Zakat untuk Kesejahteraan Umat - RILIS.ID
Zakat untuk Kesejahteraan Umat
lampung@rilis.id
Jumat, 2018/06/08 07.01
Zakat untuk Kesejahteraan Umat
Gunawan Handoko, Pengurus IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Rajabasa, Bandarlampung

MEMASUKI Sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, hampir semua masjid dan musala bersiap diri membentuk panitia zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Mereka bertugas menerima ZIS dari para muzakki untuk selanjutnya disalurkan kepada para mustahiq yang berhak.

Selain melaksanakan ibadah puasa atau saum di bulan Ramadan, umat muslim yang mampu juga diperintahkan untuk membayar zakat fitrah serta melakukan amal kebajikan lainnya.

Selain zakat fitrah, umat muslim yang berharta juga diperintahkan untuk menyegerakan membayar zakat harta atau maal meliputi hasil dari pertanian, gaji dan honorarium, peternakan, perdagangan, dan jenis harta lainnya setelah cukup hitungan setahun (haul).

Meski kesadaran umat muslim untuk membayar zakat harta masih sangat rendah, namun ada hal yang cukup menggembirakan. Dari tahun ke tahun semakin bertambah umat muslim yang memilih menunaikan zakat hartanya pada bulan Ramadan dalam rangka meraih kemuliaan di bulan yang penuh maghfirah ini.

Ketaatan dan kepatuhan seorang muslim dalam menjalankan ibadah puasa bukan hanya diukur dari kesalehan individu seperti menjalankan saum dan ibadah ritual lainnya. Namun juga kesalehan sosial, sejauhmana dirinya menunjukkan kepedulian terhadap kaum duafa dengan membuang jauh-jauh sifat kikir atau bakhil.

Di dalam kondisi masyarakat yang masih diimpit berbagai kesulitan hidup, maka puasa memiliki pesan solidaritas sosial yang maha penting untuk diwujudkan. Apabila dana yang dihimpun dari ZIS dapat dikelola dengan baik dan dilaksanakan penuh kesadaran serta didistribusikan secara tepat, bukan tidak mungkin masalah kemiskinan dan kefakiran di tengah masyarakat akan dapat ditanggulangi atau paling tidak diperkecil.

Perlu dipahami bahwa zakat bukanlah semata-mata urusan pribadi para muzakki (pemberi) dengan mustahiq yang menerima. Tetapi kelembagaan atau institusi yang secara tradisional dibentuk di hampir setiap masjid. Ini karena zakat adalah titipan umat yang harus dikembalikan kepada umat. Di dalamnya terdapat unsur penghimpunan, penyaluran, dan pelaporan yang transparan dan bertanggungjawab.

Banyak manfaat yang dapat dipetik jika zakat (termasuk infak dan sedekah) disalurkan melalui panitia atau badan amil. Pertama, dalam rangka menjalankan petunjuk Alquran, sunah Rasulullah, dan para sahabat serta para tabi'in.

Pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabat tidak pernah terjadi pemberian zakat dari muzakki langsung kepada mustahiq, melainkan wajib disalurkan melalui badan amil yang dibentuk oleh Imam (pemerintah).

Kedua, untuk menjaga adanya beban moral maupun perasaan rendah diri para mustahiq, karena harus berhadapan langsung untuk menerima zakat dari para muzakki.

Ketiga, untuk menjaga timbulnya sifat riya bagi para muzakki ketika menerima sanjungan dari para mustahiq atas kedermawannya. Jika hal ini sampai terjadi, maka sia-sialah amal kebajikannya di mata Allah meskipun secara hukum syariah adalah sah. Tetapi hal-hal tersebut di atas akan terabaikan, juga hikmah dan fungsi zakat menjadi kurang bermakna. Terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan umat akan sulit diwujudkan. Padahal kewajiban zakat bertujuan untuk dapat menanggulangi kemiskinan.

Kesediaan melakukan pengorbanan untuk orang lain haruslah didasari demi mengharapkan keridaan Illahi, karena berkorban adalah sebuah ajaran tentang mengurangi kepentingan diri pribadi untuk kepentingan orang lain dalam rangka mencapai kemuliaan di hadapan Allah Ta’ala.

Di penghujung Ramadan ini semoga banyak kaum muslimin yang ikhlas untuk menyisihkan sedikit hartanya untuk diserahkan kepada badan Amil yang ada di lingkungannya. Kebiasaan membawa zakat fitrah dan sedekahnya pulang mudik ke kampung halaman sudah saatnya untuk diakhiri. Apalagi jika tujuannya untuk mendapat pengakuan atau menunjukkan jati diri sebagai orang yang telah sukses dan berhasil selama di kota.

Akibatnya, banyak di antara muzakki yang ’memperlakukan’ zakat fitrah sebagaimana halnya infak dan sedekah. Karenanya patut menjadi ajang koreksi internal ketika mudik lebaran semata-mata dijadikan untuk tujuan pragmatisme individual dengan tradisi ’unjuk gigi’. Tidak jarang niat mudik juga diberi label dengan muatan menunjukkan jati diri dan status sosial pemudik berkaitan dengan prestasi, jabatan, gelar, kendaraan, harta, dan label materi lainnya.

Kini saatnya untuk belajar berani membedakan antara kewajiban zakat dengan infak maupun sedekah. Dalam menunaikan zakat, termasuk infak dan sedekah hendaknya kita ikhlas untuk menyerahkan pengelolaannya kepada lembaga amil, tanpa harus berpikir siapa orang yang bakal menerimanya nanti.

Mari kita jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk mengobarkan semangat solidaritas dan kesetiakawanan sosial sebagai wujud kesalehan individu dan strategi muroqobah seorang hamba dengan Tuhannya, menambah kecerdasan dan kesalehan sebagai makhluk sosial. Karena sesungguhnya harta kita yang abadi adalah yang telah kita sedekahkan dan menjadi simpanan di akhirat. Selebihnya merupakan milik Allah yang dititipkan kepada kita sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam QS An-Nur : 33, ”Dan berikanlah kepada mereka, sebagian harta Allah yang telah Dia berikan kepada kalian”.

Kita wajib meyakini bahwa harta yang ada pada diri kita merupakan titipan Allah yang didalamnya terdapat hak milik orang lain. Dengan demikian kita pun merasa berkewajiban untuk memberikan sebagiannya kepada orang yang berhak menerimanya dengan mengusir jauh-jauh sifat kikir dan bakhil.

Semoga Ramadan tahun ini bukan hanya melahirkan para penyeru kebajikan sebagai penyampai pesan. Namun juga lahirnya para muhsinin (dermawan) yang mampu membongkar sekat-sekat status sosial dan menghilangkan berbagai macam perbedaan. Yang ada hanyalah suasana harmoni bersatunya umat Islam.

Dengan tumbuhnya keberanian untuk menyisihkan sebagian harta guna dibagikan kepada saudara kita yang kurang beruntung, diharapkan akan dapat menyempurnakan ibadah puasa dan menghantarkan kita untuk menggapai maqam tertinggi dihadapan-Nya sebagai hamba yang menyandang derajat muttaqin.

Taqabballahu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum. Minal aidhin wal faaizin. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)