Tan Malaka, Pendiri Bangsa yang Terlupa (2/Habis) - RILIS.ID
Tan Malaka, Pendiri Bangsa yang Terlupa (2/Habis)
Rilis.id
Senin | 26/03/2018 11.31 WIB
Tan Malaka, Pendiri Bangsa yang Terlupa (2/Habis)
Tan Malaka

Sejak tinggal di Bayah pada Juni 1943, Tan Malaka mencatat setidaknya 500 orang tewas setiap hari selama masa pembangunan jalan kereta api ini. Sampai selesainya pembangunan, lebih dari 90 ribu orang tewas. Operasi penambangan batu baranya sendiri menyajikan kisah pedih serupa. Untuk penambangan yang dimulai 1 April 1943 ini, didatangkan 20 ribu pekerja dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sejumlah perempuan didatangkan untuk menjadi budak nafsu serdadu Jepang. Ribuan orang tewas selama operasi penambangan di Bayah yang saat itu terkenal dengan wabah kudis, disentri, dan malaria.

Rakyat Banten Selatan sendiri tidak tinggal diam. Abu Nasech, tokoh ulama Banten Selatan, saat itu mulai menyadarkan rakyat. Abah Salim, yang pernah bekerja sebagai mandor pembangunan jalan kereta api, menuturkan bagaimana Abu Nasech, setiap bertemu dengan dirinya, selalu membisikkan, “Jangan mau ditindas dan diperalat oleh kaum penjajah, bila perlu lawan.”

Di Bayah, Tan Malaka kos di rumah warga, menghuni gubuk bambu kecil. Tan yang berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sering berkeliling Bayah. Bahkan, ia mengunjungi Pulo Manuk yang sangat ditakuti karena menjadi pusat endemi kudis, disentri, dan malaria yang menyebabkan banyak orang meninggal dunia. Tan Malaka kerap berhubungan dengan para romusha itu. Ia melihat, setiap bulan setidaknya 500 romusha meninggal dunia akibat penyakit dan kelaparan. Tidak mengherankan, kuburan para romusha selama pendudukan Jepang mencapai luas 58 hektare.

Tan Malaka tidak bisa berdiam diri melihat nasib bangsanya. Ia kerap ikut keluar-masuk terowongan penambangan. Berjumpa para pekerja dan menasihati mereka tentang pentingnya menjaga kesehatan. “Kita dapat mempraktikkan rasa tanggung jawab terhadap golongan bangsa Indonesia yang menjadi korban militerisme Jepang,” kata Tan Malaka.

Selain mendekati para pekerja, Tan juga berjuang memperbaiki nasib para buruh tambang melalui jalur manajemen. Tan Malaka berbicara langsung dengan Direktur Bayah Kozan, Kol. Tamura, untuk memperbaiki kesejahteraan buruh tambang. Tetapi, upayanya tak banyak digubris. Para buruh dibayar sangat murah. Upah mereka hanya 40 sen per hari, ditambah 250 gram beras. Padahal uang 40 sen hanya setara dengan harga satu buah pisang.

Namun demikian, Tan Malaka, yang separuh hidupnya dihabiskan dalam pelarian di luar negeri, tetap berupaya memperbaiki kehidupan para romusha. Tan menggagas pembuatan dapur umum yang bisa menyediakan makanan untuk 1.000 buruh. Bersama masyarakat dan para buruh, Tan juga mendorong pembangunan rumah sakit di Cikaret, Bayah. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan pangan, Tan membuka kebun sayuran dan buah-buahan di Tegal Lumbu, berjarak 30 kilometer dari Bayah.

Tan Malaka yang juga pemain bola ini menggagas pula pembentukan klub sepak bola bernama Pantai Selatan dan lapangan bola di Bayah. Tan Malaka biasa bermain sebagai pemain sayap, meski sebenarnya lebih sering menjadi wasit saja. Ia membawa klubnya mengikuti kejuaraan di Rangkasbitung. Selesai pertandingan, biasanya Tan mentraktir para pemainnya.

Nama Pantai Selatan juga digunakan Tan untuk grup sandiwara yang didirikannya. Grup sandiwara ini menghibur warga dan buruh tambang. Grup sandiwara ini sering mementaskan lakon tentang nasib para buruh tambang. Tetapi pernah juga memainkan lakon perjuangan seperti Hikayat Hang Tuah, Diponegoro, dan Puputan Bali.

Rupanya, klub sepak bola dan grup sandiwara yang namanya sama itu bisa dikembangkan Tan Malaka berkat kiprahnya di organisasi sosial yang membantu tentara bentukan Jepang, Pembela Tanah Air (PETA). Tan ditunjuk sebagai Ketua Badan Pembantu Keluarga PETA. Kiprahnya inilah yang membuatnya memiliki jaringan di Banten. Terbukti, pada Juni 1945, Iljas Hussein alias Tan Malaka ditunjuk mewakili Banten dalam pertemuan di Jakarta oleh Badan Pembantu Keluarga PETA Rangkasbitung. Pertemuan yang gagal dilaksanakan itu sebenarnya dimaksudkan untuk mempersatukan pemuda Jawa.

Tan Malaka kembali ke Bayah. Saat itu, Jepang mengumumkan rencana untuk memotong jatah ransum para buruh. Tan Malaka tidak bisa menerima keputusan ini. Ia berpidato di muka umum. Pidato Tan Malaka rupanya membuat para romusha mogok kerja dan melarikan diri dari penambangan di Gunung Madur. Keputusan pemotongan ransum itu kemudian dibatalkan, tetapi Kempetai (Polisi Militer Jepang) penasaran dengan sosok Iljas Hussein alias Tan Malaka. Namun, penyelidikan Kempetai terhadap Tan Malaka kemudian terhenti karena kedudukan Jepang di Indonesia kian terancam.

Pada suatu ketika, di bulan September 1944, Soekarno dan Hatta berkunjung ke Bayah. Bung Karno berpidato tentang Jepang yang akan memberikan kemerdekaan pada Indonesia. Indonesia dan Jepang yang disebut sebagai saudara tua itu berjuang untuk mengalahkan Sekutu. Para buruh tambang diminta Bung Karno untuk membantu Jepang dengan meningkatkan produksi batu bara.

Tan yang saat itu menjadi panitia penyambutan, pada sesi tanya-jawab, mengajukan pertanyaan kepada Soekarno, “Apakah tidak lebih tepat kemerdekaan Indonesialah kelak yang lebih menjamin kemenangan terakhir?” Bung Karno menjawabnya dengan menyatakan, keharusan menghormati jasa Jepang menyingkirkan tentara Belanda dan Sekutu. Tetapi, Tan memandang rakyat akan berjuang dengan semangat lebih besar membela kemerdekaan yang ada daripada yang dijanjikan. Perdebatan itu kemudian dihentikan. Tetapi, Tan Malaka memendam kekecewaan karena Bung Karno menjalin kerja sama dengan Jepang, yang kekejamannya ia saksikan di Bayah.

Demikianlah, Tan Malaka mengisi sebagian kisah hidupnya di kota kecamatan kecil di Banten Selatan, Bayah. Di sana ia belajar bagaimana keadaan sosial, ekonomi, budaya dan politik masyarakat. Ia bercengkerama dengan rakyat kecil dan menggerakkan mereka untuk mengubah nasibnya melalui perjuangan kemerdekaan. Di Bayah, konon Tan Malaka sempat membuat tugu berwarna putih, sebuah tugu tanpa nama, seperti dirinya sebagai Bapak Bangsa yang nyaris terlupakan. Meski nama bisa dilupakan, namun jejak langkahnya sebagai pejuang kemerdekaan dan pembela hak-hak kaum tertindas tidak bisa dihapus dari sejarah kelahiran Republik. (*)

 

Sumber: Yudi Latif, Mata Air Keteladanan


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID