Kategori
Rilis Network

Imbas PPKM Darurat, Peternak Ayam Potong Merugi Hingga Puluhan Juta Rupiah

...
Sulaiman
Lampung Tengah
19 Juli 2021 - 20:11 WIB
Bisnis | RILISID
...
Petenak mandiri ayam potong Fakhrur Rozi berada di kandangnya yang berada di wilayah Masgar, Lampung Tengah, Senin (19/7/2021). Foto: Sulaiman

RILISID, Lampung Tengah — Dampak dari diterapkannya Pemberlakuan Perbatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di pulau Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali, dirasakan juga oleh para peternak ayam broiler atau ayam potong di Provinsi Lampung.

Sebab, selama PPKM Darurat harga ayam potong dari peternak turun hingga Rp15 ribu perkilogram. Padahal sebelumnya mencapai Rp24-25 ribu.

Salah satu peternak mandiri ayam potong Fakhrur Rozi yang berada di wilayah Desa Masgar, Kabupaten Lampung Tengah menerangkan, turunnya harga ayam mulai dirasakan sejak awal diterapkannya PPKM di Bandarlampung.

Pada awal PPKM, harga jual ayam di tingkat peternak dengan ukuran 1,1-1,2 kilogram (Kg) mencapai Rp17 ribu. Kemudian ayam ukuran 1,3-1,4 Kg mencapai Rp14-15 ribu, dimana sebelum PPKM harganya mencapai Rp22-23 ribu.

"Sampai saat ini semakin menurun. Ayam ukuran 1,8 Kg lebih menurun mencapai Rp12.500 per kilogram," ungkapnya saat disambangi di peternakannya pada Senin (19/7/2021).

Sementara lanjut Rozi, untuk biaya produksi satu ekor ayam dengan ukuran 1,5 Kg membutuhkan pakan kurang lebih 2 Kg, dengan harga pakan per kilogramnya Rp8.500. Selain itu harga bibit ayam Rp8 ribu per ekor.

"Sehingga harga pokok produksi per 1,5 kilogram ayam berkisar Rp24.500. Jadi kalau hitung untung rugi, dengan harga jual ayam perkilo saat ini Rp15 ribu, jelas ada kerugian kurang lebih Rp10 ribu per 1 Kg ayam boiler," jelasnya.

Rozi bahkan mengaku kini telah merugi hingga puluhan juta rupiah. Karena dalam sekali panen mencapai total 8.000 ekor. Bila dihitung rata-rata berat ayam mencapai 1,5 Kg, dengan harga jual perkilo mencapai Rp15 ribu dan biaya produksi mencapai Rp24.500 ribu per ekor, maka kerugian mencapai lebih kurang Rp80 juta.

Namun meski merugi, Rozi juga tidak bisa berbuat banyak karena sudah menjadi ketentuan pemerintah menerapkan PPKM Darurat.

"Ya harus gimana lagi. Peraturan ini untuk kebaikan kita semua juga. Kalau kerugian sudah resiko, tapi mudah-mudahan PPKM Darurat tidak diperpanjang dan pandemi corona segera berakhir sehingga perekonomian kembali pulih," harapnya. (*)

Editor : Andry Kurniawan

TAG:

Berita Lainnya

| 0 Komentar

Populer

Tag Populer

  • #LampungJaya
  • #Covid19
  • #SertifikatTanah
  • #AbjadAkhir
  • #Aplikasi

Pilihan

Baca Juga

Imbas PPKM Darurat, Peternak Ayam Potong Merugi Hingga Puluhan Juta Rupiah

...
Sulaiman
Lampung Tengah
19 Juli 2021 - 20:11 WIB
Bisnis | RILISID
...
Petenak mandiri ayam potong Fakhrur Rozi berada di kandangnya yang berada di wilayah Masgar, Lampung Tengah, Senin (19/7/2021). Foto: Sulaiman

RILISID, Lampung Tengah — Dampak dari diterapkannya Pemberlakuan Perbatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di pulau Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali, dirasakan juga oleh para peternak ayam broiler atau ayam potong di Provinsi Lampung.

Sebab, selama PPKM Darurat harga ayam potong dari peternak turun hingga Rp15 ribu perkilogram. Padahal sebelumnya mencapai Rp24-25 ribu.

Salah satu peternak mandiri ayam potong Fakhrur Rozi yang berada di wilayah Desa Masgar, Kabupaten Lampung Tengah menerangkan, turunnya harga ayam mulai dirasakan sejak awal diterapkannya PPKM di Bandarlampung.

Pada awal PPKM, harga jual ayam di tingkat peternak dengan ukuran 1,1-1,2 kilogram (Kg) mencapai Rp17 ribu. Kemudian ayam ukuran 1,3-1,4 Kg mencapai Rp14-15 ribu, dimana sebelum PPKM harganya mencapai Rp22-23 ribu.

"Sampai saat ini semakin menurun. Ayam ukuran 1,8 Kg lebih menurun mencapai Rp12.500 per kilogram," ungkapnya saat disambangi di peternakannya pada Senin (19/7/2021).

Sementara lanjut Rozi, untuk biaya produksi satu ekor ayam dengan ukuran 1,5 Kg membutuhkan pakan kurang lebih 2 Kg, dengan harga pakan per kilogramnya Rp8.500. Selain itu harga bibit ayam Rp8 ribu per ekor.

"Sehingga harga pokok produksi per 1,5 kilogram ayam berkisar Rp24.500. Jadi kalau hitung untung rugi, dengan harga jual ayam perkilo saat ini Rp15 ribu, jelas ada kerugian kurang lebih Rp10 ribu per 1 Kg ayam boiler," jelasnya.

Rozi bahkan mengaku kini telah merugi hingga puluhan juta rupiah. Karena dalam sekali panen mencapai total 8.000 ekor. Bila dihitung rata-rata berat ayam mencapai 1,5 Kg, dengan harga jual perkilo mencapai Rp15 ribu dan biaya produksi mencapai Rp24.500 ribu per ekor, maka kerugian mencapai lebih kurang Rp80 juta.

Namun meski merugi, Rozi juga tidak bisa berbuat banyak karena sudah menjadi ketentuan pemerintah menerapkan PPKM Darurat.

"Ya harus gimana lagi. Peraturan ini untuk kebaikan kita semua juga. Kalau kerugian sudah resiko, tapi mudah-mudahan PPKM Darurat tidak diperpanjang dan pandemi corona segera berakhir sehingga perekonomian kembali pulih," harapnya. (*)

Editor : Andry Kurniawan

TAG:

Berita Lainnya

| 0 Komentar