Tantangan Industri Kreatif Lampung - RILIS.ID

Tantangan Industri Kreatif Lampung
[email protected]
Senin, 2018/04/09 06.01
Tantangan Industri Kreatif Lampung
Dr. Faurani Santi, Direktur Pascasarjana Universitas Saburai Bandarlampung

SALAH satu kandidat dalam debat publik calon gubernur-wakil gubernur Lampung di Hotel Novotel, Sabtu (7/4/2018) malam, memaparkan ekonomi kreatif dan bagaimana cara mengembangkannya.

Apa sebenarnya ekonomi kreatif? Menurut John Howkins (2001) dalam bukunya How People Make Money from Ideas, ekonomi kreatif berarti penekanan pada nilai tambah dari ide dan kreativitas manusia (the creation of value as a result of ideas).

Sedangkan UNCTAD (2010) menyatakan, ekonomi kreatif merupakan suatu konsep baru yang memayungi konsep lainnya, yang populer di tahun-tahun kemudian sebagai industri kreatif.

Dengan begitu, industri kreatif disepakati sebagai industri yang berasal dari kreativitas, keterampilan, dan bakat individu. Yaitu mereka yang memiliki potensi, kekayaan, dan penciptaan lapangan kerja melalui pembangkitan dan eksploitasi kekayaan intelektual dan konten.

Penekanan industri kreatif sebagai kegiatan yang bertumpu pada human capital ditandai oleh penghargaan yang tinggi terhadap kekayaan intelektual (intellectual property). Ini artinya ide, gagasan, pemikiran yang melahirkan berbagai inovasi sebaiknya dibekali prasarana, yang dapat mengakses pasar secara langsung yang umumnya diperoleh melalui pemanfaatan teknologi digital.

Mengapa digital? Karena dengan perkembangan teknologi digital memungkinkan berbagai informasi maupun pasar bisa dengan mudah dijangkau atau diakses. Kita lihat bagaimana anak-anak muda zaman now dengan gampangnya menciptakan kreasi hanya dengan cukup mengakses berbagai informasi.

Begitu pula ibu-ibu rumah tangga yang selama beberapa tahun terakhir meningkat trend-nya sebagai bagian dari pelaku industri kreatif. Hal ini juga berkat adanya perkembangan teknologi informasi.

Di sini saya menekankan ekonomi kreatif bukan sekadar memberi pelatihan-pelatihan (yang entah dalam bentuk pelatihan apa). Tetapi juga infrastruktur yang memadai, khususnya infrastruktur informasi. Dengan kelancaran informasi tersebut akan memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menggali sebanyak mungkin informasi, yang bisa melahirkan berbagai ide atas dasar perilaku manusia yang kerap penasaran akan sesuatu hal (curious nature of human being).

Selain pemanfaatan teknologi kata kunci dalam industri kreatif yang kerap dipakai adalah human capital. Dengan kata lain, masyarakat harus dihargai sebagai sumber daya utama dari ide/gagasan/inovasi. Inilah yang merupakan output dari human capital tersebut.

Dalam hal ini pemerintah pun harus menyadari penghargaan tertinggi dari inovasi yang dihasilkan/output dari human capital harus dan mutlak dilakukan. Bukan hanya slogan yang kerap digaungkan sebagai suatu isu kampanye.

Untuk itu upaya-upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah berkaitan dengan penghargaan, khususnya penghargaan terhadap kekayaan intelektual (intellectual property), merupakan agenda penting yang patut dipertimbangkan.

Kekayaan intelektual bukan saja berkaitan dengan masalah penghargaan, tetapi juga menjadi isu penting dalam menyelamatkan gagasan atau inovasi seseorang. Sekaligus menyelamatkan budaya sebagai embrio dari lahirnya ide-ide tersebut khususnya di Provinsi Lampung.

Beberapa rekomendasi yang dapat diusulkan terkait dengan kebijakan pengembangan industri kreatif di Lampung adalah, pertama, menyediakan tempat atau fasilitas khusus yang memadai sebagai pusat industri kreatif. Misalnya, gedung/tempat pusat kesenian dan budaya, konser, pameran (exhibition) yang terintegrasi lengkap dengan fasilitas yang mudah diakses dan digunakan oleh seluruh golongan mayarakat.

Kedua, meningkatkan akses budaya di lingkungan digitalisasi di masyarakat melalui peningkatan infrastruktur internet dan broadband di seluruh wilayah.

Ketiga, meningkatkan produksi konten digital kreatif seperti pengembangan start-up dan produk-produk inovasi yang menggunakan atau menciptakan konten digital.

Keempat, mengembangkan keterampilan para pelaku industri kreatif melalui berbagai program atau even yang berskala nasional maupun internasional secara rutin. Even itu tidak saja terkait dengan ajang promosi budaya, seni, maupun produk. Tetapi juga termasuk penyelanggaran workshop pengembangan atau pengenalan teknologi industri baru dan terkini.

Kelima, memperkuat kemitraan sektor kreatif, dengan mengajak pihak swasta baik lokal maupun asing serta BUMN sebagai mitra kerja di bidang pengembangan produk maupun bantuan kemudahan dalam pendanaan. Khususnya yang terkait dengan infrasruktur, promosi, dan pemasaran.

Penyederhanaan undang-undang hak cipta yang terkait dalam proses pengurusan, dengan penyederhanaan proses akan meringankan berbagai kesulitan yang dihadapi oleh seniman dan pelaku-pelaku di sektor kreatif.

Semua itu memungkinkan untuk dilakukan apabila dilandasi program pemerintah yang kreatif dan inovatif, yang dilahirkan oleh pemimpin-pemimpin yang kreatif dan mau berdaptasi dengan tuntutan zaman. Sekali lagi human capital and creation adalah kunci utama dari tumbuhnya suatu masyarakat industri termasuk peyelenggara pemerintahan. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)