Terungkap, Timses Paslon Arinal-Nunik Bagikan Uang dan Janjikan Ambulans - RILIS.ID

Terungkap, Timses Paslon Arinal-Nunik Bagikan Uang dan Janjikan Ambulans
Taufik Rohman
Selasa, 2018/07/10 20.08
Terungkap, Timses Paslon Arinal-Nunik Bagikan Uang dan Janjikan Ambulans
Jalannya sidang pemeriksaan dugaan pelanggaran administrasi Pilgub Lampung di Kantor Gakkumdu Lampung, Selasa (10/7/2018). FOTO: TAUFIK ROHMAN/RILISLAMPUNG.ID

RILIS.ID, Bandarlampung – Sidang pemeriksaan dugaan pelanggaran administrasi Pilgub Lampung di Kantor Gakkumdu Lampung, Selasa (10/7/2018) berlangsung tegang. Perdebatan meruncing di saat, empat kepala desa dari Kabupaten Lampung Selatan, dihadirkan. 

Kesaksian para kades perlahan membuka tabir, bahwa dugaan money politics yang dilakukan tim sukses pasangan Arinal Djunaidi-Chusnulnia (Arinal-Nunik) fakta adanya.

Secara gamblang keempat kades yakni Iskandar (Kades  Babulang), Suadi (Kades Margacatur), Mukhlis (Kades Gunungterang) dan Samsul Bahri (Kades Pematang) membeberkan pola kerja terselubung yang dilakukan Paulus yang diduga tim sukses pasangan Arinal-Nunik.    

Paulus sempat mengumpulkan 25 kades di Negeri Baru Resort Kalianda, Kamis (17/5/2018). Masing-masing kades diberi uang tunai Rp1 juta. Bahkan Paulus berjanji akan memberikan masing-masing kadess kendaraan ambulan, jika kemenangan Arinal-Nunik mencapai 60 persen.    

”Saat itu ada 20 orang dari 25 kades yang diundang. Masing-masing diberikan uang Rp1 juta. Kami diperintahkan Paulus, mencari massa, satu kades sedikitnya 15 orang per dusun, khsusunya yang masuk dalam mata pilih,” beber Iskandar.  
 
Paulus, sambung Iskandar berjanji, jika Arinal-Nunik sampai memperoleh 60 persen suara di Pilgub Lampung 2018, akan diberikan ambulan. ”Janji Paulus, ambulan itu dari paslon nomor urut tiga,” tambahnya. 

Sebelum berlanjut kepada tiga saksi berikutnya,  persidangan sempat alot,  antara kuasa hukum paslon tiga dan satu saling beradu argumen terkait untuk menghadirkan tiga kades tersebut. 

Yang menarik kuasa hukum dari paslon tiga mempersoalkan mekanisme proses sidang pelanggaran administrasi terstruktur, sistematis dan  masif.

”Kita minta keterangan dari saksi langsung kepada substansinya saja. Jangan merembet ke yang tidak ada korelasinya dengan permasalahan ini. Sehingga keterangan dari saksi tidak berputar-putar, jadi kami minta saksi ini ditola majelis,” terang salah satu tim kuasa hukum paslon tiga, Andi Syafrani. 

Aksi saling tunjuk pun muncul saat persidangan berlangsung.  Dari Kuasa Hukum paslon satu Heriyanto,  menegaskan bahwa saksi yang dihadirkan ini ada korelasi dan hubungannya dengan pembuktian perkara TSM ini. 

”Jadi majelis,  kami minta saksi ini dihadirkan, karena ini berhubungan dengan satu sama lainnya,  saksi kepala desa ini karena di tempat yang sama. Dan Inilag bentuk pembuktian TSM terjadi di Pilgub Lampung,” terangnya. 

Menurutnya, jika saksi yang dihadirkan di halang-halangi, jelas ini akan memunculkan kontroversi. 

”Untuk apa persidangan ini digelar. Ingat lho, sidang ini  sudah masuk dalam pembuktian,  yakni dengan keterangan saksi-saksi ini,” imbuh Heriyanto. 

Sidang pun tiba-tiba diskor lima menit. Sementara majelis terlihat mendiskusikan soal permintaan antara kuasa hukum paslon  satu dan tiga.

Setelah lima menit berlalu, skor sidang pun dibuka kembali. Ketiga saksi kades lainnya kembali dihadirkan.  

Giliran saksi Suadi. Dia menjelaskan bahwa benar pada Kamis (17/5/2018) dia ikut dalam pertemuan di Negeri Baru Resort Kalianda. 

”Karena yang ngundang rekan kades,  jadi saya ikut hadir juga,” terangnya. 

Di awal tahun 2018 lalu, sambung Suadi, ia pernah diundang Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo. Tapi bukan persoalan politik, tapi berdiskusi tentan program gerbang desa. 

”Faktanya memang benar, Paulus dan beberapa rekannya bagi-bagi uang di situ. Bahkan ia berjanji kalau dapat 60 sampai 70 persen, kami dijanjikan ambulans, Tapi Alhamdulillah saya gak ikutan,  karena saya gak mau. Saya harus netral.  Kita saat itu ada ajakan untuk menangkan Nunik Arinal itu,” kata Suadi. 

Saksi berikutnya Mukhlis. ”Kami diundang oleh kawan-kawan kades Bulok saat di Negeri Baru Resort itu ada Kholil dari PKB. Lalu Mastur dari Apdesi,  Syaiful Azzumar pengurus Golkar,  ada juga PNS namanya Romli,” ucap kata Mukhlis. 

Didalam pertemuan itu,  lanjut Mukhlis,  sudah dibentuk struktur tim pemenangan setiap desa.

”Kami ditawarkan untuk membentuk lagi,  satu orang 15 orang,  kemudian dari 15 orang ini disuruh cari lagi 20 orang,” kata dia. 

Ia mengaku sebelumnya Herman HN juga sempat mengundang, dalam rangka silaturahmi. 

”Pak Herman pada saat itu mengaku sebagai cagub.  Dari pertemuan itu kami diberi uang transportasi. Kami dapat uang transport sekitar Rp700-Rp900 ribu,” jelasnya. 

Dia juga mengaku,  bahwa pernah juga dikumpulkan di Sidodadi oleh tim Mustafa. 

”Bahasa mereka (timses Mustafa)  kita jangan takut  jangan ragu  jangan lemah  walaupun Mustafa sedang dalam perkara di Jakarta. Nah saat pulang kita dapat uang transportasi Rp700 ribu,” akunya 

Saksi selanjutnya Samsul Bahri,   dia menjelaskan dalam persidangan, bahwa Paulus pertama membagikan kertas.  

”Di situ sudah ada yang bentuk tim ada 56 anggota. Paulus minta kepada kades,  apakah tim ini pas?  Saya ditugaskan untuk merevisi,  tapi tidak  saya lakukan,” ujarnya. 

Paulus menjanjikan bahwa setiap desa di Lampung jika mampu mendapatkan suara Arinal-Nunik 60 hingga 70 persen,  maka akan mendapatkan Ambulans  se-Lampung. 

”Itu yang diprioritaskan bagi yang menang 60 sampai 70 persen,” ungkap Samsul. (*) 


 


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)