Fina dan Suami ‘Sembuh’ Berkat Lagu Terpesona, Sosiolog Anjurkan Kreatif di Masa Pandemi
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Fina dan Suami ‘Sembuh’ Berkat Lagu Terpesona, Sosiolog Anjurkan Kreatif di Masa Pandemi

...
Andry Kurniawan
Bandarlampung
19 Juli 2021 - 20:39 WIB
Humaniora | RILISID
...
Ilustrasi/Kalbi Rikardo

RILISID, Bandarlampung — Fina Apriliana dan suaminya Dadang tak pernah menduga akan terpapar covid-19. Sebab, keduanya sudah menerapkan protokol kesehatan (prokes) dalam kegiatan sehari-hari, termasuk kepada anak-anaknya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Keduanya drop dalam waktu bergantian sekitar akhir Juni 2021.

“Awalnya suami duluan. Gejalanya menggigil, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan, batuk, hidung mampet, dan mulut pahit. Kami pikir masuk angin biasa, belum berpikir itu (gejala) covid,” kata Fina yang saat diwawancara pada Minggu (18/7/2021) via daring, belum lama selesai isolasi mandiri.

Warga Desa Sukaraja, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran itu dalam pikirannya terus menolak terpapar virus itu. Namun tiga hari setelah sang suami pertama mengalami gajala tersebut, Fina mulai mengalami gajala yang sama.

“Masih sempat hanya dipijat dan dikerik biasa, minum obat-obat sendiri, ya herbal ya kimia. Kalau saya sempat diinfus juga, tapi di rumah, soalnya sehari drop sehari sehari gitu sampai enam hari,” kisah Fina lagi.

Setelah sekitar 7-10 hari merawat diri berdua di rumah (karena suami Fina adalah tenaga kesehatan di Rumah Sakit Mitra Husada, Pringsewu dan Fina sendiri adalah ASN kesehatan di Kabupaten Pesawaran), mereka memutuskan swab antigen.

Benar saja. Setelah sebelumnya Fina juga merasa ada yang tidak beres, hasil tes menunjukkan keduanya terkonfirmasi positif. Namun karena hasil tes saturasinya bagus, mereka disarankan isolasi mandiri di rumah dan diberi obat khusus covid.

Setelah itu semuanya tak lagi sama. Mereka harus berdua saja di rumah. Anak-anak dititip ke orang tua Fina dan suaminya.

Kegiatan sehari-hari di rumah menjadi aktivitas monoton yang berulang; minum obat, memaksa makan walau terasa pahit, latihan pernafasan, berjemur, sering berkumur dengan betadine, hingga cuci hidung dengan uap garam.

“Alhamdulillahnya anak-anak sehat, mungkin imun tubuh mereka lebih bagus. Kami juga harus berpikir harus segera sembuh biar kumpul lagi sama anak-anak. Kuncinya jangan berpikiran negatif. Dibawa santai,” saran Fina.

Ia juga menyarankan jangan takut atau malu untuk memberitahu keluarga, teman, hingga tetangga. Hal itu untuk mengurangi interaksi. Beruntungnya, kata Fina, semua memberi dukungan baik moril maupun materil. Dari memberi semangat sembuh lewat media, hingga mengirimkan makanan.

“Kalau kangen anak langsung video call, sekarang sudah gampang. Pokoknya jangan kasih kesempatan otak berpikir yang enggak-enggak. Isi waktu isolasi mandiri dengan kegiatan,” saran Fina lagi.

Sebagai salah satu cara menguatkan imun tubuh, Fina dan suami bahkan menganggap waktu isolasi mandiri berdua itu sebagai bulan madu.

“Karena anak-anak gak ada di rumah, ya anggap saja honeymoon. Jadi selesai kerjaan rumah ya kami ngobrol, nonton televisi, bermanja-manja, dan nyanyi bareng. Suami saya yang main gitar sambil nyanyi, saya ikut juga. Lagu yang paling sering kai nyanyiin itu ‘Terpesona, Aku Terpesona’,” kisah Fina.

Hadapi Pandemi, Sosiolog Sarankan Asah Kreativitas

Menurut salah seorang akademisi Sosiologi Universitas Lampung (Unila) Dr. Bartoven Vivit Nurdin, stres saat masa pandemi sudah pasti. Namun yang terpenting kini adalah bagaimana kita bisa selalu inisiatif dan selalu berinovasi.

“Alihkan pikiran untuk lebih produktif. Misalnya alihkan ke hobi yang menghasilkan supaya pikiran teralihkan. Bisa juga berjualan online,” ungkapnya kepada Rilisid Lampung, Minggu (19/7/2021).

Sebab, menurut Kepala Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila itu, orang selalu berpikir akan makan apa besok, apalagi yang tidak memiliki gaji tetap.

Vivit, biasa ia dipanggil juga menyarankan masyarakat harus mengontrol bantuan yang diberikan pemerintah agar tepat sasaran.

“Kita juga tidak bisa bersikap baik-baik saja. Harus kreatif. Masyarakat harus gotong royong untuk saling membantu. Lakukan apapun untuk bertahan hidup, tapi tentu hal-hal yang positif,” terus Doktor Antropologi itu juga.

Meski dalam kondisi terjepit, masyarakat diharapkan tidak berpikiran pendek. Harus terus semangat dan berusaha untuk menghidupi keluarga.

Masyarakat juga tidak jangan sampai termakan referensi liar dari media sosial yang menyesatkan, misalnya soal pro kontra vaksin. Masyarakat juga harus cerdas memilih dan memilah informasi.

Senada dengan Vivit, Fina juga mengatakan masyarakat harus lebih berempati. Jika tidak paham terhadap masalahnya, Lebih baik diam dan jangan malah menyebar informasi hoaks.

“Menurut saya memang cukup sulit memutus penyebaran covid-19, karena justru masyarakat banyak yang takut berobat saat merasa bergejala. Jadi harusnya dia isolasi mandiri, tapi karena tidak tahu dia malah bepergian kemana-mana,” papar Fina lagi.

Ia juga berharap ada semacam kampanye yang tujuannya mengedukasi masyarakat, bahwa yang terpapar covid harapan sembuhnya juga besar. (*)

Editor : Andry Kurniawan

TAG:

Berita Lainnya

Fina dan Suami ‘Sembuh’ Berkat Lagu Terpesona, Sosiolog Anjurkan Kreatif di Masa Pandemi

...
Andry Kurniawan
Bandarlampung
19 Juli 2021 - 20:39 WIB
Humaniora | RILISID
...
Ilustrasi/Kalbi Rikardo

RILISID, Bandarlampung — Fina Apriliana dan suaminya Dadang tak pernah menduga akan terpapar covid-19. Sebab, keduanya sudah menerapkan protokol kesehatan (prokes) dalam kegiatan sehari-hari, termasuk kepada anak-anaknya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Keduanya drop dalam waktu bergantian sekitar akhir Juni 2021.

“Awalnya suami duluan. Gejalanya menggigil, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan, batuk, hidung mampet, dan mulut pahit. Kami pikir masuk angin biasa, belum berpikir itu (gejala) covid,” kata Fina yang saat diwawancara pada Minggu (18/7/2021) via daring, belum lama selesai isolasi mandiri.

Warga Desa Sukaraja, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran itu dalam pikirannya terus menolak terpapar virus itu. Namun tiga hari setelah sang suami pertama mengalami gajala tersebut, Fina mulai mengalami gajala yang sama.

“Masih sempat hanya dipijat dan dikerik biasa, minum obat-obat sendiri, ya herbal ya kimia. Kalau saya sempat diinfus juga, tapi di rumah, soalnya sehari drop sehari sehari gitu sampai enam hari,” kisah Fina lagi.

Setelah sekitar 7-10 hari merawat diri berdua di rumah (karena suami Fina adalah tenaga kesehatan di Rumah Sakit Mitra Husada, Pringsewu dan Fina sendiri adalah ASN kesehatan di Kabupaten Pesawaran), mereka memutuskan swab antigen.

Benar saja. Setelah sebelumnya Fina juga merasa ada yang tidak beres, hasil tes menunjukkan keduanya terkonfirmasi positif. Namun karena hasil tes saturasinya bagus, mereka disarankan isolasi mandiri di rumah dan diberi obat khusus covid.

Setelah itu semuanya tak lagi sama. Mereka harus berdua saja di rumah. Anak-anak dititip ke orang tua Fina dan suaminya.

Kegiatan sehari-hari di rumah menjadi aktivitas monoton yang berulang; minum obat, memaksa makan walau terasa pahit, latihan pernafasan, berjemur, sering berkumur dengan betadine, hingga cuci hidung dengan uap garam.

“Alhamdulillahnya anak-anak sehat, mungkin imun tubuh mereka lebih bagus. Kami juga harus berpikir harus segera sembuh biar kumpul lagi sama anak-anak. Kuncinya jangan berpikiran negatif. Dibawa santai,” saran Fina.

Ia juga menyarankan jangan takut atau malu untuk memberitahu keluarga, teman, hingga tetangga. Hal itu untuk mengurangi interaksi. Beruntungnya, kata Fina, semua memberi dukungan baik moril maupun materil. Dari memberi semangat sembuh lewat media, hingga mengirimkan makanan.

“Kalau kangen anak langsung video call, sekarang sudah gampang. Pokoknya jangan kasih kesempatan otak berpikir yang enggak-enggak. Isi waktu isolasi mandiri dengan kegiatan,” saran Fina lagi.

Sebagai salah satu cara menguatkan imun tubuh, Fina dan suami bahkan menganggap waktu isolasi mandiri berdua itu sebagai bulan madu.

“Karena anak-anak gak ada di rumah, ya anggap saja honeymoon. Jadi selesai kerjaan rumah ya kami ngobrol, nonton televisi, bermanja-manja, dan nyanyi bareng. Suami saya yang main gitar sambil nyanyi, saya ikut juga. Lagu yang paling sering kai nyanyiin itu ‘Terpesona, Aku Terpesona’,” kisah Fina.

Hadapi Pandemi, Sosiolog Sarankan Asah Kreativitas

Menurut salah seorang akademisi Sosiologi Universitas Lampung (Unila) Dr. Bartoven Vivit Nurdin, stres saat masa pandemi sudah pasti. Namun yang terpenting kini adalah bagaimana kita bisa selalu inisiatif dan selalu berinovasi.

“Alihkan pikiran untuk lebih produktif. Misalnya alihkan ke hobi yang menghasilkan supaya pikiran teralihkan. Bisa juga berjualan online,” ungkapnya kepada Rilisid Lampung, Minggu (19/7/2021).

Sebab, menurut Kepala Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila itu, orang selalu berpikir akan makan apa besok, apalagi yang tidak memiliki gaji tetap.

Vivit, biasa ia dipanggil juga menyarankan masyarakat harus mengontrol bantuan yang diberikan pemerintah agar tepat sasaran.

“Kita juga tidak bisa bersikap baik-baik saja. Harus kreatif. Masyarakat harus gotong royong untuk saling membantu. Lakukan apapun untuk bertahan hidup, tapi tentu hal-hal yang positif,” terus Doktor Antropologi itu juga.

Meski dalam kondisi terjepit, masyarakat diharapkan tidak berpikiran pendek. Harus terus semangat dan berusaha untuk menghidupi keluarga.

Masyarakat juga tidak jangan sampai termakan referensi liar dari media sosial yang menyesatkan, misalnya soal pro kontra vaksin. Masyarakat juga harus cerdas memilih dan memilah informasi.

Senada dengan Vivit, Fina juga mengatakan masyarakat harus lebih berempati. Jika tidak paham terhadap masalahnya, Lebih baik diam dan jangan malah menyebar informasi hoaks.

“Menurut saya memang cukup sulit memutus penyebaran covid-19, karena justru masyarakat banyak yang takut berobat saat merasa bergejala. Jadi harusnya dia isolasi mandiri, tapi karena tidak tahu dia malah bepergian kemana-mana,” papar Fina lagi.

Ia juga berharap ada semacam kampanye yang tujuannya mengedukasi masyarakat, bahwa yang terpapar covid harapan sembuhnya juga besar. (*)

Editor : Andry Kurniawan

TAG:

Berita Lainnya