Warga Eks Kampung Pasar Griya Masih Ditampung di LBH - RILIS.ID

Warga Eks Kampung Pasar Griya Masih Ditampung di LBH
El Shinta
Sabtu | 28/07/2018 19.06 WIB
Warga Eks Kampung Pasar Griya Masih Ditampung di LBH
Aktivitas warga eks Kampung Pasar Griya Sukarame yang ditampung di kantor LBH Bandarlampung, Sabtu (28/7/2018). FOTO RILISLAMPUNG.ID/El Shinta

RILIS.ID, Bandarlampung – Warga eks Kampung Pasar Griya, Sukarame dilanda kegalauan. Pasalnya, hingga digusur oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung beberapa waktu lalu, puluhan warga belum juga mendapatkan tempat tinggal. 

Padahal pemkot sendiri telah menawarkan bantuan kepada warga eks Kampung Pasar Griya. Mulai dari angkutan barang, tempat tinggal gratis di rusunawa selama enam bulan, hingga memindahkan anak sekolah ke tempat tinggal terdekat. Namun tawaran tersebut belum menggerakan hati warga untuk pindah. 

Hingga Jumat (27/7/2018) dini hari, warga eks Kampung Pasar Griya ditampung di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung di Jalan Amir Hamzah Gang Amanah, Gotong Royong, Tanjungkarang Pusat.

Kepindahan ke kantor LBH bermula dari aksi protes dengan menggelar tenda darurat di depan rumah di rumah dinas wali kota yang berujung pengusiran. 

Yunilia (31), salah satu warga eks Kampung Pasar Griya, mengatakan demo tersebut dibubarkan lantaran pihaknya enggan dipindahkan ke dua rusunawa Ketapang dan Keteguhan malam itu.

"Diusir Satpol PP malam itu jam 3 pagi. Hasil dari rapat malam itu kami diminta pindah ke rusunawa, kami nggak mau. Masa iya tengah malam begitu disuruh pindah, nggak punya hati banget Pak Herman HN," kata Yuni kepada rilislampung.id saat ditemui di kantor LBH Kota Bandarlampung, Sabtu (28/7/2018). 

Dia mengungkapkan, alasan penolakan tawaran tempat tinggal bukan tanpa alasan. Selain lokasinya yang jauh, warga Kampung Pasar Griya tidak ingin dipisahkan. 

"Gimana ya, bingung juga, bukan nggak mau pindah. Tapi mikirin kami kan ngerongsok apa ada tempatnya, lalu anak-anak yang sekolah gimana, kan jauh-jauh sekolahnya kalau pindah ke sana. Kami yang tersisa sekitar 23 KK juga mau dipisahkan, kami nggak mau. Kami mau tinggal bersama-sama, karena sudah seperti saudara sendiri," tegasnya. 

Yuni menuturkan, kini ia dan warga lainnya hanya tinggal berdoa agar pintu hati Wali Kota Herman HN terbuka. Warga hanya ingin bertemu dengan orang nomor satu di Kota Tapis Berseri tersebut. 

"Anak-anak kami sudah nggak sekolah karena baju seragam dan peralatan sekolah lainnya tertimbun bangunan. Sekarang kami hanya menunggu Pak Herman mau menemui kami, penuhi janji-janjinya yang pro terhadap orang miskin. Kami janji nggak ngapa-ngapain beliau, nggak anarkis, hanya minta temui saja. Kami hormat kepada beliau," tandasnya. 

Hal senada juga diungkapkan Werli (32). Ia belum tahu sampai kapan akan tinggal di Kampung Pasar Griya. 

"Sekarang masih di sini tapi belum tahu sampai kapan. Mau pindah ke rusunawa tapi bagaimana, kami ngerongsok juga," ujarnya. (*)

Editor Adi Pranoto


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID