Jalan Berliku Kasus Pemerkosaan ODGJ di Tugu Durian, Ini Alasan Polisi Belum Tangkap Pelaku
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Jalan Berliku Kasus Pemerkosaan ODGJ di Tugu Durian, Ini Alasan Polisi Belum Tangkap Pelaku

...
Sulaiman
Bandarlampung
27 Juli 2021 - 21:21 WIB
Hukum | RILISID
...
Ilustrasi korban kekerasan/Kalbi Rikardo

RILISID, Bandarlampung — Kasus pemerkosaan terhadap korban wanita diduga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang terjadi di sekitar Tugu Durian, Kelurahan Sukadanaham, Kecamatan Tanjungkarang Barat (TkB), Kota Bandarlampung yang terjadi pada Jumat (11/6/2021) dinihari lalu, dinyatakan tidak bisa diproses secara hukum.

Menurut Kasatreskrim Polresta Bandarlampung Kompol Resky Maulana Z, kasus tersebut hingga kini belum dapat ditangani, lantaran tidak adanya laporan dari pihak korban.

Korban yang menurutnya ada riwayat ODGJ juga sudah diamankan oleh pihak keluarga setelah sebelumnya ditangani oleh polsek setempat.

"Sampai saat ini belum ada laporan, jadi harus menunggu (adanya laporan). Masalahnya korbannya ODGJ, pelaku juga belum ketemu, dan kita juga kesulitan mengumpulkan keterangan (dari korban)," ungkap Resky ketika dikonfirmasi Jumat lalu.

Namun menurut akademisi Fakultas Hukum Universitas Lampung (FH Unila) Edy Rifai, apabila korban ODGJ tersebut wanita dewasa, maka masuk KUHP. Lalu dalam KUHP tersebut untuk bisa masuk kasus pemerkosaan, harus ada bentuk kekerasan atau ancaman. 

"Jadi korban harus melaporkan mengenai kekerasan. Tetapi apabila itu dikarenakan bujuk rayu atau tipu muslihat,  itu masuknya delik aduan," ungkapnya ketika dimintai keterangan oleh Rilisid Lampung, Minggu (25/7/2021).

Menurutnya, pihak kepolisian tidak bisa langsung menangani kasus tersebut, karena harus ada bukti perbuatannya dilakukan dengan kekerasan.

Kemudian, lanjutnya, apabila korban pingsan, baru dapat terbukti ada tindak kekerasaan atau pemerkosaan. Sehingga walaupun ada bukti rekaman kamera tilang elektronik (ETLE) disana, tapi korbannya tidak melaporkan ada kekerasan, maka tidak bisa memenuhi unsur tindak pidana.

"Berbeda apabila korbannya anak-anak. Walaupun tidak dengan kekerasan dan tanpa ada aduan atau laporan bisa langsung masuk pidana," tukasnya.

Sementara itu, kasus tersebut juga mendapat perhatian serius dari anggota Komisi III DPR RI, Taufik Basari. Menurutnya, ODGJ kerap mendapat diskriminasi dari masyarakat karena dianggap berperilaku menyimpang.

Padahal, lanjutnya, ODGJ juga punya hak untuk mendapatkan perlakuan yang baik, memperoleh perlindungan dan kenyamanan dari negara. 

"Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 148 ayat (1) dan Pasal 149 berbunyi: Pasal 148 ayat (1):Penderita gangguan jiwa mempunyai hak yang sama sebagai warga negara. Pasal 149: Penderita gangguan jiwa yang terlantar, menggelandang, mengancam keselamatan dirinya dan/atau orang lain, dan/atau mengganggu ketertiban dan/atau keamanan umum wajib mendapatkan pengobatan dan perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Di sini jelas seperti apa peran negara terhadap OGDJ," ungkap Taufik. 

Politisi Nasdem yang membidangi hukum itu juga meminta ada keseriusan dan perhatian terhadap para OGDJ, baik dari pemerintah maupun aparat keamanan sehingga hak-hak mereka sebagai warga negara bisa terpenuhi. 

Taufik juga menyoroti peran dari dinas sosial yang dipandang belum maksimal melindungi dan memberikan pendampingan terhadap ODGJ.

Untuk itu, dirinya berharap korban pemerkosaan ODGJ itu harus memperoleh pendampingan, perawatan dan pemulihan secara psikologis. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung diminta memastikan pemulihan korban terwujud.

Ia juga mempertanyakan belum adanya penangkapan pelaku pemerkosaan tersebut untuk segera diproses hukum.

"Para pelaku harus diusut dan jangan sampai masih berkeliaran, karena mereka telah melakukan kejahatan," tegas Taufik. 

Terakhir, Ketua DPW Nasdem Lampung itu juga meminta kelompok masyarakat terutama yang bergerak dalam bidang advokasi dan pendampingan, memberikan perhatian terhadap para ODGJ yang terlantar di jalan.

"Karena tidak menutup kemungkinan masih banyak di luar sana yang mengalami hal serupa," pungkasnya. (*)

Editor : Andry Kurniawan

TAG:

Berita Lainnya

Jalan Berliku Kasus Pemerkosaan ODGJ di Tugu Durian, Ini Alasan Polisi Belum Tangkap Pelaku

...
Sulaiman
Bandarlampung
27 Juli 2021 - 21:21 WIB
Hukum | RILISID
...
Ilustrasi korban kekerasan/Kalbi Rikardo

RILISID, Bandarlampung — Kasus pemerkosaan terhadap korban wanita diduga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang terjadi di sekitar Tugu Durian, Kelurahan Sukadanaham, Kecamatan Tanjungkarang Barat (TkB), Kota Bandarlampung yang terjadi pada Jumat (11/6/2021) dinihari lalu, dinyatakan tidak bisa diproses secara hukum.

Menurut Kasatreskrim Polresta Bandarlampung Kompol Resky Maulana Z, kasus tersebut hingga kini belum dapat ditangani, lantaran tidak adanya laporan dari pihak korban.

Korban yang menurutnya ada riwayat ODGJ juga sudah diamankan oleh pihak keluarga setelah sebelumnya ditangani oleh polsek setempat.

"Sampai saat ini belum ada laporan, jadi harus menunggu (adanya laporan). Masalahnya korbannya ODGJ, pelaku juga belum ketemu, dan kita juga kesulitan mengumpulkan keterangan (dari korban)," ungkap Resky ketika dikonfirmasi Jumat lalu.

Namun menurut akademisi Fakultas Hukum Universitas Lampung (FH Unila) Edy Rifai, apabila korban ODGJ tersebut wanita dewasa, maka masuk KUHP. Lalu dalam KUHP tersebut untuk bisa masuk kasus pemerkosaan, harus ada bentuk kekerasan atau ancaman. 

"Jadi korban harus melaporkan mengenai kekerasan. Tetapi apabila itu dikarenakan bujuk rayu atau tipu muslihat,  itu masuknya delik aduan," ungkapnya ketika dimintai keterangan oleh Rilisid Lampung, Minggu (25/7/2021).

Menurutnya, pihak kepolisian tidak bisa langsung menangani kasus tersebut, karena harus ada bukti perbuatannya dilakukan dengan kekerasan.

Kemudian, lanjutnya, apabila korban pingsan, baru dapat terbukti ada tindak kekerasaan atau pemerkosaan. Sehingga walaupun ada bukti rekaman kamera tilang elektronik (ETLE) disana, tapi korbannya tidak melaporkan ada kekerasan, maka tidak bisa memenuhi unsur tindak pidana.

"Berbeda apabila korbannya anak-anak. Walaupun tidak dengan kekerasan dan tanpa ada aduan atau laporan bisa langsung masuk pidana," tukasnya.

Sementara itu, kasus tersebut juga mendapat perhatian serius dari anggota Komisi III DPR RI, Taufik Basari. Menurutnya, ODGJ kerap mendapat diskriminasi dari masyarakat karena dianggap berperilaku menyimpang.

Padahal, lanjutnya, ODGJ juga punya hak untuk mendapatkan perlakuan yang baik, memperoleh perlindungan dan kenyamanan dari negara. 

"Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 148 ayat (1) dan Pasal 149 berbunyi: Pasal 148 ayat (1):Penderita gangguan jiwa mempunyai hak yang sama sebagai warga negara. Pasal 149: Penderita gangguan jiwa yang terlantar, menggelandang, mengancam keselamatan dirinya dan/atau orang lain, dan/atau mengganggu ketertiban dan/atau keamanan umum wajib mendapatkan pengobatan dan perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Di sini jelas seperti apa peran negara terhadap OGDJ," ungkap Taufik. 

Politisi Nasdem yang membidangi hukum itu juga meminta ada keseriusan dan perhatian terhadap para OGDJ, baik dari pemerintah maupun aparat keamanan sehingga hak-hak mereka sebagai warga negara bisa terpenuhi. 

Taufik juga menyoroti peran dari dinas sosial yang dipandang belum maksimal melindungi dan memberikan pendampingan terhadap ODGJ.

Untuk itu, dirinya berharap korban pemerkosaan ODGJ itu harus memperoleh pendampingan, perawatan dan pemulihan secara psikologis. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung diminta memastikan pemulihan korban terwujud.

Ia juga mempertanyakan belum adanya penangkapan pelaku pemerkosaan tersebut untuk segera diproses hukum.

"Para pelaku harus diusut dan jangan sampai masih berkeliaran, karena mereka telah melakukan kejahatan," tegas Taufik. 

Terakhir, Ketua DPW Nasdem Lampung itu juga meminta kelompok masyarakat terutama yang bergerak dalam bidang advokasi dan pendampingan, memberikan perhatian terhadap para ODGJ yang terlantar di jalan.

"Karena tidak menutup kemungkinan masih banyak di luar sana yang mengalami hal serupa," pungkasnya. (*)

Editor : Andry Kurniawan

TAG:

Berita Lainnya