Ternyata Bawang Putih Lebih ”Jahat” Dari Bawang Merah - RILIS.ID
Ternyata Bawang Putih Lebih ”Jahat” Dari Bawang Merah
Wirahadikusumah
Senin | 13/05/2019 16.16 WIB
Ternyata Bawang Putih Lebih ”Jahat” Dari Bawang Merah
Wirahadikusumah

Oleh: Wirahadikusumah

”Pusing, semuanya mahal. Bawang putih apalagi. Bisa mahalan cukanya daripada pempek kalau begini,” keluh istri saya, Jumat siang (10/5).

”Semoga nggak sampai Lebaran mahalnya. Buat rendang kan harus pakai bawang putih,” keluhnya lagi.

Siang itu, istri saya memang baru pulang dari pasar. Saat sahur, dia sempat mengatakan akan membuat pempek sebagai salah satu menu berbuka kami di hari itu. Karenanya, ia membeli bawang putih sebagai salah satu bahan untuk membuat cuka pempek.

Keluhan itu tidak saya tanggapi. Sebab, saya memang sudah mengetahui dari berita-berita yang bertebaran di media massa bahwa harga bawang putih sedang "menggila" beberapa pekan belakangan ini.

Bahkan, pada beberapa provinsi di Indonesia, ada yang harganya pernah sampai Rp100 ribu per kilogramnya. Saat ini, di Lampung kisaran harganya masih Rp35-50 ribu per kilogram.

Namun, karena keluhan istri saya itulah, yang memaksa saya ”berselancar” di internet. Tujuannya untuk mencari informasi, sebenarnya apa penyebab harga bawang putih menjadi ”jahat”. Sampai-sampai, ”jahat” nya, melebihi bawang merah.

Informasi yang saya dapat dari detik.com, naiknya harga disebabkan tidak adanya pasokan impor yang masuk. Sementara, kebutuhan bawang putih di negara yang katanya agraris ini dipenuhi melalui impor.

Bahkan, untuk bawang putih, kebutuhan saat ini sebesar 96% dipenuhi dari impor. Sebab, pemerintah sendiri baru melakukan penanaman bawang putih di tahun 2017. Hanya saja, hasil tanam bawang putih tersebut digunakan untuk dikembangkan menjadi benih. Alhasil, hingga saat ini produksi bawang putih dalam negeri belum bisa digunakan.

Mendapatkan informasi tentang bawang putih tersebut, membuat saya bertanya-tanya. Sebab, saya baru tahu, jika selama ini 96 persen kebutuhan bawang putih di Indonesia didapat dari impor. Data itu menunjukkan, petani di Indonesia hanya sanggup memenuhi kebutuhan nasional untuk bawang putih sebanyak 4 persen.

Mengapa sampai demikian? Apa penyebabnya? Kenapa petani di negara ini tidak tertarik menanam bawang putih? Bukankah, tanaman ini tergolong sebagai bumbu utama untuk banyak jenis makanan Indonesia? Bahkan, bikin nasi goreng pun, setahu saya pakai bawang putih.

Akhirnya, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya memutuskan menghubungi Hasanudin Alam. Dia adalah adik tingkat saya di Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

Hasanudin adalah Pendamping Program Cluster Bawang Merah yang merupakan program Bank Indonesia (BI) di Provinsi Lampung. Kepadanya saya menanyakan, kenapa petani di Indonesia termasuk di Lampung lebih suka menanam bawang merah daripada bawang putih?

Menurut dia, itu terjadi karena masa panen bawang putih lebih lama dari pada bawang merah. Meskipun memang dari segi harga lebih menguntungkan menanam bawang putih.

”Kalau bawang merah hanya butuh 55-60 hari bang. Bawang putih 90-100 hari panennya,” jawabnya.

Selain itu, terus Hasan, penanganan bawang putih lebih ”manja” daripada bawang merah.

Dia menceritakan, pada 2017, Bank Indonesia pernah bekerja sama dengan salah satu dosen di Unila untuk menanam bawang putih di Tanggamus. Namun tidak berhasil.

”Saat itu, gagalnya karena mahasiswa yang ditugasi merawat ada kesalahan dalam pemupukan,” paparnya.

Selain ”manja”, imbuh Hasan, untuk mendapatkan bibit bawang putih juga cukup sulit. Jika pun ada, harganya cukup mahal untuk dijangkau petani.

”Intinya, banyak petani belum paham benar bagaimana budidaya yang baik untuk bawang putih,” ucapnya.

Mendengar penjelasan Hasanudin itu, timbul pertanyaan lagi dari saya. Kenapa di dunia dongeng, bawang putih selalu diperankan sebagai tokoh yang baik daripada bawang merah? Bukankah kenyataannya, petani Indonesia lebih menyukai menanam bawang merah daripada bawang putih? Entahlah…(whk)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID