Arah Pertumbuhan Ekonomi Lampung dari Perspektif Persaingan Usaha
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Arah Pertumbuhan Ekonomi Lampung dari Perspektif Persaingan Usaha

Bandarlampung
29 Desember 2021 - 22:02 WIB
Perspektif | RILISID
...
Kepala Kantor KPPU Wilayah II Wahyu Bekti Anggoro. Foto: Istimewa

RILISID, Bandarlampung — BARU saja Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bersama Tim Peneliti CEDS-Universitas Padjadjaran mengumumkan bahwa indeks persaingan usaha tahun 2021 di Indonesia mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Nilainya mengalami peningkatan dari 4,65 menjadi 4,81. Tentunya data ini menunjukan bahwa tingkat persaingan usaha di Indonesia membaik, meskipun di tengah pandemi Covid-19.

Jika dilihat dari peringkat daerah, Provinsi Lampung berada di peringkat ke-5 setelah DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Hasil ini menunjukan jika Indeks Persaingan Usaha Provinsi Lampung berada di peringkat pertama untuk provinsi di luar Pulau Jawa.

Capaian ini dirasa cukup mengejutkan banyak pihak karena mewujudkan iklim persaingan usaha yang kompetitif sebenarnya bukan merupakan hal yang mudah. Terlebih jika itu terjadi pada provinsi yang berada di luar Pulau Jawa.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang sebenarnya membuat Provinsi Lampung berada di peringkat pertama untuk indeks persaingan usaha di luar Pulau Jawa?

Pertanyaan ini cukup sering muncul dari pengamat ekonomi belakangan ini. Sebelum membahas lebih dalam, perlu juga disampaikan jika Indikator penilaian yang digunakan yaitu dilihat dari struktur, perilaku, kinerja, permintaan, pasokan, kelembagaan, dan regulasi.

Berbagai dimensi ini sejalan konsep ekonomi industri untuk indeks pembangunan.

Untuk Provinsi Lampung sendiri sektor usaha yang memiliki persaingan usaha yang tinggi, di antaranya 1) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; 2) Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum; 3) Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor.

Selain itu juga terdapat 8 sektor yang terkonsentrasi rendah di Provinsi Lampung, antara lain 1) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; 2) Industri Pengolahan; 3) Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor; 4) Transportasi dan pergudangan; 5) Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum; 6) Informasi dan Komunikasi; 7) Jasa Keuangan dan Asuransi; dan 8) Jasa Pendidikan.

Sektor-sektor tersebut dipersepsikan memiliki persaingan yang tinggi dengan struktur pasar yang kompetitif.

Sejatinya pasar kompetitif adalah pasar yang diharapkan. Karakteristiknya yaitu terdapat banyak pelaku usaha (pemasok), rendahnya hambatan masuk industri/pasar, relatif rendahnya konsentrasi pasar dan banyaknya varian produk dalam sektor tersebut.

Dengan demikian, karakteristik tersebut akan menghasilkan perilaku industri yang sehat dan menghasilkan kinerja pasar yang baik.

Sebagaimana diketahui, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan merupakan sektor unggulan yang dapat mendorong kegiatan usaha di Provinsi Lampung.

Melalui terbentuknya karakteristik pasar kompetitif pada sektor tersebut, maka diyakini akan mendorong inovasi dari pelaku usaha yang dapat berdampak pada peningkatan produktivitas dan kualitas yang dihasilkan.

Hal tersebut berbanding lurus dengan data-data yang memang menunjukkan peningkatan jumlah produksi dari sektor pertanian di sepanjang tahun 2020-2021 di Provinsi Lampung.

Peningkatan produksi sektor pertanian di Provinsi Lampung bahkan juga dibuktikan dengan capaian peringkat satu Kategori Provinsi dengan Peningkatan Produksi Padi Tertinggi Tahun 2019-2020 yang diberikan oleh Kementerian Pertanian.

Meskipun secara umum sektor pertanian di Provinsi Lampung terbentuk dengan karakteristik pasar kompetitif dengan tingkat persaingan yang tinggi, akan tetapi juga diakui masih terdapat sebagian komoditi dari sektor pertanian yang masih berada dalam pasar yang terkonsentrasi kuat di Provinsi Lampung.

Untuk itu, perlu disadari jika di dalam pasar yang terkonsentrasi kuat akan menahan pelaku usaha untuk berinovasi, yang sebenarnya bukan hanya merugikan konsumen, akan tetapi juga akan merugikan pelaku usaha itu sendiri karena akan sulit untuk saling mengembangkan kualitas produk dan berdampak pada tidak berkembangnya kegiatan usaha yang dijalani.

Sehingga perlu dipahami jika persaingan yang sehat dalam kegiatan usaha ditujukan untuk memberikan manfaat kepada seluruh pihak, termasuk kepada pelaku usaha itu sendiri.

Pelaku usaha dapat mengambil contoh dengan melihat sektor yang saat ini terus berkembang adalah sektor yang terdapat kompetisi yang kuat di dalamnya.

Selain melihat manfaat dari pasar kompetitif, pelaku usaha juga bisa mengambil pelajaran dari dampak negatif yang ditimbulkan jika pasar berada dalam konsentrasi yang tinggi.

Jika mengambil contoh dari hasil Indeks Persaingan Usaha 2021, terdapat 2 sektor yang dipersepsikan terkonsentrasi tinggi di Provinsi Lampung yaitu 1) Pengadaan Listrik, Gas; 2) Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang.

Kemudian terdapat 5 sektor yang dipersepsikan terkonsentrasi moderat, yakni 1) Pertambangan dan Penggalian; 2) Kontruksi; 3) Real Estate; 4) Jasa Perusahaan; dan 5) Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial. Dari sektor-sektor tersebut mencerminkan struktur pasar yang kurang kompetitif.

Kembali kepada pembahasan Indeks Persaingan Usaha. Berdasarkan penilaiannya, KPPU dan Tim Peneliti CEDS-Universitas Padjadjaran melihat jika regulasi daerah yang ada di provinsi telah mendorong terciptanya persaingan usaha yang tinggi.

Meski terdapat hambatan-hambatan lain yang muncul dari sisi elastisitas permintaan dan pertumbuhan pasar yang relatif belum mampu berkontribusi besar dalam penciptaan persaingan usaha sehat.

Dapat diartikan bahwa dari sisi permintaan, produk-produk barang dan jasa yang ada di Provinsi Lampung cenderung bersifat inelastis, dan relatif rendah sehingga menghasilkan permintaan yang relatif rendah.

Akan tetapi jika dilihat dari tingkat kinerja pasar, Provinsi Lampung dinilai telah mampu mendorong terciptanya persaingan usaha yang tinggi.

Atau dapat diartikan bahwa perusahaan-perusahaan yang ada telah mampu berorperasi secara relatif efisien, memiliki produktifitas yang relatif baik, relatif mampu mengadopsi teknologi tinggi, dan menghasilkan profitabilitas yang relatif wajar.

Walaupun, pelaku usaha di Lampung juga dinilai masih relatif berperilaku yang mengarah pada persaingan tidak sehat, seperti pemanfaatan kekuatan pasar dalam penentuan harga, melakukan koordinasi dalam penetapan output dan harga, relatif kurang melakukan iklan dan relatif kurang melakukan riset dan pengembangan.

Meski demikian, secara umum peningkatan indeks persaingan usaha ini perlu dinilai positif bagi perkembangan ekonomi di Provinsi Lampung, terlebih pada masa pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19.

Hasil indeks persaingan usaha akan menjadi acuan bagi fokus pengawasan di KPPU.

Untuk itu, KPPU akan terus memperdalam temuan tersebut dan menyesuaikannya menjadi strategi pada otoritas persaingan. (*)

TAG:

Berita Lainnya

Arah Pertumbuhan Ekonomi Lampung dari Perspektif Persaingan Usaha

...
[email protected]
Bandarlampung
29 Desember 2021 - 22:02 WIB
Perspektif | RILISID
...
Kepala Kantor KPPU Wilayah II Wahyu Bekti Anggoro. Foto: Istimewa

RILISID, Bandarlampung — BARU saja Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bersama Tim Peneliti CEDS-Universitas Padjadjaran mengumumkan bahwa indeks persaingan usaha tahun 2021 di Indonesia mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Nilainya mengalami peningkatan dari 4,65 menjadi 4,81. Tentunya data ini menunjukan bahwa tingkat persaingan usaha di Indonesia membaik, meskipun di tengah pandemi Covid-19.

Jika dilihat dari peringkat daerah, Provinsi Lampung berada di peringkat ke-5 setelah DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Hasil ini menunjukan jika Indeks Persaingan Usaha Provinsi Lampung berada di peringkat pertama untuk provinsi di luar Pulau Jawa.

Capaian ini dirasa cukup mengejutkan banyak pihak karena mewujudkan iklim persaingan usaha yang kompetitif sebenarnya bukan merupakan hal yang mudah. Terlebih jika itu terjadi pada provinsi yang berada di luar Pulau Jawa.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang sebenarnya membuat Provinsi Lampung berada di peringkat pertama untuk indeks persaingan usaha di luar Pulau Jawa?

Pertanyaan ini cukup sering muncul dari pengamat ekonomi belakangan ini. Sebelum membahas lebih dalam, perlu juga disampaikan jika Indikator penilaian yang digunakan yaitu dilihat dari struktur, perilaku, kinerja, permintaan, pasokan, kelembagaan, dan regulasi.

Berbagai dimensi ini sejalan konsep ekonomi industri untuk indeks pembangunan.

Untuk Provinsi Lampung sendiri sektor usaha yang memiliki persaingan usaha yang tinggi, di antaranya 1) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; 2) Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum; 3) Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor.

Selain itu juga terdapat 8 sektor yang terkonsentrasi rendah di Provinsi Lampung, antara lain 1) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; 2) Industri Pengolahan; 3) Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor; 4) Transportasi dan pergudangan; 5) Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum; 6) Informasi dan Komunikasi; 7) Jasa Keuangan dan Asuransi; dan 8) Jasa Pendidikan.

Sektor-sektor tersebut dipersepsikan memiliki persaingan yang tinggi dengan struktur pasar yang kompetitif.

Sejatinya pasar kompetitif adalah pasar yang diharapkan. Karakteristiknya yaitu terdapat banyak pelaku usaha (pemasok), rendahnya hambatan masuk industri/pasar, relatif rendahnya konsentrasi pasar dan banyaknya varian produk dalam sektor tersebut.

Dengan demikian, karakteristik tersebut akan menghasilkan perilaku industri yang sehat dan menghasilkan kinerja pasar yang baik.

Sebagaimana diketahui, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan merupakan sektor unggulan yang dapat mendorong kegiatan usaha di Provinsi Lampung.

Melalui terbentuknya karakteristik pasar kompetitif pada sektor tersebut, maka diyakini akan mendorong inovasi dari pelaku usaha yang dapat berdampak pada peningkatan produktivitas dan kualitas yang dihasilkan.

Hal tersebut berbanding lurus dengan data-data yang memang menunjukkan peningkatan jumlah produksi dari sektor pertanian di sepanjang tahun 2020-2021 di Provinsi Lampung.

Peningkatan produksi sektor pertanian di Provinsi Lampung bahkan juga dibuktikan dengan capaian peringkat satu Kategori Provinsi dengan Peningkatan Produksi Padi Tertinggi Tahun 2019-2020 yang diberikan oleh Kementerian Pertanian.

Meskipun secara umum sektor pertanian di Provinsi Lampung terbentuk dengan karakteristik pasar kompetitif dengan tingkat persaingan yang tinggi, akan tetapi juga diakui masih terdapat sebagian komoditi dari sektor pertanian yang masih berada dalam pasar yang terkonsentrasi kuat di Provinsi Lampung.

Untuk itu, perlu disadari jika di dalam pasar yang terkonsentrasi kuat akan menahan pelaku usaha untuk berinovasi, yang sebenarnya bukan hanya merugikan konsumen, akan tetapi juga akan merugikan pelaku usaha itu sendiri karena akan sulit untuk saling mengembangkan kualitas produk dan berdampak pada tidak berkembangnya kegiatan usaha yang dijalani.

Sehingga perlu dipahami jika persaingan yang sehat dalam kegiatan usaha ditujukan untuk memberikan manfaat kepada seluruh pihak, termasuk kepada pelaku usaha itu sendiri.

Pelaku usaha dapat mengambil contoh dengan melihat sektor yang saat ini terus berkembang adalah sektor yang terdapat kompetisi yang kuat di dalamnya.

Selain melihat manfaat dari pasar kompetitif, pelaku usaha juga bisa mengambil pelajaran dari dampak negatif yang ditimbulkan jika pasar berada dalam konsentrasi yang tinggi.

Jika mengambil contoh dari hasil Indeks Persaingan Usaha 2021, terdapat 2 sektor yang dipersepsikan terkonsentrasi tinggi di Provinsi Lampung yaitu 1) Pengadaan Listrik, Gas; 2) Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang.

Kemudian terdapat 5 sektor yang dipersepsikan terkonsentrasi moderat, yakni 1) Pertambangan dan Penggalian; 2) Kontruksi; 3) Real Estate; 4) Jasa Perusahaan; dan 5) Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial. Dari sektor-sektor tersebut mencerminkan struktur pasar yang kurang kompetitif.

Kembali kepada pembahasan Indeks Persaingan Usaha. Berdasarkan penilaiannya, KPPU dan Tim Peneliti CEDS-Universitas Padjadjaran melihat jika regulasi daerah yang ada di provinsi telah mendorong terciptanya persaingan usaha yang tinggi.

Meski terdapat hambatan-hambatan lain yang muncul dari sisi elastisitas permintaan dan pertumbuhan pasar yang relatif belum mampu berkontribusi besar dalam penciptaan persaingan usaha sehat.

Dapat diartikan bahwa dari sisi permintaan, produk-produk barang dan jasa yang ada di Provinsi Lampung cenderung bersifat inelastis, dan relatif rendah sehingga menghasilkan permintaan yang relatif rendah.

Akan tetapi jika dilihat dari tingkat kinerja pasar, Provinsi Lampung dinilai telah mampu mendorong terciptanya persaingan usaha yang tinggi.

Atau dapat diartikan bahwa perusahaan-perusahaan yang ada telah mampu berorperasi secara relatif efisien, memiliki produktifitas yang relatif baik, relatif mampu mengadopsi teknologi tinggi, dan menghasilkan profitabilitas yang relatif wajar.

Walaupun, pelaku usaha di Lampung juga dinilai masih relatif berperilaku yang mengarah pada persaingan tidak sehat, seperti pemanfaatan kekuatan pasar dalam penentuan harga, melakukan koordinasi dalam penetapan output dan harga, relatif kurang melakukan iklan dan relatif kurang melakukan riset dan pengembangan.

Meski demikian, secara umum peningkatan indeks persaingan usaha ini perlu dinilai positif bagi perkembangan ekonomi di Provinsi Lampung, terlebih pada masa pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19.

Hasil indeks persaingan usaha akan menjadi acuan bagi fokus pengawasan di KPPU.

Untuk itu, KPPU akan terus memperdalam temuan tersebut dan menyesuaikannya menjadi strategi pada otoritas persaingan. (*)

Editor : [email protected]

TAG:

Berita Lainnya