Zaman Now, Kuliah Tidak Harus Negeri - RILIS.ID
Zaman Now, Kuliah Tidak Harus Negeri
[email protected]
Kamis, 2018/05/10 06.01
Zaman Now, Kuliah Tidak Harus Negeri
Gunawan Handoko, Ketua Harian KMBI (Komunitas Minat Baca Indonesia) Provinsi Lampung

PULUHAN ribu orang anak bangsa lulusan SMA baru saja selesai mengikuti seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) 2018. Meski, mereka sadar untuk menembus benteng perguruan tinggi negeri (PTN) merupakan perjuangan berat.

Lulus seleksi masuk PTN masih menjadi kebanggaan, di mana untuk menembusnya harus melalui seleksi ketat. Ketika mampu menembus dinding PTN, tentu ada pengakuan bahwa dirinya termasuk orang cerdas. Paling tidak, pengorbanannya selama belajar di sekolah tidak sia-sia.

Ditambah lagi dorongan dan dukungan para orangtua yang ingin membekali ilmu bagi putra-putrinya agar memiliki SDM yang memadai guna menjawab tantangan dunia masa kini dan mendatang.

Kondisi sekarang berbeda dengan orangtua zaman dulu yang tidak berharap, bahkan melarang anaknya sekolah tinggi-tinggi. Yang penting mampu baca dan tulis, supaya kalau pergi ke kota tidak nyasar atau kalau berdagang tidak ditipu orang.

***

Dikotomi PTN dan perguruan tinggi swasta (PTS) masih saja muncul dan menjadi realitas yang sulit dihapuskan sampai hari ini. Anggapan masyarakat PTN lebih unggul, berkualitas, dan lebih murah masih melekat dan menjadi pandangan umum.

Sementara, PTS selalu di pandang sebagai ‘nomor dua’. Selain mahal biayanya, fakta yang tidak bisa dipungkiri, mengikuti seleksi ke PTS menjadi alternatif ke dua setelah gagal menembus PTN.

Itu semua merupakan realita yang tidak dapat dilepaskan dari sejarah, bahwa PTN itu di-support negara. Mulai infrastuktur, sumberdaya manusia (SDM), dan pendukung lain yang di masa lalu didukung penuh melalui dana APBN. Sementara bagi PTS, semuanya harus digali sendiri.

Saatnya kita untuk berani meninggalkan paradigma soal sekat PTN dan PTS karena sejatinya dua entitas itu memiliki kesetaraan. Terlebih era sekarang adalah era kompetisi, bukan lagi masalah negeri dan swasta.

Soal kualitas sangat tergantung dari proses pembelajaran di perguruan tinggi (PT) tersebut, baik yang berstatus negeri maupun swasta. Kampus negeri pun jika tidak dikelola dengan baik bisa gulung tikar dan kalah dengan kampus swasta. Sebaliknya, kampus swasta yang dikelola dengan baik bisa mengalahkan negeri.

Realitanya memang begitu, kampus yang tidak mampu bersaing akan ditinggalkan mahasiswa. Sebaliknya, kampus yang dikelola dengan baik maka akan diserbu mahasiswa. Maka negeri atau swasta sama, tinggal mampu bersaing atau tidak.

Masyarakat jangan sampai terjebak bahwa keunggulan sebuah PT tidak cukup dinilai dari jumlah gedung, fasilitas atau jumlah dosen maupun mahasiswa yang ada. Yang utama adalah mampu menghasilkan SDM yang memiliki kompetensi dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun global. Selain itu juga harus mampu menghasilkan dan mengaplikasikan iptek bagi masyarakat.

Maka PT dituntut kesanggupannya dalam memproduksi SDM terdidik yang berkualitas, terampil, dinamis, dan menjadi learner yang mampu belajar serta mengejar hal-hal yang baru. Lebih dari itu, PT juga dituntut untuk mempersiapkan para mahasiswanya akan pekerjaan yang belum ada.

Selain menciptakan iptek yang inovatif, adaptif, dan kompetitif sebagai konsep utama daya saing dan pembangunan bangsa di era industri ke depan, PTS perlu kerja keras untuk menghapus segala keragu-raguan di masyarakat. Apa yang diharapkan oleh masyarakat sudah amat jelas, yakni lulusan perguruan tinggi yang berkualitas sejalan dengan kompetisi yang semakin ketat untuk mendapat pekerjaan di waktu mendatang.

Senang atau tidak senang, di era kompetisi global dan pasar terbuka, para lulusan S1 Indonesia harus berkompetisi dengan lulusan mancanegara. Secara jujur harus diakui bahwa lulusan S1 Indonesia pada umumnya masih di bawah peringkat internasional sehingga sulit untuk berkompetisi karena kurang kompetensi dalam bidangnya. Hal ini disebabkan kurangnya kualitas proses pendidikan yang dialami mahasiswa S1.

Pemerintah memang tidak pernah berhenti dalam mengupayakan peningkatan pendidikan di negeri ini. Hanya, semua dalam bentuk coba-coba dan selalu berubah setiap kali berganti Menteri. Jika kita memang benar-benar komitmen terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan SDM, maka bicara tentang pendidikan menjadi sangat strategis dan harus menjadi perhatian nomor satu.

Dalam konteks Indonesia saat ini, di mana sebagian masyarakat menjerit akibat tingginya biaya pendidikan, terutama untuk jenjang PT, sudah saatnya pendidikan membuka akses yang maksimal untuk rakyat. Jika memang harus menempuh pendidikan ke swasta, tentunya swasta yang berkualitas.

Dengan memperhatikan kualitas inilah secara otomatis para konsumen pendidikan (calon mahasiswa dan orang tua) yang akan memilih sendiri PT yang akan dimasukinya. Tidak seperti yang terjadi selama ini, kebanyakan mereka memasuki PT hanya karena ikut-ikutan teman, bukan didasari bakat dan minat yang dimilikinya.

Lupakan mitos yang tidak sepenuhnya benar bahwa PTN lebih murah ketimbang PTS. Gagal di PTN tidak berarti bahwa masa depan suram. Masih banyak PTS yang memiliki kualitas sama dengan PTN dengan dibuktikan dari akreditasinya.

Di tengah persaingan dunia pendidikan, sudah seharusnya para pengelola PT lebih mengedepankan kualitas lulusan daripada penyebaran brosur dan pamflet. Di era globalisasi seperti sekarang ini, selain biaya kuliah yang dapat terjangkau, peluang kerja juga menjadi prioritas utama dalam pemilihan program studi.

Penilaian masyarakat bukanlah berapa banyak sarjana yang telah dihasilkan, melainkan seberapa banyak para lulusannya telah memperoleh lapangan kerja. Syukur jika telah mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.

Buat putera-puteri bangsa yang belum berkesempatan diterima di PTN, tidak harus berputus asa. Tetaplah semangat untuk meraih ilmu, selagi masih ada kesempatan dan waktu. Jika tidak, bersiaplah diri tergilas oleh waktu. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)