Mengembalikan Indonesia
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Mengembalikan Indonesia

Bandarlampung
9 Agustus 2021 - 13:37 WIB
Perspektif | RILISID
...
Erwanto, Dosen FP Unila dan Anggota ICMI Lampung.

RILISID, Bandarlampung — Setelah melalui sejarah perjuangan yang sangat berat dan panjang, proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia akhirnya dibacakan Soekarno didampingi Moh. Hatta pada Jumat 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

Acara proklamasi itu berlangsung singkat. Namun, peristiwa tersebut membawa perubahan besar dalam kehidupan bangsa Indonesia. Sejak saat itu Indonesia menjadi negara merdeka, yang memiliki kebebasan mengatur kehidupan berbangsa layaknya negara berdaulat.

Dalam pembukaan UUD 1945 secara ekplisit disebutkan tujuan proklamasi kemerdekaan, yaitu: membentuk Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Para pendiri bangsa sangat yakin bahwa proklamasi kemerdekaan merupakan jembatan emas menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Pada perjalanan bangsa Indonesia sampai usia kemerdekaan 76 tahun kita menyaksikan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara yang “penuh warna”, ada yang produktif dan ada yang kontraproduktif. Kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini bahkan mulai mengkhawatirkan.

Sudah saatnya ada pihak-pihak yang dengan sabar dan ikhlas berinisiatif meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan perhatiannya untuk melakukan analisis mendalam dari serangkaian peristiwa yang telah terjadi.

Dari hasil analisis tersebut dirumuskan secara bijak dan cermat “pelajaran sejarah perjalanan bangsa sejak merdeka”. Sejarah ini sangat berguna untuk membekali bangsa melanjutkan perjuangannya menuju cita-cita masyarakat adil dan makmur.

Pelajaran sejarah perjalanan bangsa sejak merdeka berguna untuk menuntun kita bergerak secara kolektif “mengembalikan bangsa Indonesia” ke tujuan proklamasi kemerdekaannya.

Sejarah tersebut akan menginspirasi dan menuntun pemerintah, partai politik, pemimpin agama, masyarakat akademik, dan elemen masyarakat sipil lainnya mengembalikan Indonesia ke jalur yang cita-cita kemerdekaan. Yang paling penting dibekali tentu saja generasi muda kita sebagai penerus estapet pembangunan bangsa.

Pada titik ini diperlukan kepemimpinan yang sangat kuat, strong leadership. Pada era menjelang kemerdekaan atmosfer perjuangan sangat kondusif dan musuh bersama (common enemy) demikian jelas, sehingga persatuan dan kesatuan elemen bangsa sangat mungkin diwujudkan.

Sekarang ini kita memasuki era yang sangat jauh berbeda, fragmentasi masyarakat sangat tajam dan konflik kepentingan sangat kuat, sehingga persatuan dan kesatuan bangsa sulit terwujud.

Indonesia Butuh Calon Pemimpin Besar

Pada situasi ini diperlukan sosok pemimpin yang jauh lebih hebat dari pada pemimpin di era perjuangan. Indonesia memerlukan sosok calon pemimpin besar, yang entah kapan dan dari mana munculnya.

Pengalaman sejarah dunia memperlihatkan bahwa pemimpin besar tidaklah muncul begitu saja. Biasanya ia akan lahir dari suatu sistem kompetisi dan seleksi serta atmosfer regulasi yang kondusif. Nah, kondisi inilah yang belum kita miliki terutama sejak era reformasi 1998.

Saat ini bangsa kita sedang terperangkap oleh regulasi di bidang politik yang centang perenang dan mengunci demokrasi. Tega banget mereka yang menyusunnya. Kondisi ini tidak kondusif untuk melahirkan pemimpin besar.

Sampai sekarang, sebagai bangsa kita belum menemukan cara untuk ke luar dari perangkap keji tersebut.

Setelah berpikir keras, belum juga muncul alternatif jalan ke luar yang prospektif. Tetapi sempat terlintas kemungkinan peran para akademisi, media massa (pers), tokoh agama, cendekiawan, serta para pemerhati bangsa yang mencerahkan untuk bersinergi menyajikan alternatif jalan ke luar yang terbaik.

Meskipun hanya “terlintas” tetapi hal ini membuat saya semakin bersemangat, mungkin terlalu bersemangat ya, sehingga akhirnya pelan-pelan saya mulai mendengar suara isteri saya, “kiai bangun, bentar lagi azan Subuh”. Dirgahayu Indonesia. Mari kita kembalikan Indonesia menuju cita-cita proklamasinya. Tabik Pun! (*)

TAG:

Berita Lainnya

Mengembalikan Indonesia

...
[email protected]
Bandarlampung
9 Agustus 2021 - 13:37 WIB
Perspektif | RILISID
...
Erwanto, Dosen FP Unila dan Anggota ICMI Lampung.

RILISID, Bandarlampung — Setelah melalui sejarah perjuangan yang sangat berat dan panjang, proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia akhirnya dibacakan Soekarno didampingi Moh. Hatta pada Jumat 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

Acara proklamasi itu berlangsung singkat. Namun, peristiwa tersebut membawa perubahan besar dalam kehidupan bangsa Indonesia. Sejak saat itu Indonesia menjadi negara merdeka, yang memiliki kebebasan mengatur kehidupan berbangsa layaknya negara berdaulat.

Dalam pembukaan UUD 1945 secara ekplisit disebutkan tujuan proklamasi kemerdekaan, yaitu: membentuk Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Para pendiri bangsa sangat yakin bahwa proklamasi kemerdekaan merupakan jembatan emas menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Pada perjalanan bangsa Indonesia sampai usia kemerdekaan 76 tahun kita menyaksikan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara yang “penuh warna”, ada yang produktif dan ada yang kontraproduktif. Kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini bahkan mulai mengkhawatirkan.

Sudah saatnya ada pihak-pihak yang dengan sabar dan ikhlas berinisiatif meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan perhatiannya untuk melakukan analisis mendalam dari serangkaian peristiwa yang telah terjadi.

Dari hasil analisis tersebut dirumuskan secara bijak dan cermat “pelajaran sejarah perjalanan bangsa sejak merdeka”. Sejarah ini sangat berguna untuk membekali bangsa melanjutkan perjuangannya menuju cita-cita masyarakat adil dan makmur.

Pelajaran sejarah perjalanan bangsa sejak merdeka berguna untuk menuntun kita bergerak secara kolektif “mengembalikan bangsa Indonesia” ke tujuan proklamasi kemerdekaannya.

Sejarah tersebut akan menginspirasi dan menuntun pemerintah, partai politik, pemimpin agama, masyarakat akademik, dan elemen masyarakat sipil lainnya mengembalikan Indonesia ke jalur yang cita-cita kemerdekaan. Yang paling penting dibekali tentu saja generasi muda kita sebagai penerus estapet pembangunan bangsa.

Pada titik ini diperlukan kepemimpinan yang sangat kuat, strong leadership. Pada era menjelang kemerdekaan atmosfer perjuangan sangat kondusif dan musuh bersama (common enemy) demikian jelas, sehingga persatuan dan kesatuan elemen bangsa sangat mungkin diwujudkan.

Sekarang ini kita memasuki era yang sangat jauh berbeda, fragmentasi masyarakat sangat tajam dan konflik kepentingan sangat kuat, sehingga persatuan dan kesatuan bangsa sulit terwujud.

Indonesia Butuh Calon Pemimpin Besar

Pada situasi ini diperlukan sosok pemimpin yang jauh lebih hebat dari pada pemimpin di era perjuangan. Indonesia memerlukan sosok calon pemimpin besar, yang entah kapan dan dari mana munculnya.

Pengalaman sejarah dunia memperlihatkan bahwa pemimpin besar tidaklah muncul begitu saja. Biasanya ia akan lahir dari suatu sistem kompetisi dan seleksi serta atmosfer regulasi yang kondusif. Nah, kondisi inilah yang belum kita miliki terutama sejak era reformasi 1998.

Saat ini bangsa kita sedang terperangkap oleh regulasi di bidang politik yang centang perenang dan mengunci demokrasi. Tega banget mereka yang menyusunnya. Kondisi ini tidak kondusif untuk melahirkan pemimpin besar.

Sampai sekarang, sebagai bangsa kita belum menemukan cara untuk ke luar dari perangkap keji tersebut.

Setelah berpikir keras, belum juga muncul alternatif jalan ke luar yang prospektif. Tetapi sempat terlintas kemungkinan peran para akademisi, media massa (pers), tokoh agama, cendekiawan, serta para pemerhati bangsa yang mencerahkan untuk bersinergi menyajikan alternatif jalan ke luar yang terbaik.

Meskipun hanya “terlintas” tetapi hal ini membuat saya semakin bersemangat, mungkin terlalu bersemangat ya, sehingga akhirnya pelan-pelan saya mulai mendengar suara isteri saya, “kiai bangun, bentar lagi azan Subuh”. Dirgahayu Indonesia. Mari kita kembalikan Indonesia menuju cita-cita proklamasinya. Tabik Pun! (*)

Editor : [email protected]

TAG:

Berita Lainnya