Warga Kampung Pasar Griya Demo Tolak Penggusuran - RILIS.ID

Warga Kampung Pasar Griya Demo Tolak Penggusuran
El Shinta
Selasa | 08/05/2018 19.41 WIB
Warga Kampung Pasar Griya Demo Tolak Penggusuran
Puluhan warga Kampung Pasar Griya melakukan demo di depan kantor Pemerintah Kota Bandarlampung untuk menolak penggusuran yang akan dilakukan, Selasa (8/5/2018). FOTO RILISLAMPUNG.ID/El Shinta

RILIS.ID, Bandarlampung – Puluhan warga Kampung Pasar Griya Kecamatan Sukarame yang tergabung dalam Komite Penggusuran Pasar Griya menggelar unjuk rasa di depan kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung. Warga menolak dengan tegas pengosongan dan penggusuran yang akan dilakukan besok (9/5/2018).

Salah satu peserta aksi, Kristin, mengatakan pihaknya secara tegas menolak penggusuran tersebut.

"Kami menolak penggusuran sewenang-wenang terhadap masyarakat Pasar Griya. Berikan seluruh hak dasar masyarakat pasar griya dan kembalikan fungsi pasar," teriaknya di sela-sela orasi.

Dia menjelaskan, ancaman penggusuran ini sudah berulang kali terjadi. Mulai dari tahun 2005, 2007, dan 2014. Dan sekarang ancaman penggusuran kembali dilakukan. Pasar ini didirikan pada awal tahun 90-an oleh Pemkot Bandarlampung dengan membangun kantor, barak hamparan, beberapa kios dan musala.

“Pembangunan ini tidak bisa dipisahkan dengan sejarah pedagang sayuran di Jalan Endro Suratmin yang dilarang berjualan oleh pemerintah dan dipindahkan ke lokasi yang disebut Pasar Sukarame," jelasnya. 

Kristin mengatakan, Pasar Sukarame pada tahun 1999 pernah berada dipuncak kejayaannya. Hiruk pikuk aktivitas pasar bisa dirasakan dengan berdirinya ratusan kios dan pedagang hamparan, bahkan rute transportasi disediakan dengan melintasi Pasar Sukarame. 

"Tapi dipertengahan tahun 2000 Pasar Sukarame kembali terpuruk dan diabaikan oleh pemerintah begitu saja sampai saat ini," terangnya. 

Namun sayangnya, aksi tersebut tak mendapat perhatian dari Pemkot Bandarlampung. Hanya Plt Kepala Bapol PP Mansi yang bersedia menghampiri peserta aksi dan berjanji akan menyampaikan keluhan warga. Pasalnya saat itu Plt Walikota M Yusuf Kohar dan Sekkot Badri Tamam tengah menerima tamu.

"Karena pemerintah tidak ada yang peduli dengan keluh kesah kami, kami anggap sejak hari ini tidak ada lagi yang namanya pemerintah. Pemerintah telah mati," tandasnya seraya menggerakkan massa ke kantor DPRD Kota Bandarlampung. (*)

Editor Adi Pranoto


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID