Zulkarnain, Yakjuj Makjuj, dan Globalisasi
[email protected]
Rabu, 13/06/2018 07:00
Zulkarnain, Yakjuj Makjuj, dan Globalisasi
Fathoni, Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung

KISAH Zulkarnain (Dzulqornain) dikenal hampir di semua peradaban. Mungkin sekali sejarah tentangnya ada di setiap kitab suci (yang saya tahu, kisahnya ada dalam Alquran).

Kisah tentang orang sakti yang diminta bantuan oleh masyarakat saat itu untuk membuat tembok yang terbuat dari tembaga. Tembok ini berfungsi untuk memisahkan masyarakat dari keganasan Yakjuj Makjuj (YM).

Di mana letak tembok ini masih misteri hingga kini. Namun, dikisahkan, suatu saat di akhir zaman, tembok Zulkarnain akan jebol, dan kejahatan YM akan merajalela. Dikisahkan juga bahwa YM ini akan datang dari arah Timur. Silakan Anda tafsiri sendiri apa yang dimaksud Timur di sini.

Nama Zulkarnain konon dinisbatkan pada Alexander the Great, namun ada juga yang berpendapat, keduanya berbeda. Zulkarnain, demikian ia disebut, dinisbatkan dari kata bahasa Arab, ”Dzu al-Qornain”.

”Dzu” artinya memiliki/mempunyai, sedangkan ”Qornain” adalah bentuk ”isim tatsniyah” —kata benda bermakna ganda/double dari ”Qorn”, biasanya dimaknai tanduk/cula. Qornain dengan demikian bermakna ”dua tanduk”. Itu mungkin sebabnya, orang Inggris menyebut Tanduk dengan ”Corn”, Unicorn—satu tanduk, sebutan untuk mitologi kuda bertanduk satu.

”Zulkarnain” dengan demikian dapat ditafsiri dengan ”Bertanduk Dua”. Entah ini makna konotasi atau denotasi macam ”Hellboy”. Tapi saya lebih suka memaknainya secara konotatif, bukan berarti ia memiliki dua tanduk macam sapi atau banteng. Tapi, lagi-lagi, terserah Anda memaknai apa arti ”dua tanduk ini”.

Ingat, lambang Sila Keempat Kita adalah Banteng yang punya dua Tanduk, sila ”Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat/Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Oleh Soekarno, sila ini ia namai ”Demokrasi/Democracy”.

Jangan-jangan, Zulkarnain ini seorang Demokrat—yang ini adalah kata sifat, bukan sebutan untuk nama partai tertentu. Artinya, ia seorang yang dipercaya mewakili kepentingan masyarakat, sehingga dipercaya membuat tembok.

Tembok yang dibangun Zulkarnain ini juga saya lebih suka memaknainya secara konotatif/kiasan/majas. Tembok dapat dimaknai batas/sekat yang dengannya ada blokade. Yang di dalam tidak dapat ke luar, yang di luar tak dapat masuk. Kecuali dengan cara melompati tembok, atau menjebolnya. Macam isolasi yang dibuat Kaisar Jepang dahulu, sebelum dibubarkan oleh Kaisar Meiji.

Sepertinya, YM melakukan cara yang kedua untuk dapat ke luar, yaitu dengan cara merusaknya sedikit demi sedikit, membuat lubang, akhirnya ke luar. Lalu, kalau sudah keluar, bagaimana wujud YM ini?

Denotatif/lugas atau konotatif/kias? Lagi-lagi, saya lebih suka memaknainya secara majas. Bisa saja YM ini berupa aliran-aliran, ajaran-ajaran, pengaruh, teori-teori, paradigma-paradigma yang dalam tanda kutip, ”berbahaya” bagi kelangsungan hidup manusia. Makanya, dahulu, masyarakat ingin Zulkarnain memisahkan mereka dari YM dengan cara membuat tembok, membuat blokade.

Tembok itu bisa saja dimaknai hukum-hukum semacam hukum yang dibuat Hammurabi. Dengan hukum, tentu ada pembatasan. Engkau tidak boleh mencuri, karena engkau akan dikenai hukuman.

Hukum, dengan demikian berfungsi sebagai tembok. Dan, yang membuat hukum haruslah Zulkarnain, yang mewakili kepentingan masyarakat. Tembok itu juga bisa diartikan dengan negara.

Dalam teori terjadinya suatu negara, teori Contract Social/Perjanjian Masyarakat, adalah teori yang paling masyhur. Yaitu, negara berdiri karena ada keinginan masyarakat di suatu wilayah tertentu membentuk satu kesatuan hukum yang berdaulat.

Kemudian masyarakat tersebut memilih seorang primus interpares yang paling berwibawa di antara mereka untuk didaulat menjadi pemimpin. Jadi, sejatinya pemimpin adalah rakyat itu sendiri karena kepemimpinannya dipilih oleh rakyatnya.

Dalam perkembangannya, ada batas wilayah suatu negara yang kita sebut kemudian wilayah yurisdiksi. Di sini ada keberlakuan hukum, politik, kedaulatan yang padat, sampai kebudayaan yang cair. Misal, meskipun Indonesia secara kebudayaan dan sejarah barangkali sama dengan Malaysia dan Singapura (karena semenanjung Malaka adalah wilayah Kesultanan Malaka), namun secara yurisdiksi sekarang berbeda.

Untuk Singapura, barangkali butuh beberapa bab menjelaskannya, karena sekarang ia tak lagi “dikuasai” Melayu. Jadi, kini ada tembok, ada batas (border). Kalau Anda mau ke Malaysia, harus ada izin imigrasi, barangkali ada visa. Kalau mau berjualan ke sana, terkena pajak ekspor, kalau mendatangkan barang dari sana Anda terkena pajak impor. Pendeknya, ada batas.

Kemudian, tembok/batas/border itu mulai tersibak. Kita membentuk ASEAN, lalu 2015 kemarin ada MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Di Eropa, sudah lebih dahulu ada MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa), mata uangnya EURO. Semacam persemakmuran Eropa. Hanya Inggris yang masih mempertahankan ”temboknya”, tidak mau bergabung dengan Uni Eropa.

Dunia yang tersekat beberapa negara, jelas akan sulit ditembus YM secara denotatif, lalu YM ini kemudian beralih rupa, supaya (Zulkarnain) yang dulu mengurungnya ”pangling”, tidak lagi mengenalnya, bahkan jikapun mereka bertemu di pasar, (Zulkarnain) hampir tidak mengetahuinya. Atau jangan-jangan (Zulkarnain) pura-pura tidak tahu, karena masyarakat yang diwakilinya justru ingin tembok itu jebol.

YM ganti nama agak romantis, namanya sekarang ”Globalisasi”. Tidak ada itu tembok-tembok yang membatasi negara. Impor tidak boleh dibebani pajak. Ada rezim perdagangan bebas (free trade), tidak boleh ada hambatan (barriers) dalam perdagangan. Lalu, YM ini menyerbu dengan mitos bernama investasi. Alirannya sangat halus, sampai masyarakat tidak menyadarinya.

YM terlalu lihai mengelabui, sehingga dapat meyakinkan bahwa racun itu adalah madu. Kalau masih ada yang mau menghambat, tentu YM akan menyerbu dengan paket kebijakan kemudahan investasi. Negara yang melawan akan mengalami Glasnost dan Perestroika macam Uni Soviet hingga pecah berkeping, atau mengalami Arab Spring macam Libya, Irak, Kuwait, dan sebentar lagi Syiria.

Untungnya, konon dulu tanah bahan dasar untuk membentuk Nabi Adam AS diambil dari negeri ini, negeri yang kini kita menyebutnya Indonesia. Mungkin karena tanahnya liat. YM takut dengan Nabi Adam AS yang lebih senior, sehingga YM yang sudah ganti nama jadi globalisasi itu agak kerepotan menghadapi Indonesia.

Mau diembargo, malah YM alias globalisasi bingung sendiri, nanti tak bisa makan beras Pringsewu atau Delangu dan Cianjur. YM ini, akhirnya mengaku kalah dan tidak mau main-main dengan Indonesia, karena ternyata (Zulkarnain) orang sini. Ampun. Semoga takdir terbaik untuk Indonesia raya. Tabik (*)

Editor: gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)