Sri Andini Sebut Limbah FABA Bisa Sejahterakan Warga di Sekitar PLTU
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Sri Andini Sebut Limbah FABA Bisa Sejahterakan Warga di Sekitar PLTU

...
Wirahadikusumah
Jakarta
9 April 2021 - 17:35 WIB
Bisnis | RILISID
...
Foto: Tangkapan layar webinar, Jumat (9/4/2021).

RILISID, Jakarta — Limbah fly ash dan bottom ash (FABA) yang bisa dikelola di Indonesia mencapai 8 juta ton dengan nilai hingga Rp5 triliun. FABA itu berasal dari limbah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang ada di Indonesia.

“Jumlah 8 juta ton itu sangat potensial untuk pembuatan paving block. Tentu saja pada 2021 ini ada potensi besar untuk menghasilkan pemasukan dari FABA itu, tinggal mau tidak kita memanfaatkannya,” ungkap Brigita Manohara, moderator diskusi webinar PWI Pusat bertema “Mengoptimalkan Pemanfaatan FABA untuk Pembangunan Ekonomi”, Jumat (9/4/2021) di Jakarta.

Apalagi FABA kini sudah ditetapkan menjadi limbah non bahan berbahaya dan beracun (B3).

Hal itulah yang membuat Sri Andini, Komisaris Utama PT. Bukit Pembangkit Inovative, mencoba menelusuri kebermanfaatan FABA di Indonesia.

“Untuk mengetahui beracun atau tidak, saya sampai pegang sendiri FABA itu, ternyata tidak apa-apa,” ungkap Sri yang menjadi salah satu narasumber dalam webinar tersebut.

Lebih lanjut ia mengatakan, ia kemudian mencoba menghubungi teman-temannya yang ahli, untuk bertanya terkait kandungan FABA.

“Kalau beracun tentu kita harus taat aturan, tapi ini saya penasaran karena tidak (beracun),” tambah Sri.

Setelah itu Sri meminta sampel hingga dua truk FABA untuk dikirim dan diteliti ke Institut Teknologi Surabaya (ITS). Ternyata, setelah diteliti, menurut Sri, FABA itu non toxic dengan kandungannya.

“Salah satu penelitinya Bu Yani, dosen terbaik ITS dibidang FABA, dia sering dikirim ke luar negeri oleh pemerintah Indonesia untuk mempelajari FABA. Setelah tahu tidak beracun, saya langsung ke pihak Kementerian Lingkungan Hidup untuk melaporkannya,” tambah Sri.

Salah satu cara lain untuk membuktikan bahwa FABA itu tidak beracun, Sri bahkan sampai membuat kolam ikan yang bahan bangunannya menggunakan FABA. Hasilnya menurut Sri, ikan-ikan itu tidak mati, malah tumbuh dengan baik.

“Saya juga ke China untuk mempelajari pemanfaatkan FABA, dan ternyata FABA disana sudah dipakai dan sangat berguna untuk konstruksi. Saya pun minta izin pemerintah Indonesia untuk mencobanya. Kalau ternyata bermanfaat, tentu bagus untuk membantu warga di sekitar PLTU yang rumahnya masih bambu. Saya niatkan buatkan FABA untuk warga sekitar PLTU,” pungkas Sri. (*)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Sri Andini Sebut Limbah FABA Bisa Sejahterakan Warga di Sekitar PLTU

...
Wirahadikusumah
Jakarta
9 April 2021 - 17:35 WIB
Bisnis | RILISID
...
Foto: Tangkapan layar webinar, Jumat (9/4/2021).

RILISID, Jakarta — Limbah fly ash dan bottom ash (FABA) yang bisa dikelola di Indonesia mencapai 8 juta ton dengan nilai hingga Rp5 triliun. FABA itu berasal dari limbah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang ada di Indonesia.

“Jumlah 8 juta ton itu sangat potensial untuk pembuatan paving block. Tentu saja pada 2021 ini ada potensi besar untuk menghasilkan pemasukan dari FABA itu, tinggal mau tidak kita memanfaatkannya,” ungkap Brigita Manohara, moderator diskusi webinar PWI Pusat bertema “Mengoptimalkan Pemanfaatan FABA untuk Pembangunan Ekonomi”, Jumat (9/4/2021) di Jakarta.

Apalagi FABA kini sudah ditetapkan menjadi limbah non bahan berbahaya dan beracun (B3).

Hal itulah yang membuat Sri Andini, Komisaris Utama PT. Bukit Pembangkit Inovative, mencoba menelusuri kebermanfaatan FABA di Indonesia.

“Untuk mengetahui beracun atau tidak, saya sampai pegang sendiri FABA itu, ternyata tidak apa-apa,” ungkap Sri yang menjadi salah satu narasumber dalam webinar tersebut.

Lebih lanjut ia mengatakan, ia kemudian mencoba menghubungi teman-temannya yang ahli, untuk bertanya terkait kandungan FABA.

“Kalau beracun tentu kita harus taat aturan, tapi ini saya penasaran karena tidak (beracun),” tambah Sri.

Setelah itu Sri meminta sampel hingga dua truk FABA untuk dikirim dan diteliti ke Institut Teknologi Surabaya (ITS). Ternyata, setelah diteliti, menurut Sri, FABA itu non toxic dengan kandungannya.

“Salah satu penelitinya Bu Yani, dosen terbaik ITS dibidang FABA, dia sering dikirim ke luar negeri oleh pemerintah Indonesia untuk mempelajari FABA. Setelah tahu tidak beracun, saya langsung ke pihak Kementerian Lingkungan Hidup untuk melaporkannya,” tambah Sri.

Salah satu cara lain untuk membuktikan bahwa FABA itu tidak beracun, Sri bahkan sampai membuat kolam ikan yang bahan bangunannya menggunakan FABA. Hasilnya menurut Sri, ikan-ikan itu tidak mati, malah tumbuh dengan baik.

“Saya juga ke China untuk mempelajari pemanfaatkan FABA, dan ternyata FABA disana sudah dipakai dan sangat berguna untuk konstruksi. Saya pun minta izin pemerintah Indonesia untuk mencobanya. Kalau ternyata bermanfaat, tentu bagus untuk membantu warga di sekitar PLTU yang rumahnya masih bambu. Saya niatkan buatkan FABA untuk warga sekitar PLTU,” pungkas Sri. (*)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya