Tujuh Belasan dan Nasionalisme Pemuda - RILIS.ID
Tujuh Belasan dan Nasionalisme Pemuda
[email protected]
Jumat | 17/08/2018 06.00 WIB
Tujuh Belasan dan Nasionalisme Pemuda
Gunawan Handoko, Mantan Aktivis Organisasi Kemasyarakatan Pemuda, tinggal di Kota Bandarlampung

JANGAN dulu bicara tentang nasionalisme dan cinta tanah air jika untuk mengibarkan bendera merah putih saja tidak mau.

Omong kosong bicara tentang bela negara, jika dalam keseharian kita hanya sibuk mencari kesalahan orang lain.

Bohong besar bicara tentang persatuan dan kesatuan, bila setiap saat selalu menebar bibit pertikaian sesama kita sendiri.

Sejak bergulirnya reformasi di negeri ini, kita telah kehilangan jati diri sebagai bangsa timur yang dulu dikenal santun dan bermartabat.

Dengan dalih demi kepentingan rakyat, para elite politik melampiaskan dendam politiknya dengan melakukan kritik dan hujatan terhadap lawan politiknya yang sedang berada di tampuk kekuasaan. Sebaik apapun yang dilakukan pemerintah, tetap saja menuai kritik.

Dengan dalih untuk menunjukkan transparansi, demokratisasi, dan keterbukaan, unjuk rasa (bayaran) marak di mana-mana. Rakyatpun bingung, sosok mana yang pantas menjadi figur pemimpin karena yang mengaku tokoh pun kerjanya cuma mengkritik dan menghujat.

Kita seperti sedang berjalan di alam yang gelap gulita, satu sama lain saling bertabrakan. Atau, memang sengaja untuk bertabrakan? Ironis dan menyedihkan. Mengapa semua ini tetap saja terjadi?

Salah satu jawabnya adalah bahwa kita telah lupa sejarah. Perjalanan sejarah bangsa yang seharusnya dapat menjadi pedoman dalam meneruskan cita-cita perjuangan para pendahulu telah ditinggalkan.

Ambil saja contoh, hari ini. Mestinya begitu memasuki bulan Agustus kita mulai sibuk untuk mempersiapkan pesta rakyat, dengan menghias pagar dan halaman rumah masing-masing dan mengibarkan bendera merah putih.

Lalu, anak-anak muda dengan didukung para orang tua mengemas acara ’tujuh belasan’ dalam rangka tetap terpatrinya semangat bela negara dan cinta tanah air.

Lagu-lagu perjuangan berkumandang mengiringi lomba tradisional anak-anak sebagai wujud rasa cinta tanah air tadi.

Mari kita saksikan hari ini, semua berjalan seperti biasa, tanpa greget. Anak-anak muda kehilangan semangat dan mengeluh karena sulitnya mengumpulkan dana dari masyarakat yang notabene orang tua mereka sendiri. Sementara, banyak warga masyarakat yang enggan untuk memasang bendera merah putih dengan berbagai alasan.

Fenomena ini harus dilihat sebagai sebuah ancaman yang sangat serius dalam konteks perjalanan bangsa ke depan. Jika hal ini terus dibiarkan, jangan salahkan apabila generasi di era 10 tahun ke depan tidak dapat menerima secara utuh saat disodorkan cerita tentang sejarah proklamasi kemerdekaan, kebangkitan nasional, sumpah pemuda, dan sejarah pergerakan nasional lainnya.

Inilah tantangan yang harus mendapat jawaban, khususnya oleh pemerintah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Jika memang perlu adanya surat perintah untuk ’sekadar’ memasang bendera merah putih, kenapa tidak dilakukan?

Lurah tidak harus menunggu instruksi dari camat, lantas camat masih menunggu petunjuk dari bupati atau walikota. Jika ini yang terjadi, maka kiamat lah negeri ini.

Jika ada yang bertanya sedemikian pentingkah memasang bendera merah putih, jawabnya penting. Bahkan sangat penting karena di dalamnya terkandung sebuah proses yang luar biasa. Proses yang dinamakan pembelajaran dan penanaman pemahaman akan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan, khususnya bagi kaum remaja dan generasi muda agar paham tentang sebuah perjalanan panjang dan juga melelahkan.

Proklamasi kemerdekaan tidak akan pernah terjadi tanpa didahului dengan lahirnya Sumpah Pemuda 1928 dengan ikrarnya bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu, Indonesia.

Ikrar tersebut tidak mungkin terwujud apabila masing-masing tokoh pemuda Indonesia waktu itu membawa kepentingan kedaerahan dan kelompoknya.

Sederet nama pejuang telah terukir dalam sejarah. Salah satunya adalah gerakan Budi Utomo yang dimotori oleh sekelompok pemuda di tanah Jawa.

Hadirnya pergerakan Budi Utomo ini secara spontan mendapat sambutan dari para pemuda di luar Jawa, karena dinilai mampu mempersatukan berbagai perbedaan yang ada terutama dari sisi agama.

Pergerakan Budi Utomo inilah sebagai kunci awal pergerakan pemuda dan embrio lahirnya Sumpah Pemuda 1928.

Dengan dilandasi semangat inilah kekuatan untuk merebut kemerdekaan semakin menggelora hingga mencapai klimaknya pada tahun 1945.

Harus diakui, semangat Sumpah Pemuda sebagai kekuatan maha dahsyat yang menyemangati semua gerakan sampai pada puncaknya, yakni kemerdekaan Republik Indonesia.

Sudah seharusnya semangat Sumpah Pemuda ini terus menerus digelorakan dalam rangka memberikan pemahaman bagi bangsa ini, khususnya kaum muda agar dapat meneladani semangat dan patriotisme para pendahulunya.

Dengan memahami sejarah masa lalu, diharapkan ke depan tidak akan terdengar lagi tuntutan sekelompok masyarakat atau golongan yang ingin untuk memisahkan diri dari negara kesatuan republik Indonesia (NKRI). Atau, tetap dalam pangkuan NKRI namun menuntut untuk diperlakukan secara khusus.

Tidak akan muncul konflik atau ’perang’ antar suku, kampung, sekolah, dan lainnya karena semua telah paham bahwa Indonesia adalah satu, bahwa kita bersaudara.

Pascareformasi, banyak agenda yang bertujuan untuk menanamkan kesadaran bagi masyarakat terhadap bela negara dan cinta tanah air semakin memudar, bahkan nyaris punah. Akibatnya, banyak para remaja usia sekolah di tingkat lanjutan menengah atas yang tidak mampu menjelaskan tentang sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Sementara, elemen kepemudaan lebih asyik bermain dengan ranah politik dan melupakan kewajiban yang mestinya dilakukan dalam rangka pembinaan dan pengembangan kaum muda.

Rasanya tidak salah jika kita mengadopsi berbagai program yang pernah dilakukan pemerintahan Orde Baru. Tidak semua peninggalan Orde Baru haram untuk dilakukan, sepanjang hal tersebut bernilai positif bagi kebaikan dan keutuhan bangsa ini ke depan. Bila tidak, maka potret pemuda dari waktu ke waktu akan semakin buram dan tentu saja berdampak pada kualitas para calon pemimpin di masa datang.

Benar bahwa pemuda merupakan ahli waris pemimpin di masa depan, tapi perlu diingat bahwa para pemuda pun punya kewajiban untuk membuat warisan bagi generasi berikutnya.

Apabila hari ini para tokoh pemuda hanya sibuk mengurusi diri sendiri untuk menjadi pemimpin karena merasa sudah pantas, itu sah-sah saja. Tapi ingat, jangan sampai pada saatnya nanti kita tidak mampu menjawab ketika ada pertanyaan dari generasi muda berikutnya: ”Apa yang telah Anda wariskan kepada kami?”. Karena pada kenyataannya selama ini kita tidak berbuat apa-apa, kecuali untuk diri sendiri.

Di awal pemerintahan Orde Baru, strategi negara yang diterapkan waktu itu adalah menyerap berbagai fungsi penekanan masyarakat melalui ’pencetakan’ lembaga-lembaga tunggal perwakilan kepentingan.

Beberapa organisasi kemasyarakatan pemuda atau OKP terserap ke dalam satu wadah, yakni Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan secara struktural para tokoh pemuda telah terikat menjadi satu dengan pemerintah.

Strategi pemerintah waktu itu bisa diterima karena pendekatan pembangunan yang dijalankan pemerintah Orde Baru, baik dalam perencanaan ekonomi maupun sosial didasarkan pada prinsip security.

Penerapan strategi seperti itu ternyata mampu mencegah terjadinya konflik antarkelompok, kelas, ideologi yang sering terjadi di masa-masa Orde Lama.

Kini semua telah berubah. Di saat rasa nasionalisme dan cinta tanah air serta bela negara telah memudar, banyak pihak yang sedang menunggu. Mampukah KNPI dengan kemandiriannya melakukan penekanan kepada pemerintah untuk memfasilitasi berbagai upaya dalam rangka pembinaan dan pengembangan kaum generasi muda?

Jayalah negeriku, bangkitlah pemudaku, dirgahayu 73 tahun Republik Indonesia!!! (*)  

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID