk Lampung: 5 Tahun SMP Ini tak Upacara Bendera - RILIS.ID
Surat dari Papua untuk Lampung: 5 Tahun SMP Ini tak Upacara Bendera
El Shinta
Rabu, 2018/03/14 11.13
Surat dari Papua untuk Lampung: 5 Tahun SMP Ini tak Upacara Bendera
Setelah lima tahun, siswa SMPN 1 Waris, Papua akhirnya melaksanakan upacara bendera untuk pertama kali, Senin (12/3/2018). FOTO: ISTIMEWA/Mayor Inf Imir Faishal

RILIS.ID, – Bertugas di perbatasan Indonesia-Papua Nugini (PNG) tak mudah. Seringkali anggota satuan tugas pengamanan perbatasan (Satgas Pamtas) RI-PNG terenyuh melihat kondisi warga di sana. Tak terkecuali Komandan Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 121/MK Mayor Inf Imir Faishal. Dari Papua, lelaki asal Jl. Sultan Jamil, Kedaton, Bandarlampung ini menuliskan kisahnya. Sebuah "surat" dari Papua untuk Lampung.
===

TINGGAL di Provinsi Lampung yang merupakan pintu gerbang Pulau Sumatera sudah sepatutnya disyukuri. Geliat pembangunan dan kemudahan menempuh pendidikan di Bumi Ruwai Jurai bisa dirasakan bahkan sejak menginjak umur empat tahun.

Bangunan sekolah yang kokoh, fasilitas penunjang belajar yang lengkap, hingga ritual upacara bendera setiap Senin pagi selalu dilaksanakan. Sepatutnya masyarakat Lampung berterima kasih kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa.

Sebab, pemandangan tersebut tidak akan terlihat di Papua. Di sini, tak ada anak-anak sekolah yang berbaris tertib di lapangan dengan menghadap ke satu tiang menjulang tinggi. Tidak ada bendera merah putih yang didekap dan dikibarkan dari tangan-tangan penerus bangsa. Pun lagu Indonesia Raya yang mengiringi sang saka yang pelan-pelan naik dan berkibar di puncak tiang. Karena memang tak ada upacara bendera. Bahkan sudah lima tahun.

Padahal, upacara bendera yang sudah menjadi pemandangan biasa siswa di kota-kota besar bukan hanya seremonial atau penggugur kewajiban agar lebih terlihat sekolah. Namun, ada makna mendalam yang memiliki arti penting bagi bangsa ini.

Rasa cinta dan nasionalisme memang tak hanya bisa diukur dari sebanyak apa melakukan upacara bendera merah putih. Ini bentuk ritual penghargaan terhadap pahlawan Indonesia atas jasanya memerdekakan Indonesia dari belenggu tangan-tangan penjajah dan bisa menjadi fondasi jati diri penerus generasi bangsa Indonesia.

Kondisi di Bumi Cendrawasih inilah yang akhirnya menggerakan hati kami, Satgas Pamtas RI PNG Yonif 121/MK. Tak hanya menjaga perbatasan negara, tapi ada juga tugas yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Adalah SMPN 1 Waris di Distrik Waris Kabupaten Keerom, Papua, yang membuat kami merasa prihatin. Sudah lima tahun sekolah itu tak pernah menggelar upacara bendera. Sebab, SMPN 1 Waris hanya memiliki 82 siswa yang diajar 3 orang guru, 1 kepala sekolah, 1 staf tata usaha dan 1 orang penjaga sekolah. Tingkat kehadiran siswa setiap harinya tak lebih dari 30 orang.

Berangkat dari rasa tanggungjawab moral untuk menghidupkan dan memulai kembali upacara bendera yang ’mati suri’, Satgas Yonif 121/MK mulai melakukan pendekatan dengan pihak sekolah dan Kepala Kampung Kalibom Distrik Waris, Andrianus Tawa, yang merupakan salah satu kampung terdekat dari sekolah.

Rencana itu pun disambut baik. Pada Senin 12 Maret 2018, Satgas Yonif 121/MK dan Kepala Kampung Kalibom Bapak Andrianus Tawa serta pihak sekolah menyelenggarakan upacara bendera di SMPN 1 Waris untuk pertama kalinya  setelah lima tahun terakhir. Bertindak sebagai Pembina Upacara, Komandan Pos (Danpos) Kalibom Satgas Pamtas Yonif 121/MK Letda Inf Elyas Yakub.

Ada empat hal penting yang saya sampaikan dalam amanat yang diwakili Letda Inf Elyas Yakub. Bahwa pelaksanaan upacara bendera ini melatih kedisiplinan dan kesabaran, menumbuhkan rasa cinta tanah air, dan menanamkan jiwa nasionalisme, serta menghormati jasa para pahlawan.

Kepala SMPN 1 Waris, Bakri, kepada kami membenarkan sekolah yang dipimpinnya sejak 2012 itu tidak pernah menyelenggarakan upacara bendera hingga 2017. Ia karenanya berterimakasih kepada Satgas Yonif 121/MK yang telah bekerjasama untuk melaksanakan upacara di SMPN 1 Waris dan berharap satuan ini bisa terus membantu pihak sekolah. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)