Hampir Setengah Lampung Zona Merah Covid-19
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Hampir Setengah Lampung Zona Merah Covid-19

Bandarlampung
27 Juli 2021 - 12:16 WIB
Breaking News | RILISID
...
Ilustrasi: Rilisid Lampung/Kalbi

RILISID, Bandarlampung — Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 kembali memperbaharui daftar zonasi risiko penyebaran virus corona di seluruh wilayah Indonesia. Termasuk di Lampung.

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, sebanyak tujuh kabupaten dan kota di Lampung ditetapkan sebagai zona merah corona per 25 Juli 2021.

Ketujuh daerah itu adalah Bandarlampung, Metro, Pringsewu, Pesawaran, Lampung Timur, Lampung Selatan, dan Tanggamus.

Jumlah zona merah Covid-19 ini merupakan rekor terbanyak selama pandemi masuk Lampung pada 18 Maret 2020 lalu.

Sementara, terdapat delapan daerah zona oranye. Yakni Lampung Utara, Tulangbawang, Tulangbawang Barat, Lampung Barat, Waykanan, Pesisir Barat, Mesuji, dan Lampung Tengah.

Pada pekan sebelumnya, Lampung memiliki lima zona merah atau risiko tinggi penyebaran dan penularan virus corona.

Satgas Penanganan Covid-19 menetapkan zona merah berdasarkan hasil pembobotan skoring yang diperbaharui secara mingguan berdasarkan sepuluh indikator epidemiologi.

Adapun kesepuluh indikator epidemiologi sebagai berikut:

1. Penurunan jumlah kasus positif dan probable pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

2. Jumlah kasus aktif pada pekan terakhir kecil atau tidak ada

3. Penurunan jumlah meninggal kasus positif pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

4. Penurunan jumlah meninggal kasus suspek pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

5. Penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

6. Penurunan jumlah kasus suspek yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

7. Persentase kumulatif kasus sembuh dari seluruh kasus positif

8. Insiden kumulatif kasus positif per 100,000 penduduk

9. Kecepatan laju insidensi (perubahan insiden kumulatif) per 100,000 penduduk

10. Mortality rate (angka kematian) kasus positif per 100.000 penduduk.

Selain epidemiologi, indikator surveilans kesehatan masyarakat juga dihitung. Di antaranya jumlah pemeriksaan sampel diagnosis mengikuti standar WHO yakni satu orang diperiksa per 1.000 penduduk per minggu pada level provinsi.

Kemudian positivity rate rendah (target ≤5% sampel diagnosis positif dari seluruh kasus yang diperiksa) yang merujuk pada angka provinsi.

Terakhir, indikator pelayanan kesehatan yang meliputi rata-rata angka keterpakaian tempat tidur (TT) isolasi (BOR) dalam satu minggu terakhir pada rumah sakit rujukan COVID-19 cukup untuk menampung pasien di wilayah tersebut dan rata-rata angka keterpakaian TT intensif dalam satu minggu terakhir pada RS rujukan cukup. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Hampir Setengah Lampung Zona Merah Covid-19

...
[email protected]
Bandarlampung
27 Juli 2021 - 12:16 WIB
Breaking News | RILISID
...
Ilustrasi: Rilisid Lampung/Kalbi

RILISID, Bandarlampung — Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 kembali memperbaharui daftar zonasi risiko penyebaran virus corona di seluruh wilayah Indonesia. Termasuk di Lampung.

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, sebanyak tujuh kabupaten dan kota di Lampung ditetapkan sebagai zona merah corona per 25 Juli 2021.

Ketujuh daerah itu adalah Bandarlampung, Metro, Pringsewu, Pesawaran, Lampung Timur, Lampung Selatan, dan Tanggamus.

Jumlah zona merah Covid-19 ini merupakan rekor terbanyak selama pandemi masuk Lampung pada 18 Maret 2020 lalu.

Sementara, terdapat delapan daerah zona oranye. Yakni Lampung Utara, Tulangbawang, Tulangbawang Barat, Lampung Barat, Waykanan, Pesisir Barat, Mesuji, dan Lampung Tengah.

Pada pekan sebelumnya, Lampung memiliki lima zona merah atau risiko tinggi penyebaran dan penularan virus corona.

Satgas Penanganan Covid-19 menetapkan zona merah berdasarkan hasil pembobotan skoring yang diperbaharui secara mingguan berdasarkan sepuluh indikator epidemiologi.

Adapun kesepuluh indikator epidemiologi sebagai berikut:

1. Penurunan jumlah kasus positif dan probable pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

2. Jumlah kasus aktif pada pekan terakhir kecil atau tidak ada

3. Penurunan jumlah meninggal kasus positif pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

4. Penurunan jumlah meninggal kasus suspek pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

5. Penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

6. Penurunan jumlah kasus suspek yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak

7. Persentase kumulatif kasus sembuh dari seluruh kasus positif

8. Insiden kumulatif kasus positif per 100,000 penduduk

9. Kecepatan laju insidensi (perubahan insiden kumulatif) per 100,000 penduduk

10. Mortality rate (angka kematian) kasus positif per 100.000 penduduk.

Selain epidemiologi, indikator surveilans kesehatan masyarakat juga dihitung. Di antaranya jumlah pemeriksaan sampel diagnosis mengikuti standar WHO yakni satu orang diperiksa per 1.000 penduduk per minggu pada level provinsi.

Kemudian positivity rate rendah (target ≤5% sampel diagnosis positif dari seluruh kasus yang diperiksa) yang merujuk pada angka provinsi.

Terakhir, indikator pelayanan kesehatan yang meliputi rata-rata angka keterpakaian tempat tidur (TT) isolasi (BOR) dalam satu minggu terakhir pada rumah sakit rujukan COVID-19 cukup untuk menampung pasien di wilayah tersebut dan rata-rata angka keterpakaian TT intensif dalam satu minggu terakhir pada RS rujukan cukup. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya