Walhi Lampung: 30 Bukit di Bandarlampung Rusak, Sisa Tiga yang Utuh
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Walhi Lampung: 30 Bukit di Bandarlampung Rusak, Sisa Tiga yang Utuh

...
Sulaiman
Bandarlampung
17 Juli 2021 - 13:49 WIB
Humaniora | RILISID
...
Potongan gambar webinar kajian lingkungan hidup bersama HMJ ilmu Pemerintahan Unila, Jumat (17/7/2021).

RILISID, Bandarlampung — Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung menyebut hanya tiga dari 33 bukit di Bandarlampung yang masih utuh. Sisanya, hancur dieksploitasi. 

Tiga bukit yang utuh adalah, pertama, Gunung Sulah di Kelurahan Gunung Sulah Kecamatan Wayhalim.

Kedua, Gunung Banten di Kelurahan Sidodadi Kecamatan Kedaton. 

Ketiga, Bukit Kucing di Kelurahan Gunungaagung Kecamatan Langkapura.

Direktur Eksekutif Walhi Lampung, Irfan Tri Musri, mengungkapkan hal ini dalam Webinar Kajian Lingkungan Hidup, Jumat (16/7/2021). 

Acara bertema Eksploitasi Versus Advokasi Studi Kasus Penggunaan Lahan Bukit Kota Bandarlampung diselenggarakan oleh Walhi dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Pemerintahan Universitas Lampung. 

Menurut Irfan, semakin sedikitnya perbukitan menyebabkan tidak ada lagi daerah dengan daya tangkap air.

Selain itu, menghilangkan fungsi ekologis dan kalpataru, memunculkan potensi bencana ekologis, dan menjadikan tata kota kurang baik.

"Solusinya, perlu pembangunan yang memiliki keberlanjutan lingkungan, ekonomi, dan sosial," ungkap Irfan dalam siaran pers yang diterima Rilisidlampung, Sabtu (17/7/2021).

Irfan menerangkan, yang dimaksud dengan keberlanjutan lingkungan yakni pembangunan harus mampu menghindari eksploitasi.

Juga mampu memelihara sumberdaya yang stabil, fungsi lingkungan, keanekaragaman hayati, stabilitas ruang udara, dan fungsi ekosistem lainnya, yang tidak termasuk kategori sumber ekonomi. 

"Sementara keberlanjutan sosial diartikan sebagai sistem yang mampu mencapai kesetaraan, menyediakan layanan sosial termasuk kesehatan, pendidikan, gender, dan akuntabilitas politik," ujarnya.

Sementara itu, Dosen Ilmu Pemerintahan Unila Darmawan Purba, menyebut akibat hilangnya kawasan konservasi dan masifnya aktivitas ekploitasi lahan bukit di Bandarlampung, muncul berbagai macam bencana, baik tanah longsor hingga bencana banjir. 

"Tercatat hingga tahun 2019 tingkat kerusakan bukit di Kota Bandarlampung mencapai lebih dari 80 persen mulai dari rusak ringan, sedang, hingga  berat," ujarnya. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya

Walhi Lampung: 30 Bukit di Bandarlampung Rusak, Sisa Tiga yang Utuh

...
Sulaiman
Bandarlampung
17 Juli 2021 - 13:49 WIB
Humaniora | RILISID
...
Potongan gambar webinar kajian lingkungan hidup bersama HMJ ilmu Pemerintahan Unila, Jumat (17/7/2021).

RILISID, Bandarlampung — Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung menyebut hanya tiga dari 33 bukit di Bandarlampung yang masih utuh. Sisanya, hancur dieksploitasi. 

Tiga bukit yang utuh adalah, pertama, Gunung Sulah di Kelurahan Gunung Sulah Kecamatan Wayhalim.

Kedua, Gunung Banten di Kelurahan Sidodadi Kecamatan Kedaton. 

Ketiga, Bukit Kucing di Kelurahan Gunungaagung Kecamatan Langkapura.

Direktur Eksekutif Walhi Lampung, Irfan Tri Musri, mengungkapkan hal ini dalam Webinar Kajian Lingkungan Hidup, Jumat (16/7/2021). 

Acara bertema Eksploitasi Versus Advokasi Studi Kasus Penggunaan Lahan Bukit Kota Bandarlampung diselenggarakan oleh Walhi dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Pemerintahan Universitas Lampung. 

Menurut Irfan, semakin sedikitnya perbukitan menyebabkan tidak ada lagi daerah dengan daya tangkap air.

Selain itu, menghilangkan fungsi ekologis dan kalpataru, memunculkan potensi bencana ekologis, dan menjadikan tata kota kurang baik.

"Solusinya, perlu pembangunan yang memiliki keberlanjutan lingkungan, ekonomi, dan sosial," ungkap Irfan dalam siaran pers yang diterima Rilisidlampung, Sabtu (17/7/2021).

Irfan menerangkan, yang dimaksud dengan keberlanjutan lingkungan yakni pembangunan harus mampu menghindari eksploitasi.

Juga mampu memelihara sumberdaya yang stabil, fungsi lingkungan, keanekaragaman hayati, stabilitas ruang udara, dan fungsi ekosistem lainnya, yang tidak termasuk kategori sumber ekonomi. 

"Sementara keberlanjutan sosial diartikan sebagai sistem yang mampu mencapai kesetaraan, menyediakan layanan sosial termasuk kesehatan, pendidikan, gender, dan akuntabilitas politik," ujarnya.

Sementara itu, Dosen Ilmu Pemerintahan Unila Darmawan Purba, menyebut akibat hilangnya kawasan konservasi dan masifnya aktivitas ekploitasi lahan bukit di Bandarlampung, muncul berbagai macam bencana, baik tanah longsor hingga bencana banjir. 

"Tercatat hingga tahun 2019 tingkat kerusakan bukit di Kota Bandarlampung mencapai lebih dari 80 persen mulai dari rusak ringan, sedang, hingga  berat," ujarnya. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya