Terbukti Suap Mustafa, Simon dan Budi Divonis Setahun Penjara - RILIS.ID
Terbukti Suap Mustafa, Simon dan Budi Divonis Setahun Penjara
[email protected]
Senin | 11/11/2019 23.42 WIB
Terbukti Suap Mustafa, Simon dan Budi Divonis Setahun Penjara

RILIS.ID, JAKARTA – Simon Susilo, pemilik PT Purna Arena Yudha (PAY) divonis 1 tahun penjara dan denda Rp 50 juta subsider 2 bulan kurungan. Dia dinyatakan bersalah menyuap Mustafa saat menjabat Bupati Lampung Tengah (Lamteng).

”Menyatakan terdakwa Simon Susilo dan Budi Winarto telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara berlanjut,” ujar Hakim Ketua Ni Made Sudani saat membacakan amar putusan di Pengadilan Tipikor Jakarta, seperti yang dikutip dari detik.com, Senin (11/11/2019).

Selain Simon, Direktur PT Sorento Nusantara Budi Winarto alias Awi juga divonis setahun tahun penjara dengan denda Rp50 juta subsider 2 bulan kurungan. Budi juga dinyatakan bersalah menyuap Mustafa. Pembacaan vonis Simon dan Budi dilakukan secara bersamaan.

Simon dan Budi bersalah melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a UU Tipikor Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Simon dan Budi Winarto memberikan uang secara bertahap pada Mustafa melalui Taufik Rahman selaku Kepala Dinas Bina Marga Lamteng. Simon memberikan uang Rp7,5 miliar dan Budi memberikan uang Rp5 miliar.

Mustafa awalnya memerintahkan Taufik Rahman untuk mengumpulkan sejumlah uang dari pengusaha di Lamteng untuk maju sebagai calon Gubernur Lampung. Selain itu, Mustafa disebut jaksa juga mempunyai kebutuhan untuk memenuhi permintaan anggota DPRD Lamteng terkait pengesahan APBD dan persetujuan pinjaman PT Sarana Multi Infrastruktur.

Menindaklanjuti perintah itu, Taufik memerintahkan beberapa stafnya di Dinas Bina Marga Lamteng antara lain Aan Riyanto, Rusmaladi alias Ncus, dan Andri Kadarisman untuk mengumpulkan sejumlah uang atau commitment fee dari beberapa rekanan di antaranya Simon Susilo dan Budi Winarto.

Taufik diyakini hakim menawarkan beberapa proyek jalan di Lamteng kepada pengusaha termasuk Simon dan Budi Winarto. Tapi pengusaha diminta commitment fee jika mendapatkan proyek tersebut.

Atas permintaan itu, Simon dan Budi Winarto memberikan uang Rp12,5 miliar secara bertahap pada Taufik Rahman. Setelah menerima uang itu, Taufik melaporkan kepada Mustafa dan menyerahkan uang itu kepada anggota DPRD Lamteng.

Rincian uang yang diberikan pada anggota DPRD Lamteng di antaranya untuk Ketua Fraksi PDIP DPRD Lamteng Raden Zugiri sebesar Rp1,5 miliar; Wakil Ketua DPRD Lamteng Natalis Sinaga (Rp2 miliar); anggota fraksi Golkar DPRD Lamteng Bunyana (Rp2 miliar); anggota fraksi Gerindra DPRD Lamteng Zainuddin (Rp1,5 miliar); Ketua DPRD Lamteng Achmad Junaidi (Rp1,2 miliar).

”Menimbang, pertimbangan hukum di atas maka perbuatan Simon Susilo dan Budi Winarto alias Awi dapat dikualisir sebagai unsur perbuatan memberi atau memberikan sesuatu,” kata hakim.

Majelis hakim juga menolak justice collaborator (JC) yang diajukan Simon Susilo dan Budi Winarto karena tidak memenuhi syarat Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA). Hal tersebut hakim sependapat dengan jaksa KPK.

Atas vonis tersebut, jaksa KPK mengaku sedang pikir-pikir untuk upaya banding. Sementara, Simon dan Budi Winarto menerima putusan tersebut.(*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID