Merasa Terabaikan, Agen Wisata dan Travel akan Kirim Surat Terbuka ke Arinal dan Eva
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Merasa Terabaikan, Agen Wisata dan Travel akan Kirim Surat Terbuka ke Arinal dan Eva

...
Dwi Des Saputra
Bandarlampung
25 Juli 2021 - 15:19 WIB
Humaniora | RILISID
...
Ketua Bidang DPP ASITA Adi Susanto. FOTO: Istimewa

RILISID, Bandarlampung — Pelaku usaha agen perjalanan wisata di Lampung berencana mengirimkan surat terbuka untuk Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, dan Wali Kota Bandarlampung Eva Dwiana.

Rencana itu adalah bentuk ketidakpuasan atas kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak terhadap para pengusaha wisata, yang telah bekerja menghadirkan wisatawan ke Lampung.

Adi Susanto, pelaku wisata anggota Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) mengatakan, semenjak pandemik covid-19 melanda di Lampung, belum ada satupun bentuk perhatian terhadap para pelaku agen wisata.

"Jangankan bentuk pemberian bantuan, ucapan dukungan prihatin saja tidak pernah disampaikan," ungkap Adi saat dikonfirmasi Rilisid Lampung, Minggu (25/7/2021).

Ia menegaskan sangat mendukung kebijakan pemerintah menerapkan PPKM Mikro, Darurat, maupun Level 4 di Bandarlampung. Namun, bentuk perhatian kepada para pengusaha agen travel yang selama ini berhasil mempromosikan dan mewarkan pariwisata Lampung, tidak ada sama sekali.

"Kami taati setiap kebijakan dan aturan pemerintah. Namun kami juga punya tanggungan, mulai dari listrik, gaji karyawan, sampai membayar pajak, belum lagi ada angsuran yang harus kami bayar," ujar pengusaha agen travel ini.

Adi juga mengaku saat ini sudah merumahkan karyawan yang selama ini bekerja kepadanya. Hal itu dilakukan karena usaha agen wisata adalah yang paling terpuruk akibat pandemi.

Menurutnya, Arinal Djunaidi dan Eva Dwiana harus memberikan solusi kepada para pelaku usaha wisata. Misalnya, melibatkan para pelaku wisata untuk penyediaan hand sanitizer, masker, disinfektan dan lainya. 

"Bisa memakai produk pelaku wisata dan tidak membeli dari luar Lampung. Karena uangnya akan terus berputar di Lampung, dan selain itu membantu kehidupan kami," papar Adi yang juga Ketua Bidang DPP Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) itu. 

Sementara Adi juga mengkritisi kebijakan Wali Kota Eva yang menyegel Bakso Son Hajisony karena berdampak terhadap wisata. 

"Wisatawan dari luar Lampung yang berkunjung selalu ingin sepaket dengan makan Bakso Sony (sebutan umum Bakso Son Hajisony), maka secara tidak langsung Bakso Sony ikon kuliner Lampung,” imbuhnya.

Pemerintah, terus Adi, harusnya memberikan kail untuk mencari penghidupan para pelaku usaha agen wisata.

"Kami tidak ingin mengemis ke pemerintah dengan bantuan seperti uang atau beras. Tetapi lihat juga upaya kami selama ini menggaet para wisatawatan. Mulai dari penginapan, restoran, pedagang oleh-oleh, sampai pedangan asongan kecil ikut kebagian rejeki dengan adanya wisatawan. Pikirkan nasib kami juga, kami juga butuh penghidupan di saat pandemi ini," pungkasnya. (*)

Editor : Andry Kurniawan

TAG:

Berita Lainnya

Merasa Terabaikan, Agen Wisata dan Travel akan Kirim Surat Terbuka ke Arinal dan Eva

...
Dwi Des Saputra
Bandarlampung
25 Juli 2021 - 15:19 WIB
Humaniora | RILISID
...
Ketua Bidang DPP ASITA Adi Susanto. FOTO: Istimewa

RILISID, Bandarlampung — Pelaku usaha agen perjalanan wisata di Lampung berencana mengirimkan surat terbuka untuk Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, dan Wali Kota Bandarlampung Eva Dwiana.

Rencana itu adalah bentuk ketidakpuasan atas kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak terhadap para pengusaha wisata, yang telah bekerja menghadirkan wisatawan ke Lampung.

Adi Susanto, pelaku wisata anggota Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) mengatakan, semenjak pandemik covid-19 melanda di Lampung, belum ada satupun bentuk perhatian terhadap para pelaku agen wisata.

"Jangankan bentuk pemberian bantuan, ucapan dukungan prihatin saja tidak pernah disampaikan," ungkap Adi saat dikonfirmasi Rilisid Lampung, Minggu (25/7/2021).

Ia menegaskan sangat mendukung kebijakan pemerintah menerapkan PPKM Mikro, Darurat, maupun Level 4 di Bandarlampung. Namun, bentuk perhatian kepada para pengusaha agen travel yang selama ini berhasil mempromosikan dan mewarkan pariwisata Lampung, tidak ada sama sekali.

"Kami taati setiap kebijakan dan aturan pemerintah. Namun kami juga punya tanggungan, mulai dari listrik, gaji karyawan, sampai membayar pajak, belum lagi ada angsuran yang harus kami bayar," ujar pengusaha agen travel ini.

Adi juga mengaku saat ini sudah merumahkan karyawan yang selama ini bekerja kepadanya. Hal itu dilakukan karena usaha agen wisata adalah yang paling terpuruk akibat pandemi.

Menurutnya, Arinal Djunaidi dan Eva Dwiana harus memberikan solusi kepada para pelaku usaha wisata. Misalnya, melibatkan para pelaku wisata untuk penyediaan hand sanitizer, masker, disinfektan dan lainya. 

"Bisa memakai produk pelaku wisata dan tidak membeli dari luar Lampung. Karena uangnya akan terus berputar di Lampung, dan selain itu membantu kehidupan kami," papar Adi yang juga Ketua Bidang DPP Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) itu. 

Sementara Adi juga mengkritisi kebijakan Wali Kota Eva yang menyegel Bakso Son Hajisony karena berdampak terhadap wisata. 

"Wisatawan dari luar Lampung yang berkunjung selalu ingin sepaket dengan makan Bakso Sony (sebutan umum Bakso Son Hajisony), maka secara tidak langsung Bakso Sony ikon kuliner Lampung,” imbuhnya.

Pemerintah, terus Adi, harusnya memberikan kail untuk mencari penghidupan para pelaku usaha agen wisata.

"Kami tidak ingin mengemis ke pemerintah dengan bantuan seperti uang atau beras. Tetapi lihat juga upaya kami selama ini menggaet para wisatawatan. Mulai dari penginapan, restoran, pedagang oleh-oleh, sampai pedangan asongan kecil ikut kebagian rejeki dengan adanya wisatawan. Pikirkan nasib kami juga, kami juga butuh penghidupan di saat pandemi ini," pungkasnya. (*)

Editor : Andry Kurniawan

TAG:

Berita Lainnya