WatchDoc dan Era Baru Pendidikan Politik - RILIS.ID
WatchDoc dan Era Baru Pendidikan Politik
[email protected]
Kamis | 15/03/2018 05.59 WIB
WatchDoc dan Era Baru Pendidikan Politik
Oki Hajiansyah Wahab, Penikmat Film; Pengajar di Universitas Muhammadiyah Metro

MENGAGUMKAN, begitulah kira-kira kesan yang saya dapat dari peluncuran film berjudul Asimetris pada 12 Maret 2018. Film dokumenter kesembilan Ekspedisi Indonesia Biru ini diputar di lebih dari 20 kota di Indonesia lewat partisipasi penontonnya. Kesuksesan yang sama dengan film-film dokumenter  yang diproduksi WatchDoc sebelumnya.

Saya membayangkan bila peluncurannya diserahkan kepada event organizer, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan. Di sisi lain model pemutaran film semacam ini juga sekaligus menjadi cara yang efektif untuk membungkam tudingan siapa yang mendanai bergulirnya film-film alternatif semacam ini.

Artikel pendek ini tidak hendak membahas isi film Asimetris itu sendiri karena saya belum sempat menonton film yang terakhir diluncurkan. Penulis hendak melihat sisi lain dari pemutaran film dokumenter tersebut. Terlebih sependek pengetahuan penulis di Indonesia masih sangat jarang sebuah film dokumenter mendapatkan apresiasi yang luas. 

WatchDoc secara cerdik memanfaatkan media sosial untuk membangun engagement dengan publik, sekaligus membangkitkan gairah menonton film-film alternatif. Maklum, WatchDoc memang tak memiliki struktur hingga ke ranting layaknya partai politik (parpol) yang mampu memberikan instruksi untuk melakukan pemutaran film serentak.

Lewat karya-karyanya yang sarat dengan kritik sosial, WatchDoc juga hadir dalam satu semangat baru. Tidak sekadar memproduksi film dokumenter, tapi lebih jauh dari itu adalah memberikan pendidikan politik dan membangun keterlibatan publik atas sebuah persoalan yang diangkatnya. Film dokumenter menjadi salah satu medium yang efektif untuk menyampaikan kritik dan membangun diskursus di ruang publik.

Film Jakarta Unfair yang juga diproduksi WatchDoc misalnya, sempat menjadi bahan propaganda elit untuk menyerang lawan politiknya. Meski demikian saya mengambil hal positif bahwasanya kritik yang disampaikan sesungguhnya telah ditangkap juga oleh para elit politik meski baru sekadar digunakan untuk bahan menyerang lawan politiknya. 

WatchDoc yang identik dengan film-film bertema kritik sosial juga kini menjadi salah satu referensi bagi proses pembelajaran di kampus. Kampus-kampus besar di Indonesia bahkan di berbagai negara semakin terbiasa melakukan pemutaran film dan diskusi yang dikemas secara sederhana.

Saya sendiri menggunakan film-film dokumenter untuk membantu proses belajar di kelas. Lewat medium film mahasiswa tampak lebih mudah memahami persoalan yang didiskusikan. Nalar kritisnya perlahan mulai terbentuk dalam memahami realitas. 

Tak hanya di kampus, film-film yang diproduksi WatchDoc berhasil menjangkau penonton hingga ke kampung-kampung dan pelosok desa. Lewat metode layar tancap, bermodal kuota untuk mengunduh film, dan lcd sederhana, ruang-ruang diskusi publik semakin terbuka luas.

Diskusi dan kajian-kajian politik kini tak lagi menjadi dominasi kaum intelektual ketika rakyat di kampung-kampung semakin terbiasa berdiskusi di tanah-tanah lapang, warung-warung kopi, dan berbagai tempat lainnya.

Pelan tapi pasti, lewat model pendidikan politik semacam ini solidaritas penonton terbangun. Lewat film alternatif dan ”bioskop dadakan” semacam ini orang dari berbagai kalangan mulai dari Melbourne hingga Kota Metro berbagi keresahan dan membangun solidaritas untuk terlibat dalam proses advokasi. Metode pemutaran semacam ini juga  sekaligus upaya menularkan pola dan semangat kerjasama. Sekali bekerja ada banyak nilai yang hendak ditularkan.

Tanpa disadari WatchDoc tengah menawarkan era baru pendidikan politik ketika partai politik atau bahkan organisasi-organisasi massa tengah disibukkan dengan berbagai kontestasi pemilihan mulai dari tingkat daerah hingga ke nasional. Di saat para elit berunding tentang kekuasaan di sisi lain rakyat terus terhimpit dalam kesengsaraan dan luput dari perhatian.

Pesan terselubung lainnya adalah saat banyak orang memuja kinerja pemerintahan yang ada saat ini, WatchDoc hendak mengirimkan pesan bahwa tidak selamanya yang Anda lihat itu benar. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID