Komut PTPN VII: Bangun Harmoni dengan Masyarakat
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Komut PTPN VII: Bangun Harmoni dengan Masyarakat

Lampung Tengah
7 Desember 2021 - 9:58 WIB
Bisnis | RILISID
...
Foto: Istimewa

RILISID, Lampung Tengah — Relasi yang konstruktif PTPN VII dengan masyarakat menjadi satu masalah yang harus mendapat perhatian khusus. Hal ini karena aset perusahaan berupa kebun berada di tengah masyarakat dan bersifat terbuka.

Masalah ini menjadi salah satu bahasan dalam kunjungan Komisaris Utama PTPN VII Nurhidayat ke PTPN VII Unit Padangratu, Lampung Tengah, Senin (6/12/21).

Ia mendapati data produksi yang diduga dicuri oleh masyarakati sehingga ada kerugian yang cukup besar.

"Adanya kehilangan produksi akibat pencurian penyebabnya karena relasi kita dengan masyarakat yang belum baik. Masalah ini harus kita antisipasi dengan memperbaiki hubungan supaya bisa saling menjaga," kata Nurhidayat.

Didampingi beberapa anggota Komite Audit, Nurhidayat disambut SEVP Operation I PTPN VII Budi Susilo, Kabag Tanaman Wiyoso, Kabag SPI Ary Askari, Manajer Padang Ratu Ilfendri, dan beberapa staf. Data produksi yang timpang tersebut kemudian ditindak lanjuti dengan peninjauan lapangan, baik pada afdeling yang aman maupun afdeling yang rawan.

Tentang produktivitas Afdeling I yang jeblok karena terganggu karena pencurian, Isa, asisten tanaman Afdeling I mengaku gangguan itu tak kunjung menemukan formula terbaik untuk menanggulangi. Menurut asisten yang baru setahun bertugas di Unit Padangratu ini, dia bersama tim harus melakukan tindakan tegas terukur bersama anggota BKO dari TNI, Polri, maupun keamanan internal.

“Terus terang, awal saya tugas di sini hampir angkat tangan, Pak. Tetapi, dengan dukungan Pak Manajer, teman-teman, dan BKO, saya bisa memaksimalkan produksi. Walaupun masih cukup jauh dari potensi yang ada,” kata mantan Asisten di Unit Sungainiru ini.

Catatan pencurian Unit Padangratu, dalam setahun terakhir terjadi 255 kali pencurian TBS dengan jumlah kehilangan 181,78 ton TBS selama 2021. Ilfendri juga mengusulkan untuk menambah tenaga BKO dari Polri untuk membantu pengamanan aset produksi.

Menanggapi itu, Nurhidayat bersama SEVP Operation I Budi Susilo memberi beberapa masukan. Salah satunya, kemungkinan untuk mendirikan kantor Afdeling yang ditandem dengan Pos Keamanan di lokasi yang dinilai sangat rawan.

Namun demikian, Nurhidayat mengatakan masalah pencurian di seluruh PTPN VII harus diselesaikan secara sistematis dan humanis. Ia mengatakan, aset PTPN VII berupa kebun yang merupakan sumber utama pendapatan perusahaan yang berada di tengah masyarakat harus diciptakan hubungan yang harmonis.

Ia mengingatkan, solusi mengamankan aset dan produksi dengan menjaga secara fisik akan terus berulang. Sebab, tambah dia, aset yang terbuka tersebut sangat mudah bagi pihak luar untuk mengakses untuk kemudian mencuri.

“Usulan Pak Budi (SEVP Ops. I) untuk membangun kantor, rumah, dan pos jaga BKO, itu mungkin salah satu solusi. Tetapi ke depan, kita secara korporasi harus terus membangun sinergi dengan masyarakat sekitar agar bisa bekerjasama harmonis untuk saling menjaga. Ini salah satu ada program CSR dan Bina Lingkungan dan silaturahmi yang intensif,” kata dia.


Aspek Agronomi

Pada kunjungan tersebut, Nurhidayat mengapresiasi pergerakan kinerja PTPN VII Unit Padangratu dalam mengejar produksi dan proses agronomi. Data yang dipresentasikan Manajer Unit Padangratu ilfendri menunjukkan hampir seluruh norma perawatan tanaman, treatmen kebun secara umum, hingga pemupukan sudah berjalan sesuai rencana.

Data itu berkorelasi positif dengan pencapaian produksi dalam tiga tahun terakhir. Angka paling normatif yang bisa menunjukkan kenaikan kinerja adalah produktivitas tanaman yang naik dari di bawah 14 ton per hektare pada 2018 menjadi rata-rata 22 ton per hektare.

Melihat kondisi tanaman di lapangan, Ilfendri menyebut untuk kebun tahun tanam 2010 berproduksi 24 ton per hektare. Sedangkan yang terendah dari tanaman yang sudah berumur 25 tahun hanya menyumbang sekitar 18 ton per hektare.

Dengan kondisi produktivitas yang naik signifikan dan harga yang cukup tinggi, Ilfendri menyatakan Unit Padangratu pada 2021 mencatat keuntungan bersih Rp46 miliar. Angka naik ini, kata dia, akan menjadi tren pada produktivitas tahun-tahun berikutnya.

“Secara umum, aspek agronomi sudah terpenuhi dan tanaman sudah pulih. Tahun depan dan seterusnya, insyaalloh kita akan bisa mencetak produktivitas yang lebih tinggi dan laba yang lebih baik. Sebab, treatmen kita saat ini akan kita petik pada dua tahun ke depan,” katanya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Komut PTPN VII: Bangun Harmoni dengan Masyarakat

...
[email protected]
Lampung Tengah
7 Desember 2021 - 9:58 WIB
Bisnis | RILISID
...
Foto: Istimewa

RILISID, Lampung Tengah — Relasi yang konstruktif PTPN VII dengan masyarakat menjadi satu masalah yang harus mendapat perhatian khusus. Hal ini karena aset perusahaan berupa kebun berada di tengah masyarakat dan bersifat terbuka.

Masalah ini menjadi salah satu bahasan dalam kunjungan Komisaris Utama PTPN VII Nurhidayat ke PTPN VII Unit Padangratu, Lampung Tengah, Senin (6/12/21).

Ia mendapati data produksi yang diduga dicuri oleh masyarakati sehingga ada kerugian yang cukup besar.

"Adanya kehilangan produksi akibat pencurian penyebabnya karena relasi kita dengan masyarakat yang belum baik. Masalah ini harus kita antisipasi dengan memperbaiki hubungan supaya bisa saling menjaga," kata Nurhidayat.

Didampingi beberapa anggota Komite Audit, Nurhidayat disambut SEVP Operation I PTPN VII Budi Susilo, Kabag Tanaman Wiyoso, Kabag SPI Ary Askari, Manajer Padang Ratu Ilfendri, dan beberapa staf. Data produksi yang timpang tersebut kemudian ditindak lanjuti dengan peninjauan lapangan, baik pada afdeling yang aman maupun afdeling yang rawan.

Tentang produktivitas Afdeling I yang jeblok karena terganggu karena pencurian, Isa, asisten tanaman Afdeling I mengaku gangguan itu tak kunjung menemukan formula terbaik untuk menanggulangi. Menurut asisten yang baru setahun bertugas di Unit Padangratu ini, dia bersama tim harus melakukan tindakan tegas terukur bersama anggota BKO dari TNI, Polri, maupun keamanan internal.

“Terus terang, awal saya tugas di sini hampir angkat tangan, Pak. Tetapi, dengan dukungan Pak Manajer, teman-teman, dan BKO, saya bisa memaksimalkan produksi. Walaupun masih cukup jauh dari potensi yang ada,” kata mantan Asisten di Unit Sungainiru ini.

Catatan pencurian Unit Padangratu, dalam setahun terakhir terjadi 255 kali pencurian TBS dengan jumlah kehilangan 181,78 ton TBS selama 2021. Ilfendri juga mengusulkan untuk menambah tenaga BKO dari Polri untuk membantu pengamanan aset produksi.

Menanggapi itu, Nurhidayat bersama SEVP Operation I Budi Susilo memberi beberapa masukan. Salah satunya, kemungkinan untuk mendirikan kantor Afdeling yang ditandem dengan Pos Keamanan di lokasi yang dinilai sangat rawan.

Namun demikian, Nurhidayat mengatakan masalah pencurian di seluruh PTPN VII harus diselesaikan secara sistematis dan humanis. Ia mengatakan, aset PTPN VII berupa kebun yang merupakan sumber utama pendapatan perusahaan yang berada di tengah masyarakat harus diciptakan hubungan yang harmonis.

Ia mengingatkan, solusi mengamankan aset dan produksi dengan menjaga secara fisik akan terus berulang. Sebab, tambah dia, aset yang terbuka tersebut sangat mudah bagi pihak luar untuk mengakses untuk kemudian mencuri.

“Usulan Pak Budi (SEVP Ops. I) untuk membangun kantor, rumah, dan pos jaga BKO, itu mungkin salah satu solusi. Tetapi ke depan, kita secara korporasi harus terus membangun sinergi dengan masyarakat sekitar agar bisa bekerjasama harmonis untuk saling menjaga. Ini salah satu ada program CSR dan Bina Lingkungan dan silaturahmi yang intensif,” kata dia.


Aspek Agronomi

Pada kunjungan tersebut, Nurhidayat mengapresiasi pergerakan kinerja PTPN VII Unit Padangratu dalam mengejar produksi dan proses agronomi. Data yang dipresentasikan Manajer Unit Padangratu ilfendri menunjukkan hampir seluruh norma perawatan tanaman, treatmen kebun secara umum, hingga pemupukan sudah berjalan sesuai rencana.

Data itu berkorelasi positif dengan pencapaian produksi dalam tiga tahun terakhir. Angka paling normatif yang bisa menunjukkan kenaikan kinerja adalah produktivitas tanaman yang naik dari di bawah 14 ton per hektare pada 2018 menjadi rata-rata 22 ton per hektare.

Melihat kondisi tanaman di lapangan, Ilfendri menyebut untuk kebun tahun tanam 2010 berproduksi 24 ton per hektare. Sedangkan yang terendah dari tanaman yang sudah berumur 25 tahun hanya menyumbang sekitar 18 ton per hektare.

Dengan kondisi produktivitas yang naik signifikan dan harga yang cukup tinggi, Ilfendri menyatakan Unit Padangratu pada 2021 mencatat keuntungan bersih Rp46 miliar. Angka naik ini, kata dia, akan menjadi tren pada produktivitas tahun-tahun berikutnya.

“Secara umum, aspek agronomi sudah terpenuhi dan tanaman sudah pulih. Tahun depan dan seterusnya, insyaalloh kita akan bisa mencetak produktivitas yang lebih tinggi dan laba yang lebih baik. Sebab, treatmen kita saat ini akan kita petik pada dua tahun ke depan,” katanya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya