Terkikisnya Pertanian di Negeri Agraris - RILIS.ID
Terkikisnya Pertanian di Negeri Agraris
[email protected]
Selasa | 24/09/2019 13.56 WIB
Terkikisnya Pertanian di Negeri Agraris
M. Syanda Giantara Ali K.M., S.P. (Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lampung). Ilustrasi : RILISLAMPUNG.ID /Kalbi Kardo

HARI ini, 24 September 2019, merupakan hari yang spesial untuk para petani, buruh tani, pelaku usaha tani, mahasiswa pertanian dan elemen masyarakat lainnya. Ini karena Hari Tani Nasional.

Sebagai Negara Agraris, pertanian di Indonesia merupakan sektor yang sangat diunggulkan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2013, luas lahan persawahan mencapai 8.128.499 ha.

Namun pada tahun 2015 mengalami penurunan hingga mencapai 8.087.393 ha.

Saya kemudian mencoba mencari data terbaru 2017-2019 di BPS. Namun, saya tidak menemukannya.

Kendati demikian, negeri subur yang menyandang label agraris dan sering dilirik oleh negara tetangga justru mengalami penurunan pada luas areal pesawahannya. Tentunya hal ini sangat disayangkan.

Hal ini juga terjadi pada sektor pertanian lain, seperti perkebunan dan hortikultura. Juga lahan-lahan hijau seperti hutan kota dan hutan konservasi.

Padahal dari Sabang sampai Merauke banyak pelaku usaha tani.

Bahkan kita tentu sering mendengar dari kakek-nenek moyang bercerita dan berkeluh-kesah soal pertanian yang merupakan ujung tombak penopang kehidupan mereka sehari-hari.

Namun kini, mereka mulai menua bersama cangkul, ani-ani dan arit yang mulai berkarat.

Sementara generasi penerus mereka mulai meninggalkan tradisi bercocok tanam.

Sebagian besar lahan-lahan hijau mulai digantikan oleh gedung-gedung beton bertingkat, jalan-jalan raya besar, dan menjadi areal yang mengatasnamakan wisata alam yang berangsur-angsur mulai terdegredasi menjadi tempat hiburan dan pusat keramaian yang meninggalkan sampah berserakan.

Mereka yang memiliki sawah-sawah besar menjual sebagian sawahnya untuk memberikan pendidikan tinggi pada anak-anaknya, dengan harapan menjadikan penerus mereka menyandang gelar Sarjana Pertanian.

Dengan harapan akan mampu membawa pergeseran akan ilmu dan teknologi yang lebih modern, seperti bermain dengan traktor, combine harvester, drone dan merancang irigasi springkel atau drip.

Segelintir dari mereka yang berlabel Sarjana Pertanian berusaha memperjuangkan petani, menyentuh kehidupan pertanian untuk mengembangkan pola pikir dan teknologi tepat guna bagi petani.

Sebagian lagi justru meninggalkan pertanian, bahkan ikut terlibat dalam proses eksploitasi dan pengikisan sektor pertanian.

Termasuk tertarik di perusahan berbasis bisnis non-pertanian, bank niaga, memasuki jalur politis dengan niat mulia untuk mengatur kebijakan agraris namun terlena dengan kilauan singgasana tahta.

Apakah hal ini disebabkan karena panggilan nurani di sektor lain? Atau kebutuhan finansial?

Mungkin juga kurang bergengsinya sektor pertanian?

Mungkin karena kurangnya wadah untuk bereksplorasi?

Atau karena dosen-dosen pendidik yang menanamkan ilmu dan idealisme pada mereka sebagian besar bukan petani?

Sungguh ironi.

Karenanya, marilah kita mulai berkontribusi untuk para petani di sekitar, dari lingkup yang paling kecil dengan menghargai produk mereka.

Sementara untuk para birokrat, marilah perjuangkan mereka dengan implementasi kebijakan yang merata.

Jangan biarkan air mata petani menyirami tanam-tanaman yang mereka rawat.

Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat untuk kita. Selamat Hari Tani! (*)

Editor Segan Simanjuntak


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID