Kesadaran Masyarakat kala Pandemi
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Kesadaran Masyarakat kala Pandemi

Pesawaran
23 Juli 2021 - 21:02 WIB
Perspektif | RILISID
...
Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona. ILUSTRASI: Kalbi Rikardo

RILISID, Pesawaran — PERJUANGAN melawan Covid-19 belum berakhir. Ke depan, kita tidak pernah tahu tantangan apa yang kita akan hadapi.

Pemerintah saat ini sudah banyak mengeluarkan banyak regulasi yang tentunya sebagai wujud ikhtiar dalam mencegah penyebaran Covid-19 semakin masif.

Namun, sebanyak apapun kebijakan pemerintah tidak berguna jika masyarakat tidak mau mematuhinya.

Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 ini saya tekankan nyata adanya. Anehnya, masih ada saja segelintir orang yang tidak meyakini keberadaan virus ini. Mulai dari konspirasi, hoaks, hingga ada yang menyebut sebagai bisnis.

Cukup. Tidak perlu berpikir terlalu dalam menanggapi setiap informasi maupun berita yang tidak jelas kebenaranya. Sudah saatnya kita bangun kesadaran masyarakat dalam melawan dan beradaptasi dengan virus ini.

Begitu banyak korban berjatuhan menghadapi pandemi ini. Belum cukupkah ini sebagai bukti kebenaran adanya virus ini?

Saya mengambil contoh tenaga kesehatan (Nakes) di Kabupaten Pesawaran yang setiap hari berjibaku menangani pasien Covid-19.

Alat pelindung diri (APD) atau baju hazmat lengkap menjadi pakaian wajib nakes dalam keseharian bekerja. Tidak kalah penting masker medis berlapis-lapis menghiasi wajah mereka yang terkadang membuat iritasi kulit.

Tak terbayang oleh kita, bagaimana perjuangan nakes yang setiap hari melayani pasien Covid-19 tanpa mengenal rasa lelah. Tentunya dibutuhkan kesabaran luar biasa dalam menangani, menjaga, dan merawat setiap pasien Covid-19. Terkadang tugas berat ini pula yang justru membahayakan jiwa mereka sendiri.

Pengorbanan dan perjuangan mereka sebagai garda terdepan dalam menghadapi pandemi sudah sepatutnya kita apresiasi setinggi-tingginya. Saya meyakini pula, setiap tetes keringat yang mereka curahkan dalam melawan pandemi ini akan dibalas oleh Tuhan YME.

Perlu kita sadari bersama, mereka punya keluarga, suami atau istri bahkan anak-anak yang senantiasa menunggu di rumah. Mereka pun memastikan diri sendiri tidak menjadi penyebab penyebaran di kalangan keluarga terdekat.

Berdasarkan data Diskes Pesawaran, 25 nakes di RSUD Pesawaran positif terpapar Covid-19. Data ini usai RSUD Pesawaran mengadakan tes swab antigen terhadap 365 pegawai rumah sakit tersebut. Jumlah yang cukup banyak mengingat mereka adalah nakes yang selama ini melayani pasien baik penyakit umum terlebih pasien Covid-19.

Kita tidak boleh pesimistis akan kondisi ini. Kita harus selalu berharap tidak ada lagi yang terpapar positif Covid-19. Baik masyarakat umum, nakes, atau siapapun di Pesawaran, Indonesia bahkan di seluruh belahan bumi ini.

Apalagi kita tahu masyarakat Kabupaten Pesawaran berbatasan dengan Kota Bandarlampung dan Kabupaten Pringsewu, Tanggamus, Lampung Selatan, serta Lampung Tengah. Banyak perbatasan kabupaten ini menjadi celah peluang masuknya Covid-19 dari berbagai wilayah.

Tentunya, kondisi seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi Pemkab Pesawaran. Saya juga memastikan penyebaran Covid-19 tidak berasal baik dari dalam maupun dari luar kabupaten berjuluk “Bumi Andan Jejama” ini.

Saya paham kebijakan yang selama ini diterapkan pasti berdampak terhadap sektor ekonomi masyarakat. Tetapi, yakinlah ini merupakan kebijakan yang bertujuan baik dan bermanfaat untuk masyarakat itu sendiri. Prinsip kehati-hatian pun saya terapkan dalam setiap mengambil kebijakan ini.

Pastinya, pro dan kontra dalam setiap kebijakan tegas pasti terjadi di tengah-tengah masyarakat. Dan saya pun memakluminya.

Di balik kebijakan tegas itu, saya masih memikirkan bagaimana masyarakat yang baik telah meninggal dan saat ini masih isolasi mandiri mendapatkan bantuan.

Cukup kita sadari begitu besar anggaran penanganan Covid-19 ini. Setiap pemerintahan di seluruh Indonesia melakukan refocusing anggaran serupa. Hal ini bertujuan untuk mengalihkan dana yang sekiranya tidak urgen dan mendesak dapat dialihkan untuk penanganan Covid-19.

Di Pemkab Pesawaran, saya juga melakukan refocusing. Masyarakat juga dapat memantau dan memastikan penggunaan anggaran penanganan virus ini benar-benar tepat sasaran.

Mulai 1 Juli 2021, Pemkab Pesawaran setidaknya menganggarkan untuk memberikan santuan kepada 100 orang yang meninggal dan 600 warga yang menjalani isolasi mandiri.

Saya menyadari besaran santunan dan bantuan masih belum dapat meng-cover seluruh masyarakat di 144 desa dan 11 kecamatan di Pesawaran. Namun, setidaknya sedikit meringankan beban bagi keluarga yang ditinggalkan maupun sedikit mencukupi kebutuhan warga yang sedang menjalani isolasi mandiri.

Saya juga tentunya mengucapkan permohonan maaf, jikalau kebijakan yang saya ambil terkait pembatasan kegiatan beberapa pasar di Kabupaten Pesawaran berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.

Kebijakan ini saya ambil dengan kesadaran penuh. Tidak mudah saya menetapkan kebijakan ini. Perlu pemikiran jernih dalam setiap kebijakan yang bersinggungan langsung dengan masyarakat.

Saya, anda, dan kita semua harus menyadari bahwa virus Covid-19 ini benar nyata adanya. Kesadaran masyarakat terhadap prokes nampaknya harus menjadi perhatian serius. Karena, sudah tidak ada waktu lagi untuk berbantah-bantahan terkait virus ini. Sudah banyak dari teman, kerabat, bahkan keluarga kita menjadi korban keganasan virus ini.

Tidak perlu mencemaskan secara berlebihan. Kecamasan itu justru merugikan diri sendiri. Mulai dari sekarang terus patuhi setiap prokes. Jangan bosan-bosan untuk selalu mengingatkan orang lain yang berada di sekitar kita akan pentingnya prokes itu sendiri.

Wajib kita sadari, bahwa prokes saat ini merupakan salah satu cara terefektif menangkal Covid-19. Di samping vaksinisasi dan terus menjaga imun itu sendiri.

Karena kita tidak pernah tahu wabah pandemi ini akan berakhir. Oleh sebab itu, tak pernah bosan saya ingatkan, jaga diri, jaga keluarga, dan jaga lingkungan kita.

Yakinlah, kita bisa melewati pandemi ini jikalau kita mengikuti setiap anjuran kebaikan dan regulasi yang ditetapkan pemerintah, serta menjalaninya dengan penuh keiklhasan.

Tanamkan dalam hati bahwa pandemi adalah ujian yang harus dilalui secara bersama-sama. Butuh kerjasama semua pihak dalam menangani virus yang tak kasat oleh mata ini.

Dan akhirnya, saya mengutip sedikit penggalan Surah Al-Baqarah Ayat 286 yang berbunyi, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya

Kesadaran Masyarakat kala Pandemi

...
[email protected]
Pesawaran
23 Juli 2021 - 21:02 WIB
Perspektif | RILISID
...
Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona. ILUSTRASI: Kalbi Rikardo

RILISID, Pesawaran — PERJUANGAN melawan Covid-19 belum berakhir. Ke depan, kita tidak pernah tahu tantangan apa yang kita akan hadapi.

Pemerintah saat ini sudah banyak mengeluarkan banyak regulasi yang tentunya sebagai wujud ikhtiar dalam mencegah penyebaran Covid-19 semakin masif.

Namun, sebanyak apapun kebijakan pemerintah tidak berguna jika masyarakat tidak mau mematuhinya.

Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 ini saya tekankan nyata adanya. Anehnya, masih ada saja segelintir orang yang tidak meyakini keberadaan virus ini. Mulai dari konspirasi, hoaks, hingga ada yang menyebut sebagai bisnis.

Cukup. Tidak perlu berpikir terlalu dalam menanggapi setiap informasi maupun berita yang tidak jelas kebenaranya. Sudah saatnya kita bangun kesadaran masyarakat dalam melawan dan beradaptasi dengan virus ini.

Begitu banyak korban berjatuhan menghadapi pandemi ini. Belum cukupkah ini sebagai bukti kebenaran adanya virus ini?

Saya mengambil contoh tenaga kesehatan (Nakes) di Kabupaten Pesawaran yang setiap hari berjibaku menangani pasien Covid-19.

Alat pelindung diri (APD) atau baju hazmat lengkap menjadi pakaian wajib nakes dalam keseharian bekerja. Tidak kalah penting masker medis berlapis-lapis menghiasi wajah mereka yang terkadang membuat iritasi kulit.

Tak terbayang oleh kita, bagaimana perjuangan nakes yang setiap hari melayani pasien Covid-19 tanpa mengenal rasa lelah. Tentunya dibutuhkan kesabaran luar biasa dalam menangani, menjaga, dan merawat setiap pasien Covid-19. Terkadang tugas berat ini pula yang justru membahayakan jiwa mereka sendiri.

Pengorbanan dan perjuangan mereka sebagai garda terdepan dalam menghadapi pandemi sudah sepatutnya kita apresiasi setinggi-tingginya. Saya meyakini pula, setiap tetes keringat yang mereka curahkan dalam melawan pandemi ini akan dibalas oleh Tuhan YME.

Perlu kita sadari bersama, mereka punya keluarga, suami atau istri bahkan anak-anak yang senantiasa menunggu di rumah. Mereka pun memastikan diri sendiri tidak menjadi penyebab penyebaran di kalangan keluarga terdekat.

Berdasarkan data Diskes Pesawaran, 25 nakes di RSUD Pesawaran positif terpapar Covid-19. Data ini usai RSUD Pesawaran mengadakan tes swab antigen terhadap 365 pegawai rumah sakit tersebut. Jumlah yang cukup banyak mengingat mereka adalah nakes yang selama ini melayani pasien baik penyakit umum terlebih pasien Covid-19.

Kita tidak boleh pesimistis akan kondisi ini. Kita harus selalu berharap tidak ada lagi yang terpapar positif Covid-19. Baik masyarakat umum, nakes, atau siapapun di Pesawaran, Indonesia bahkan di seluruh belahan bumi ini.

Apalagi kita tahu masyarakat Kabupaten Pesawaran berbatasan dengan Kota Bandarlampung dan Kabupaten Pringsewu, Tanggamus, Lampung Selatan, serta Lampung Tengah. Banyak perbatasan kabupaten ini menjadi celah peluang masuknya Covid-19 dari berbagai wilayah.

Tentunya, kondisi seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi Pemkab Pesawaran. Saya juga memastikan penyebaran Covid-19 tidak berasal baik dari dalam maupun dari luar kabupaten berjuluk “Bumi Andan Jejama” ini.

Saya paham kebijakan yang selama ini diterapkan pasti berdampak terhadap sektor ekonomi masyarakat. Tetapi, yakinlah ini merupakan kebijakan yang bertujuan baik dan bermanfaat untuk masyarakat itu sendiri. Prinsip kehati-hatian pun saya terapkan dalam setiap mengambil kebijakan ini.

Pastinya, pro dan kontra dalam setiap kebijakan tegas pasti terjadi di tengah-tengah masyarakat. Dan saya pun memakluminya.

Di balik kebijakan tegas itu, saya masih memikirkan bagaimana masyarakat yang baik telah meninggal dan saat ini masih isolasi mandiri mendapatkan bantuan.

Cukup kita sadari begitu besar anggaran penanganan Covid-19 ini. Setiap pemerintahan di seluruh Indonesia melakukan refocusing anggaran serupa. Hal ini bertujuan untuk mengalihkan dana yang sekiranya tidak urgen dan mendesak dapat dialihkan untuk penanganan Covid-19.

Di Pemkab Pesawaran, saya juga melakukan refocusing. Masyarakat juga dapat memantau dan memastikan penggunaan anggaran penanganan virus ini benar-benar tepat sasaran.

Mulai 1 Juli 2021, Pemkab Pesawaran setidaknya menganggarkan untuk memberikan santuan kepada 100 orang yang meninggal dan 600 warga yang menjalani isolasi mandiri.

Saya menyadari besaran santunan dan bantuan masih belum dapat meng-cover seluruh masyarakat di 144 desa dan 11 kecamatan di Pesawaran. Namun, setidaknya sedikit meringankan beban bagi keluarga yang ditinggalkan maupun sedikit mencukupi kebutuhan warga yang sedang menjalani isolasi mandiri.

Saya juga tentunya mengucapkan permohonan maaf, jikalau kebijakan yang saya ambil terkait pembatasan kegiatan beberapa pasar di Kabupaten Pesawaran berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.

Kebijakan ini saya ambil dengan kesadaran penuh. Tidak mudah saya menetapkan kebijakan ini. Perlu pemikiran jernih dalam setiap kebijakan yang bersinggungan langsung dengan masyarakat.

Saya, anda, dan kita semua harus menyadari bahwa virus Covid-19 ini benar nyata adanya. Kesadaran masyarakat terhadap prokes nampaknya harus menjadi perhatian serius. Karena, sudah tidak ada waktu lagi untuk berbantah-bantahan terkait virus ini. Sudah banyak dari teman, kerabat, bahkan keluarga kita menjadi korban keganasan virus ini.

Tidak perlu mencemaskan secara berlebihan. Kecamasan itu justru merugikan diri sendiri. Mulai dari sekarang terus patuhi setiap prokes. Jangan bosan-bosan untuk selalu mengingatkan orang lain yang berada di sekitar kita akan pentingnya prokes itu sendiri.

Wajib kita sadari, bahwa prokes saat ini merupakan salah satu cara terefektif menangkal Covid-19. Di samping vaksinisasi dan terus menjaga imun itu sendiri.

Karena kita tidak pernah tahu wabah pandemi ini akan berakhir. Oleh sebab itu, tak pernah bosan saya ingatkan, jaga diri, jaga keluarga, dan jaga lingkungan kita.

Yakinlah, kita bisa melewati pandemi ini jikalau kita mengikuti setiap anjuran kebaikan dan regulasi yang ditetapkan pemerintah, serta menjalaninya dengan penuh keiklhasan.

Tanamkan dalam hati bahwa pandemi adalah ujian yang harus dilalui secara bersama-sama. Butuh kerjasama semua pihak dalam menangani virus yang tak kasat oleh mata ini.

Dan akhirnya, saya mengutip sedikit penggalan Surah Al-Baqarah Ayat 286 yang berbunyi, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya