Alhamdulillah, Harga Singkong di Mesuji Kembali Naik
Juan Situmeang
Kamis | 12/11/2020 16.55 WIB
Alhamdulillah, Harga Singkong di Mesuji Kembali Naik
Kabupaten Mesuji. FOTO: RILISLAMPUNG.ID/Wirahadikusumah

RILIS.ID, MESUJI – Kabar gembira bagi petani singkong di Kabupaten Mesuji. Sebab, informasinya harga komoditas tersebut kembali naik. Menjadi Rp1.000/per kilogramnya.

Informasi ini disampaikan Kepala Bagian Ekbang Pemkab Mesuji Arif Arianto. Ia mengatakan, harga ubi kayu berangsur kembali ke harga yang memiliki nilai ekonomi baik.

Sebelumnya, harga singkong di kabupaten ini sempat menyentuh Rp800/kg dan terjadi beberapa bulan.

”Tadi saya dapat informasi, pada salah satu pabrik singkong di Mesuji harga sudah menjadi Rp1000/kg per hari ini,” ujarnya, Kamis (12/11/2020).

Kendati demikian, pihaknya tetap akan memanggil perusahaan dan lapak singkong yang ada di Mesuji berkenaan fluktuasi harga komoditas unggulan itu.

Baca: Harga Singkong Turun, Pemkab Mesuji Janji Panggil Perusahaan dan Lapak

Ia mengungkapkan, Pemkab Mesuji sudah memanggil seluruh stakeholders yang berkaitan dengan harga singkong di Mesuji pada 10 November 2020. 

Tujuannya untuk membahas komponen-komponen penentu harga singkong di luar faktor suplay and demmand.  

Perusahaan yang diundang di antaranya PT Lambang Jaya yang ada di Simpangpematang. Beserta jaringan lapaknya. Kemudian PT Budi Starch dan Sweetener (BW Group) dan jaringan lapaknya. Lalu, PT Sari Agro Manunggal (SAM) dan PT Cargil berikut jaringan lapaknya.

Dari semua perusahaan itu, satu perusahaan yang belum datang yakni PT Lambang Jaya.

”Kami tetap akan memanggil untuk bisa hadir di Pemkab Mesuji, supaya kita bisa membahas secara bersama-sama agar menemukan solusi yang saling menguntungkan antara perusahaan dan petani terkait harga singkong ini,” janjinya.

Dari pertemuan itu juga, kata Arif, terungkap faktor-faktor yang juga dapat memengaruhi harga. Di antaranya jenis singkong dan kadar aci.

”Kalau sudah kita ketahui semua hal yang berkaitan dengan harga singkong, nanti kita rumuskan bersama perusahaan, petani difasilitasi pemda untuk menghasilkan panen yang terbaik dan harga yang baik pula buat petani,” katanya.

Terpisah, Joko, salah satu pengurus lapak di kawasan Register 45 mengatakan, pihaknya tidak pernah menentukan harga sendiri. Akan tetapi selalu dapat informasi dari perusahaan singkong.

”Kita sudah tanya dulu. Sebelum menerima singkong petani. Untuk hari ini, saya belum tahu kalau harga sudah Rp1000/kg. Saya pribadi ikut senang, karena berapapun harga singkong, selama kita tahu dulu naiknya, ya lapak bisa mengikuti, tidak rugi. Karena lapak hanya mengambil fee,” katanya. 

Meski terkadang pihaknya memotong harga ke petani karena kualitas singkong yang datang tidak sesuai standar.

”Kita kasih potongan besar, karena biasanya banyak tanah, bonggol singkong tidak bersih, lalu jenis singkongnya jenis buto ijo. Itu pasti bakal kena potongan besar,” jelasnya.

Lain lagi menurut Warno, petani singkong yang dua pekan lalu panen mengalami penurunan harga tiga kali.

”Waktu cabut, hari pertama, harga Rp870/kg. Besoknya turun jadi Rp850/kg. hari ketiga terakhir panen turun menjadi Rp810/kg. Jadi kena tiga kali penurunan harga,” ujarnya.

Namun, ia tetap bersyukur bisa panen dan hasil panennya terjual.  Karena singkongnya meski jenis casesa tidak bisa ditahan terlalu lama.

”Karena memang sudah waktunya panen,” katanya. 

Mengenai potongan yang tinggi di lapak, ia juga mengakui dan tidak setuju dengan hal tersebut. Sebab, tidak ada petani yang mau hasil panennya diberi potongan tinggi.

”Tapi kadang kita setelah timbang di lapak  kok hasilnya bisa berbeda dengan yang kita timbang manual. Bisa selisih 1 ton. Jadi, itu kadang bonggol-bonggol dimasukin, tanah-tanah nempel tidak dibersihkan,” kesalnya.

Karenanya, ia berharap pemerintah turun tangan untuk menertibkan timbangan yang ada di lapak dan pabrik-pabrik. Agar sesuai dengan timbangan yang sebenarnya.(*)

Editor Wirahadikusumah


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)

 





2019 | WWW.RILIS.ID