Tidak Cukup hanya Berpuasa - RILIS.ID
Tidak Cukup hanya Berpuasa
lampung@rilis.id
Selasa, 2018/05/15 06.01
Tidak Cukup hanya Berpuasa
Gunawan Handoko; Pengurus IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Rajabasa, Bandarlampung

BULAN Ramadan yang dinantikan umat muslim pun tiba. Spanduk dan baleho serta media lain yang terpasang di mana-mana turut menyemarakkan datangnya bulan suci. Bahkan media sosial pun tidak kalah heboh dengan mengunggah status dan aneka macam gambar, dari yang indah sampai yang lucu.

Inilah bulan pembelajaran yang penuh hikmah dan berkah serta ampunan dari Allah Swt. Salah satu di antara sekian hikmah dan rahasia ibadah puasa adalah memupuk semangat solidaritas, persamaan derajat, kasih sayang, kepedulian sesama, dan kesetiakawanan sosial.

Dengan hikmah dan rahasia ini, manusia dilatih agar dapat meminimalisasi sikap bakhil dan individualis dalam dirinya, untuk selanjutnya menjadi insan yang memiliki kepedulian terhadap orang lain.

Selain kewajiban melaksanakan puasa, umat muslim yang berharta juga diperintahkan untuk membayar zakat fitrah, infak, dan sedekah serta amal kebajikan lainnya. Maka ketaatan dan kepatuhan seorang muslim dalam menjalankan ibadah puasa dapat di ukur sejauhmana dirinya menunjukkan kepedulian terhadap kaum duafa dengan membuang jauh-jauh sifat bakhil tadi.

Tidaklah mungkin seorang fakir akan menderita kelaparan atau kekurangan sandang, kecuali disebabkan kekikiran pada diri umat muslim yang berharta. Kemiskinan yang terjadi di masyarakat kita bukan semata-mata disebabkan oleh kemalasan untuk bekerja, tetapi lebih diakibatkan dari pola kehidupan yang tidak adil (kemiskinan struktural).

Semua terjadi karena rasa kesetiakawanan sosial di antara umat muslim sudah memudar sehingga terjadi jarak antara kelompok kaya dengan kelompok miskin.  Maka apabila dana yang dihimpun dari zakat, infak, dan sedekah dapat dikelola secara baik dan didistribusikan dengan tepat, bukan tidak mungkin masalah kemiskinan dan kefakiran yang ada di tengah masyarakat kita akan dapat sedikit ditanggulangi atau paling tidak diperkecil.

Kebahagiaan hati pun dapat dirasakan para dermawan. Selain dapat membantu kaum fakir miskin, juga telah berhasil menambal berbagai kesalahan individu yang terjadi selama menjalani puasa.

Selain zakat fitrah, umat muslim juga diperintahkan untuk menyegerakan zakat harta atau maal. Banyak umat muslim yang memilih menunaikan zakat hartanya pada bulan Ramadan, dengan harapan selain untuk memenuhi kewajiban sekaligus untuk meraih kemuliaan di bulan yang penuh ampunan ini. Karena itu, ibadah puasa jangan hanya dimaknai sebagai sarana untuk meningkatkan kesalehan individu seperti melaksanaan shaum dan salat Tarawih. Tetapi juga sarana untuk meningkatkan kesalehan sosial, khususnya untuk membantu sesama.

Terkait hal ini saya ingin sedikit berbagi cerita tentang apa yang pernah saya saksikan saat Ramadan di Tanah Suci tahun lalu, bagaimana masyarakat di Kota Madinah maupun Makkah dalam menyambut bulan Ramadan.

Wajah kota tidak berubah, tetap sama seperti bulan-bulan yang lain. Demikian pula dengan aktivitas masyarakatnya, nampak seperti biasa. Bahkan selembar spanduk atau baleho tidak terlihat di kedua kota itu. Pendek kata, kalah jauh jika dibanding dengan suasana kota-kota di Indonesia, termasuk Bandarlampung tentunya.

Lantas kemana penduduk kota Madinah dan apa saja yang mereka lakukan di bulan suci tersebut? Di bulan Ramadan warga Kota Madinah sibuk dengan menyiapkan hidangan berbuka dengan sasaran utama Masjid Nabawi. Sambil menunaikan salat Asar, mereka datang berombongan menuju pelataran masjid dengan membawa makanan dan minuman.

Begitu salat selesai, dengan cekatan anggota rombongan tersebut menata makanan dan minuman di atas alas plastik yang dibentang memanjang. Sementara beberapa pemuda bertugas sebagai layaknya panitia penerima tamu resepsi, menyambut siapa saja untuk singgah tanpa membedakan warna kulit dan darimana negara asal. Dari wajah para penderma terpancar rasa bahagia apabila banyak jamaah yang sudi menikmati hidangan yang mereka sajikan.

Sama halnya di Madinah, suasana seperti itu juga terjadi di Kota Makkah. Di tempat ini para muhsinin (dermawan) seolah sedang berlomba menggapai rida-Nya. Di bulan ini sekat-sekat status sosial akan luntur, perbedaan warna kulit dan segala macam perbedaan pun hilang. Yang ada hanyalah suasana harmoni bersatunya umat muslim.

Apa yang dilakukan para dermawan di Madinah maupun Makkah telah menyadarkan diri saya dan mungkin juga Anda yang masih sering beranggapan bahwa harta yang kita miliki merupakan hasil jerih payah diri pribadi, tanpa adanya campur tangan Allah. Meski firman Allah sudah sangat jelas bahwa harta yang kita miliki hanyalah titipan Allah, pada kenyataannya belum mampu mengalahkan sikap kikir dan bathil serta ego yang melekat pada sebagian umat Islam.

Dengan memberanikan diri menafkahkan sebagian harta yang dititipkan Allah, pada akhirnya kita mampu merasakan tarikan magnet dan gravitasi nikmatnya bersedekah. Karena sesungguhnya ketaatan dan kepatuhan seorang muslim dalam menjalankan ibadah puasa dapat diukur sejauhmana dirinya menunjukkan kepedulian terhadap kaum duafa tersebut. Jangan sampai niat untuk berinfak dan bersedekah terkalahkan dengan pemenuhan kebutuhan untuk perayaan Lebaran Idul Fitri.

Memang, bukan hal yang mudah untuk menyadarkan kaum muslim yang berharta agar tergerak hatinya terhadap penderitaan yang dialami saudaranya sesama muslim. Nyatanya, di pengujung Ramadan masih banyak kaum muslimin yang tidak ikhlas menyisihkan sedikit saja hartanya untuk diserahkan kepada badan amil.

Yang terjadi justru sebaliknya, banyak di antara mereka yang membawa zakat fitrah dan sedekahnya pulang mudik ke kampung halaman, sekaligus sebagai upaya untuk mendapat pengakuan dengan menunjukkan jati diri sebagai orang yang telah sukses dan berhasil selama hidup di kota. Akibatnya, banyak di antara muzakki yang memperlakukan zakat sebagaimana halnya infak dan sedekah.

Semoga Ramadan tahun ini mampu mempertebal keyakinan kita untuk kembali pada tuntunan Allah, bahwa menjadi satu kewajiban bagi setiap muslim yang diberi kelebihan harta untuk dapat berbagi kepada kaum duafa. Dengan berinfak dan bersedekah semoga akan menyempurnakan ibadah puasa yang kita laksanakan dan akan mengantarkan untuk menggapai maqam tertinggi dihadapan-Nya sebagai hamba yang menyandang derajat mutaqin. Wallahu’ alam bis showab. Marhaban ya Ramadan. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)