Area Lockdown, Jangan Lockdown "Rebahan" 
lampung@rilis.id
Kamis | 26/03/2020 20.16 WIB
Area Lockdown, Jangan Lockdown
Dr. Eng. IB Ilham Malik (Alumni Graduate School of Environmental Engineering, Kitakyushu University, Jepang)

Kini kota-kota lain di luar Jakarta sudah punya PDP Covid-19. Dari mana pasien ini? Punya riwayat perjalanan kemana saja? Kontak dengan siapa? Kalau menyimak kasus di Lampung, rupanya ia punya riwayat melakukan perjalanan ke luar kota dan berinteraksi dengan pengidap Covid-19.

Kisah ini menyadarkan kita, bahwa melakukan perjalanan, ke luar daerah, misalnya, telah melahirkan persoalan bagi warga dalam daerah asal itu. Termasuk, tentu saja, masuknya warga luar ke dalam daerah kita, telah juga melahirkan berbagai kemungkinan tertular. 

Kini, teman-teman, di dalam kota kita, sudah mulai ada penambahan PDP. Bolehkah kita khawatir? Ya tentu saja boleh. Dan bahkan harus. Apalagi ada rekan birokrat yang terkena. Sedih, tapi juga khawatir. Ia telah berinteraksi dengan banyak temannya, dalam ruangan, dan ini menimbulkan peningkatan ODP. Juga dengan keluarganya.

Jika gagasan lockdown Wuhan dan Italia sudah tidak lagi bisa dibahas dan dipertimbangkan, karena sudah diputuskan tidak boleh oleh pemerintah dan presiden, maka kita perlu gagasan lain. Perlu format lain lockdown. Social distancing dianggap sepele oleh warga.

Uniknya, konsep ini ternyata tetap membuat orang bisa dengan mudah melakukan perjalanan antar daerah. Jadi, daerah yang pada awalnya tidak terpapar, jadi terpapar Covid-19, gegara orang dari daerah yang terpapar, bisa masuk dengan bebas kemana-mana, ke daerah yang tidak/belum terpapar.

Tapi ide lockdown klasik, dengan mengunci aktivitas warga hanya di dalam rumah, juga bukanlah gagasan yang baik bagi ekonomi warga, ekonomi daerah, dan ekonomi bangsa kita. Kita tahu keterbatasan energi pemerintah. Tidak mungkin bagi negara untuk mengunci warganya. Tidak mungkin. Tetapi, kita ada opsi lain. Apa itu? AREA LOCKDOWN. 

Area lockdown adalah suatu bentuk larangan bagi warga untuk keluar daerah daerahnya, dan melarang orang dari daerah lain untuk masuk ke daerahnya. Ibaratnya Jakarta. Orang Jakarta silahkan saja beraktivitas di dalam Kota Jakarta meskipun tetap harus patuh dengan aturan social distancing. Tetapi, tidak boleh ada yang bisa keluar dan masuk ke dalam wilayah Jakarta. Kunci pintu keluar/masuk. Kecuali untuk bahan makanan dan barang lainnya. Atau hal darurat lainnya. Protokol soal ini bisa kita buat.

Area lockdown akan tetap menghidupkan aktivitas warga. Ekonomi masih tetap bisa berjalan. Kehidupan daerah/kota masih tetap bisa dirasakan. Dan ini akan bisa membuat optimisme warga tetap terbangun. Gotong royong akan muncul, karena interaksi warga tetap ada, meskipun social distancing tetap dijalankan dengan baik. 

Area Lockdown ini cara kita berdamai dengan situasi yang ada saat ini. Social distancing masih memiliki probabilitas penyebaran tetap tinggi. Lockdown mematikan masa depan dan melemahkan kemampuan pemerintah. Area Lockdown bisa menurunkan resiko sebaran, tetapi tetap menghidupkan ekonomi daerah/kota. Kita boleh menyebut Area Lockdown ini dengan sebutan apapun. Urban lockdown atau city lockdown. Tapi intinya: kunci daerah kita. Jangan ada keluar masuk daerah kita. Untuk sementara.(*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID