Kontraksi Ekonomi
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Kontraksi Ekonomi


7 Agustus 2020 - 16:00 WIB
Perspektif | RILISID
...
Oleh: Wirahadikusumah

RILISID, — Saya biasanya tidak terlalu memperdulikan angka-angka tentang perekonomian. Terutama yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS).

Sebab, saya tidak terlalu mengerti istilah-istilah bahasa dalam ilmu ekonomi. Yang sering digunakan BPS. Saat melaporkan data-data soal perekonomian.

Contohnya: year over year (yoy). Nilai tukar petani (NTP). Produk domestik regional bruto (PDRB). Dan lainnya.

Namun, subuh tadi (7/8/2020), saya seakan "dipaksa" harus lebih mengerti. Dan lebih banyak tahu. Tentang kondisi perekonomian. Pun istilah-istilah bahasanya.

Itu karena saya membaca artikel berjudul "Minus 5 Persen". Yang ditulis Abah Dahlan Iskan. Di website pribadinya: Disway.id.

Usai membaca artikel itu, saya langsung membuka situs BPS Lampung. Untuk mencari tahu, bagaimana kondisi perekonomian triwulan II provinsi ini.

Hasilnya?

Lampung sedang mengalami kontraksi ekonomi.

Nah kan! Apalagi itu kontraksi ekonomi?

Ternyata, istilah yang sering dipakai pada ibu hamil, ada juga dalam ilmu ekonomi.

Kontraksi ekonomi adalah: satu fase di mana siklus bisnis berada dalam ekonomi yang menurun. Secara khusus, kontraksi muncul setelah titik tertinggi dalam siklus bisnis.

Itu jawaban dari hasil saya browsing di Google.

Dari definisi itu, saya menyimpulkan, perekonomian Lampung sedang menurun. Tidak berlebihan juga sepertinya jika disebut anjlok.

Sebab, pada triwulan I 2020, pertumbuhan ekonomi Lampung masih 1,73 persen. Sementara triwulan II: minus 3,57 persen. Kebalikan dari angka nasional: minus 5,3 persen.

Pertumbuhan perekonomian Lampung juga di bawah rata-rata provinsi-provinsi di Sumatera: minus 3,01 persen.

Dan saat ini, Lampung menjadi provinsi yang pertumbuhan ekonominya terburuk nomor empat se-Sumatera.

Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang kondisi perekonomian provinsi ini, silakan buka saja situs BPS Lampung. Di sana tertulis laporan lengkapnya.

Kalau malas membuka situsnya, silakan hubungi saya saja. Nanti saya kirimkan. Laporan BPS Lampung itu sudah saya download.

Pastinya, usai membaca laporan itu, saya sempat berpesan kepada istri, agar lebih pintar lagi mengelola keuangan.

Sebab, jika triwulan III pertumbuhan ekonomi masih minus, maka negara ini mengalami resesi ekonomi. Seperti yang terjadi pada 1998-1999.

Lalu apa itu resesi ekonomi?

Resesi ekonomi adalah kemerosotan. Atau kondisi ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal. Atau lebih dalam satu tahun.

Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi. Seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan.

Jika resesi ekonomi berlangsung lama, maka disebut depresi ekonomi. Yakni, penurunan drastis tingkat ekonomi. Atau disebut kebangkrutan ekonomi.

Kolumnis Sidney J. Harris membedakan istilahnya seperti ini: resesi adalah ketika tetanggamu kehilangan pekerjaan; depresi adalah ketika kamu yang kehilangan pekerjaan,".

Empat paragraf di atas, lagi-lagi saya dapatkan dari hasil bertanya di Google.

Usai”berselancar” ke Google, saya putuskan untuk kembali bertanya. Kepada pengamat ekonomi Lampung: Asrian H. Caya.

Bang Asrian- sapaan akrab saya terhadap Asrian H. Caya- memang sudah lama saya kenal. Pensiunan dosen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung ini sering menjadi narasumber berita yang saya buat. Tentu yang berhubungan dengan perekonomian.

Pertanyaan yang saya ajukan sederhana saja: apa yang harus dilakukan pemerintah, perusahaan, dan masyarakat, dalam menghadapi kondisi perekonomian seperti saat ini?

Bang Asrian mengatakan, dalam kondisi saat ini, pemerintah memang harus berdiri di depan. Agar kita tidak terjerembab dalam jurang resesi.

Menurutnya, kita masih punya waktu tiga bulan lagi, untuk bahu-membahu memperbaiki perekonomian.

Karenanya, aktivitas ekonomi harus begerak. Terutama di sektor konsumsi. Nah, untuk menggerakkannya, motornya ada di pemerintah.

”Makanya sudah benar Pak Jokowi ngamuk-ngamuk itu. Karena penyerapan anggaran yang rendah itu,” katanya.

Harusnya, kata Bang Asrian, saat inilah pengeluaran pemerintah jor-joran. Baik belanja barang. Juga jasa. Agar perekonomian bergerak.

Saat ini, belum bisa pemerintah mengandalkan perusahaan atau sektor swasta. Karena kondisinya juga sedang sulit.

Perusahaan pun semestinya diberi stimulan. Seperti diberi keringanan pembayaran angsuran perbankan.

Sehingga, uang angsuran itu bisa digunakan untuk operasional perusahaan. Dengan begitu, perusahaan masih terus hidup. Bisa jalan. Tidak kolaps.

”Makanya saya bilang tadi, aktivitas usaha harus tetap jalan. Agar demand masih ada. Dan lagi-lagi, kuncinya juga ada di pemerintah,” ucapnya.

Bang Asrian juga menyarankan kepada masyarakat, agar menunda belanja kebutuhan tersier. Seperti berwisata. Belanja mobil mewah. Dan lainnya.

”Saat ini, kita harus pandai-pandai mengelola keuangan,” pesannya.

Saya kembali bertanya kepada Bang Asrian. Bagaimana pemerintah harus jor-joran belanja? Uangnya dari mana? Bukankah pemerintah juga sedang kesulitan?

”Dari utang,” jawabnya.

Tetapi, kata Bang Asrian, jangan utang keluar negeri. Pilih utang dalam negeri. Untuk menghindari resiko perubahan kurs.

Ia menilai, masih ada kelompok masyarakat di Indonesia yang punya dana besar. Ekonominya masih kuat. Masih superpower. Meskipun memang, usahanya juga ikut terdampak.

”Di sinilah kita lihat nasionalisme mereka?” ujarnya.

Lalu bagaimana langkah yang harus dilakukan pemerintah provinsi dan kabupaten?

Belanjanya juga harus dipercepat. Kalau bisa, APBD perubahan tahun ini juga dipercepat. Agar penyerapan anggaran bisa cepat.

Namun, belanjanya harus ditata dengan benar. Pilih yang berdampak langsung kepada masyarakat. Jika ada yang berdampak jangka panjang, reschedule! Contohnya bangun gedung. Atau lainnya.

”Saat ini juga lah, kita lihat kehebatan tim ekonomi pemerintah. Apakah bisa membawa kita tidak jatuh ke jurang yang namanya resesi,” katanya.

Menurutnya, jika resesi terjadi, tingkat pemulihannya bakal lebih panjang. Dampaknya bakal banyak perusahaan kolaps. Pengangguran meningkat. Demand turun. Dan lain sebagainya.

”Pemerintah dan stakeholders harus bahu membahu. Kita belum tenggelam. Masih bisa bernafas. Posisi air masih di leher. Kita masih punya waktu untuk bangkit,” tegasnya.

Saya sepakat dengan Bang Asrian. Masih ada waktu tiga bulan lagi untuk bangkit.

Pemerintah harus segera bertindak. Jika tak ada uang, pinjam dengan masyarakat yang ekonominya masih super power itu. Yang kata Bang Asrian tadi itu.

Sebab, saya pun memandang, kondisi mereka itu masih ”kurus-kurus gajah”. Kendati kurus, tetap saja gajah!

Maksudnya, mereka masih punya uang banyak. Masih bisa memberi pinjaman. Kendati memang, usaha mereka juga sedang terdampak.

Pemerintah juga harus berorientasi kepada belanja yang berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Jangan malah memperbanyak perjalanan dinas. Atau kegiatan yang sifatnya sosialisasi.

Sebab, jika itu yang terjadi, pemerintah hanya memikirkan kepuasannya sendiri. Seperti sedang melakukan ”onani ekonomi”.

Lho, kok ada istilah seksual juga dalam ilmu ekonomi?(Wirahadikusumah)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Kontraksi Ekonomi

...
[email protected]

7 Agustus 2020 - 16:00 WIB
Perspektif | RILISID
...
Oleh: Wirahadikusumah

RILISID, — Saya biasanya tidak terlalu memperdulikan angka-angka tentang perekonomian. Terutama yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS).

Sebab, saya tidak terlalu mengerti istilah-istilah bahasa dalam ilmu ekonomi. Yang sering digunakan BPS. Saat melaporkan data-data soal perekonomian.

Contohnya: year over year (yoy). Nilai tukar petani (NTP). Produk domestik regional bruto (PDRB). Dan lainnya.

Namun, subuh tadi (7/8/2020), saya seakan "dipaksa" harus lebih mengerti. Dan lebih banyak tahu. Tentang kondisi perekonomian. Pun istilah-istilah bahasanya.

Itu karena saya membaca artikel berjudul "Minus 5 Persen". Yang ditulis Abah Dahlan Iskan. Di website pribadinya: Disway.id.

Usai membaca artikel itu, saya langsung membuka situs BPS Lampung. Untuk mencari tahu, bagaimana kondisi perekonomian triwulan II provinsi ini.

Hasilnya?

Lampung sedang mengalami kontraksi ekonomi.

Nah kan! Apalagi itu kontraksi ekonomi?

Ternyata, istilah yang sering dipakai pada ibu hamil, ada juga dalam ilmu ekonomi.

Kontraksi ekonomi adalah: satu fase di mana siklus bisnis berada dalam ekonomi yang menurun. Secara khusus, kontraksi muncul setelah titik tertinggi dalam siklus bisnis.

Itu jawaban dari hasil saya browsing di Google.

Dari definisi itu, saya menyimpulkan, perekonomian Lampung sedang menurun. Tidak berlebihan juga sepertinya jika disebut anjlok.

Sebab, pada triwulan I 2020, pertumbuhan ekonomi Lampung masih 1,73 persen. Sementara triwulan II: minus 3,57 persen. Kebalikan dari angka nasional: minus 5,3 persen.

Pertumbuhan perekonomian Lampung juga di bawah rata-rata provinsi-provinsi di Sumatera: minus 3,01 persen.

Dan saat ini, Lampung menjadi provinsi yang pertumbuhan ekonominya terburuk nomor empat se-Sumatera.

Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang kondisi perekonomian provinsi ini, silakan buka saja situs BPS Lampung. Di sana tertulis laporan lengkapnya.

Kalau malas membuka situsnya, silakan hubungi saya saja. Nanti saya kirimkan. Laporan BPS Lampung itu sudah saya download.

Pastinya, usai membaca laporan itu, saya sempat berpesan kepada istri, agar lebih pintar lagi mengelola keuangan.

Sebab, jika triwulan III pertumbuhan ekonomi masih minus, maka negara ini mengalami resesi ekonomi. Seperti yang terjadi pada 1998-1999.

Lalu apa itu resesi ekonomi?

Resesi ekonomi adalah kemerosotan. Atau kondisi ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal. Atau lebih dalam satu tahun.

Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi. Seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan.

Jika resesi ekonomi berlangsung lama, maka disebut depresi ekonomi. Yakni, penurunan drastis tingkat ekonomi. Atau disebut kebangkrutan ekonomi.

Kolumnis Sidney J. Harris membedakan istilahnya seperti ini: resesi adalah ketika tetanggamu kehilangan pekerjaan; depresi adalah ketika kamu yang kehilangan pekerjaan,".

Empat paragraf di atas, lagi-lagi saya dapatkan dari hasil bertanya di Google.

Usai”berselancar” ke Google, saya putuskan untuk kembali bertanya. Kepada pengamat ekonomi Lampung: Asrian H. Caya.

Bang Asrian- sapaan akrab saya terhadap Asrian H. Caya- memang sudah lama saya kenal. Pensiunan dosen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung ini sering menjadi narasumber berita yang saya buat. Tentu yang berhubungan dengan perekonomian.

Pertanyaan yang saya ajukan sederhana saja: apa yang harus dilakukan pemerintah, perusahaan, dan masyarakat, dalam menghadapi kondisi perekonomian seperti saat ini?

Bang Asrian mengatakan, dalam kondisi saat ini, pemerintah memang harus berdiri di depan. Agar kita tidak terjerembab dalam jurang resesi.

Menurutnya, kita masih punya waktu tiga bulan lagi, untuk bahu-membahu memperbaiki perekonomian.

Karenanya, aktivitas ekonomi harus begerak. Terutama di sektor konsumsi. Nah, untuk menggerakkannya, motornya ada di pemerintah.

”Makanya sudah benar Pak Jokowi ngamuk-ngamuk itu. Karena penyerapan anggaran yang rendah itu,” katanya.

Harusnya, kata Bang Asrian, saat inilah pengeluaran pemerintah jor-joran. Baik belanja barang. Juga jasa. Agar perekonomian bergerak.

Saat ini, belum bisa pemerintah mengandalkan perusahaan atau sektor swasta. Karena kondisinya juga sedang sulit.

Perusahaan pun semestinya diberi stimulan. Seperti diberi keringanan pembayaran angsuran perbankan.

Sehingga, uang angsuran itu bisa digunakan untuk operasional perusahaan. Dengan begitu, perusahaan masih terus hidup. Bisa jalan. Tidak kolaps.

”Makanya saya bilang tadi, aktivitas usaha harus tetap jalan. Agar demand masih ada. Dan lagi-lagi, kuncinya juga ada di pemerintah,” ucapnya.

Bang Asrian juga menyarankan kepada masyarakat, agar menunda belanja kebutuhan tersier. Seperti berwisata. Belanja mobil mewah. Dan lainnya.

”Saat ini, kita harus pandai-pandai mengelola keuangan,” pesannya.

Saya kembali bertanya kepada Bang Asrian. Bagaimana pemerintah harus jor-joran belanja? Uangnya dari mana? Bukankah pemerintah juga sedang kesulitan?

”Dari utang,” jawabnya.

Tetapi, kata Bang Asrian, jangan utang keluar negeri. Pilih utang dalam negeri. Untuk menghindari resiko perubahan kurs.

Ia menilai, masih ada kelompok masyarakat di Indonesia yang punya dana besar. Ekonominya masih kuat. Masih superpower. Meskipun memang, usahanya juga ikut terdampak.

”Di sinilah kita lihat nasionalisme mereka?” ujarnya.

Lalu bagaimana langkah yang harus dilakukan pemerintah provinsi dan kabupaten?

Belanjanya juga harus dipercepat. Kalau bisa, APBD perubahan tahun ini juga dipercepat. Agar penyerapan anggaran bisa cepat.

Namun, belanjanya harus ditata dengan benar. Pilih yang berdampak langsung kepada masyarakat. Jika ada yang berdampak jangka panjang, reschedule! Contohnya bangun gedung. Atau lainnya.

”Saat ini juga lah, kita lihat kehebatan tim ekonomi pemerintah. Apakah bisa membawa kita tidak jatuh ke jurang yang namanya resesi,” katanya.

Menurutnya, jika resesi terjadi, tingkat pemulihannya bakal lebih panjang. Dampaknya bakal banyak perusahaan kolaps. Pengangguran meningkat. Demand turun. Dan lain sebagainya.

”Pemerintah dan stakeholders harus bahu membahu. Kita belum tenggelam. Masih bisa bernafas. Posisi air masih di leher. Kita masih punya waktu untuk bangkit,” tegasnya.

Saya sepakat dengan Bang Asrian. Masih ada waktu tiga bulan lagi untuk bangkit.

Pemerintah harus segera bertindak. Jika tak ada uang, pinjam dengan masyarakat yang ekonominya masih super power itu. Yang kata Bang Asrian tadi itu.

Sebab, saya pun memandang, kondisi mereka itu masih ”kurus-kurus gajah”. Kendati kurus, tetap saja gajah!

Maksudnya, mereka masih punya uang banyak. Masih bisa memberi pinjaman. Kendati memang, usaha mereka juga sedang terdampak.

Pemerintah juga harus berorientasi kepada belanja yang berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Jangan malah memperbanyak perjalanan dinas. Atau kegiatan yang sifatnya sosialisasi.

Sebab, jika itu yang terjadi, pemerintah hanya memikirkan kepuasannya sendiri. Seperti sedang melakukan ”onani ekonomi”.

Lho, kok ada istilah seksual juga dalam ilmu ekonomi?(Wirahadikusumah)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya