Sidang Korupsi Benih Jagung Digelar, Kerugian Negara Ditetapkan Rp7,5 M
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Sidang Korupsi Benih Jagung Digelar, Kerugian Negara Ditetapkan Rp7,5 M

...
Sulaiman
Bandarlampung
13 Oktober 2021 - 21:31 WIB
Hukum | RILISID
...
Sidang kasus korupsi benih jagung di PN Tanjungkarang, Rabu (13/10/2021). Foto: Istimewa

RILISID, Bandarlampung — Dua terdakwa kasus korupsi benih jagung menjalani sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang, Rabu (13/10/2021).

Benih jagung merupakan bantuan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, yang dialokasikan untuk Lampung pada 2017.

Nah, alokasi ini mampir ke tangan Direktur PT Dempo Agro Pratama Inti Imam Mashuri dan mantan kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Lampung Edi Yanto.

"Keduanya kini jadi terdakwa dan ditahan di Rutan Kelas I Bandarlampung," ujar Kasi Penkum Kejati Lampung I Made Agus Putra. 

"Setelah pembacaan dakwaan sidang akan dilanjutkan pada Kamis (21/10/2021). Dengan agenda pembacaan eksepsi dari terdakwa melalui penasehat hukum," ungkapnya melalui keterangan tertulis.

Kedua terdakwa dijerat melanggar Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 31 tahun 1999.

Ini sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 tahun 1999 jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Vita Hestiningrum memaparkan, Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lampung mendapat bantuan benih jagung dengan besaran Rp145,6 miliar. Benih untuk ditanam di luasan lahan 189.720 hektare. 

Kemudian pada awal tahun 2017, Edi Yanto memerintahkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Herlin Retnowati (meninggal pada proses penyidikan), agar pengadaan jagung hibrida Balitbangtan ini diberikan kepada terdakwa Imam Mashuri. 

Sementara, perusahan tersebut tidak tercantum dalam daftar penerima. Kemudian oleh Edi, peusahaan tersebut dimasukan dalam daftar dengan tiga perusahaan lain.

Perusahaan dimaksud adalah CV Karya sentosa Makmur, PT Harmoni Global Lestari, dan CV Bintang Tani Dirgantara.

Hal itu ditandatangani pada 30 Januari 2017 dan diserahkan kepada tersangka Alam Herlin 

"Setelah itu dibentuk panitia terkait pengadaan benih jagung tersebut yakni dengan ketua Hermalia dan sekretaris Andi Widjonarko," paparnya saat membacakan dakwaan.

Kemudian dalam proses pengadaan tahap I, PT Dempo, hanya menyerahkan 10.800 kg dari PT Esa Sarwaguna Adinata dan 89.000 benih dibeli dari pasar bebas.

Benih sudah kedaluwarsa dan tidak diketahui mutu dan kualitas benihnya. 

Padahal, seharusnya diserahkan 100.125 benih jagung hibrida Balitbangtan varietas Bima 20 Uri dengan nilai kontrak Rp3,5 miliar. 

"62.000 kg dibeli dari free market di Jember, Jawa Timur dan 28.000 kg dari Jawa barat dan Palembang," urainya. 

Meski hal itu tidak sesuai dengan surat perjanjian kerja, terdakwa Edi Yanto telah melakukan pembayaran 100 persen. 

Kemudian, untuk pengadaan tahap III, Imam seharusnya mengadakan benih jagung hibrida Balitbangtan varietas Bima 20 Uri sebanyak 300.000 kg, dengan nilai kontrak Rp10,5 miliar. 

Namun, Imam hanya mengadakan 57.000 kg benih yang dibeli dari PT Esa Sarwaguna Adinata dan 243.000 kg dari free market.

Di mana, sebanyak 200.000 kg dibeli di Jember, Jawa Timur. Tapi, ini tetap dibayarkan 100 persen dalam dua tahap 

Akibatnya, dari hasil audit akuntan publik, terdapat kerugian negara Rp7,5 miliar.

Rinciannya, pada tahap I dari anggaran Rp3,5 Miliar terdapat kerugian Rp3,3 miliar.

"Sementara pada tahap II dengan nilai anggaran Rp10,5 miliar terdapat kerugian negara Rp4,2 mliar," jelasnya. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya

Sidang Korupsi Benih Jagung Digelar, Kerugian Negara Ditetapkan Rp7,5 M

...
Sulaiman
Bandarlampung
13 Oktober 2021 - 21:31 WIB
Hukum | RILISID
...
Sidang kasus korupsi benih jagung di PN Tanjungkarang, Rabu (13/10/2021). Foto: Istimewa

RILISID, Bandarlampung — Dua terdakwa kasus korupsi benih jagung menjalani sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang, Rabu (13/10/2021).

Benih jagung merupakan bantuan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, yang dialokasikan untuk Lampung pada 2017.

Nah, alokasi ini mampir ke tangan Direktur PT Dempo Agro Pratama Inti Imam Mashuri dan mantan kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Lampung Edi Yanto.

"Keduanya kini jadi terdakwa dan ditahan di Rutan Kelas I Bandarlampung," ujar Kasi Penkum Kejati Lampung I Made Agus Putra. 

"Setelah pembacaan dakwaan sidang akan dilanjutkan pada Kamis (21/10/2021). Dengan agenda pembacaan eksepsi dari terdakwa melalui penasehat hukum," ungkapnya melalui keterangan tertulis.

Kedua terdakwa dijerat melanggar Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 31 tahun 1999.

Ini sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 tahun 1999 jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Vita Hestiningrum memaparkan, Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lampung mendapat bantuan benih jagung dengan besaran Rp145,6 miliar. Benih untuk ditanam di luasan lahan 189.720 hektare. 

Kemudian pada awal tahun 2017, Edi Yanto memerintahkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Herlin Retnowati (meninggal pada proses penyidikan), agar pengadaan jagung hibrida Balitbangtan ini diberikan kepada terdakwa Imam Mashuri. 

Sementara, perusahan tersebut tidak tercantum dalam daftar penerima. Kemudian oleh Edi, peusahaan tersebut dimasukan dalam daftar dengan tiga perusahaan lain.

Perusahaan dimaksud adalah CV Karya sentosa Makmur, PT Harmoni Global Lestari, dan CV Bintang Tani Dirgantara.

Hal itu ditandatangani pada 30 Januari 2017 dan diserahkan kepada tersangka Alam Herlin 

"Setelah itu dibentuk panitia terkait pengadaan benih jagung tersebut yakni dengan ketua Hermalia dan sekretaris Andi Widjonarko," paparnya saat membacakan dakwaan.

Kemudian dalam proses pengadaan tahap I, PT Dempo, hanya menyerahkan 10.800 kg dari PT Esa Sarwaguna Adinata dan 89.000 benih dibeli dari pasar bebas.

Benih sudah kedaluwarsa dan tidak diketahui mutu dan kualitas benihnya. 

Padahal, seharusnya diserahkan 100.125 benih jagung hibrida Balitbangtan varietas Bima 20 Uri dengan nilai kontrak Rp3,5 miliar. 

"62.000 kg dibeli dari free market di Jember, Jawa Timur dan 28.000 kg dari Jawa barat dan Palembang," urainya. 

Meski hal itu tidak sesuai dengan surat perjanjian kerja, terdakwa Edi Yanto telah melakukan pembayaran 100 persen. 

Kemudian, untuk pengadaan tahap III, Imam seharusnya mengadakan benih jagung hibrida Balitbangtan varietas Bima 20 Uri sebanyak 300.000 kg, dengan nilai kontrak Rp10,5 miliar. 

Namun, Imam hanya mengadakan 57.000 kg benih yang dibeli dari PT Esa Sarwaguna Adinata dan 243.000 kg dari free market.

Di mana, sebanyak 200.000 kg dibeli di Jember, Jawa Timur. Tapi, ini tetap dibayarkan 100 persen dalam dua tahap 

Akibatnya, dari hasil audit akuntan publik, terdapat kerugian negara Rp7,5 miliar.

Rinciannya, pada tahap I dari anggaran Rp3,5 Miliar terdapat kerugian Rp3,3 miliar.

"Sementara pada tahap II dengan nilai anggaran Rp10,5 miliar terdapat kerugian negara Rp4,2 mliar," jelasnya. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya