Triwulan I, PAD Kota Masih Jauh dari Harapan - RILIS.ID

Triwulan I, PAD Kota Masih Jauh dari Harapan
El Shinta
Selasa, 2018/04/17 16.23
Triwulan I, PAD Kota Masih Jauh dari Harapan
Plt. Wali Kota Bandarlampung Yusuf Kohar memimpin rapat evaluasi PAD triwulan I TA 2018 di ruang rapat wali kota, Selasa (17/4/2018). FOTO: RILISLAMPUNG.ID/El Shinta

RILIS.ID, Bandarlampung – Pencapaian pendapatan asli daerah (PAD) Kota Bandarlampung triwulan I tahun 2018 masih jauh dari harapan. Realisasi PAD baru Rp111,637 miliar dari target Rp788,377 miliar atau tercapai 14,16 persen.

Pendapatan paling jeblok dari pajak bumi dan bangunan (PBB), hiburan, restoran, dan parkir. ”Saya sudah ingatkan kepala UPT (unit pelaksana teknis) dan camat bekerjasama untuk melakukan penagihan,” kata Plt. Wali Kota Bandarlampung Yusuf Kohar usai memimpin rapat evaluasi PAD di ruang rapat walikota, Selasa (17/4/2018).

Realisasi PBB baru Rp10,038 miliar dari target Rp150 miliar; pajak hiburan Rp7,234 miliar dari target Rp20 miliar, pajak restoran Rp13,937 miliar dari target Rp60 miliar, dan pajak parkir Rp1,642 miliar dari target Rp6,369 miliar.

Sementara, target PAD berasal dari pajak daerah Rp94,043 miliar, retribusi daerah Rp 9,164 miliar, pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan Rp4,412 miliar, dan lain-lain PAD sah Rp172,994 miliar.

Yusuf Kohar mengatakan, peningkatan realisasi PBB yang signifikan ada di September 208.  ”Nantidievaluasi semua. Persuasif dulu. Jangan ngancam-ngancam. Pendekatan, kasih tahu kalau pajak ini untuk pembangunan Kota Bandarlampung,” tandasnya.

Sementara Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD), Yanwardi, menjamin tidak ada kebocoran pajak mulai dari tingkat UPT maupun badan. 

”Saya yakinkan 99 persen tidak ada kebocoran pajak di tingkat UPT. Apa lagi tingkat badan di sini. Sudah dulu ya saya ada rapat, buru-buru,” singkat Yanwardi.

Kepala Satuan Tugas III Koordinasi dan Supervisi Pencegahan KPK RI, Adlinsyah Malik Nasution, mengungkapkan potensi kebocoran pajak di Kota Bandarlampung.

Choki –sapaan akrab Adlinsyah Malik Nasution, menyatakan potensi kebocoran salah satunya dari banyaknya pemilik rumah makan dan restoran, yang masih manual menghitung total orderan. 

Selain rumah makan, Choki juga bercerita tentang pengalamannya berbelanja oleh-oleh di Kota Bandarlampung, tapi tidak dimintai pajak. (*)

 

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)