Pesan Natal dari Wuhan
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Pesan Natal dari Wuhan

...
Juan Situmeang
Mesuji
25 Desember 2021 - 7:00 WIB
Perspektif | RILISID
...
Ilustrasi: Pixabay

RILISID, Mesuji — Jutaan tulisan tentang Natal (kelahiran Isa Almasih), bagi umat Nasrani disebut sebagai Yesus Kristus sudah dibukukan.

Baik di kitab-kitab agama Abrahamic (Samawi) maupun tulisan kontemporer dikaitkan dengan kondisi terkini pada tiap-tiap waktu. Mulai dari hal yang remeh-temeh hingga persoalan yang mendalam soal keyakinan dan kepercayaan.

Coretan ini menjadi salah satu bagian sangat kecil dari jutaan tulisan tersebut. Hanya untuk penanda. Terlebih di situasi saat ini di mana pandemi Covid-19 belum juga selesai.

Wabah berupa virus yang dikenal dengan corona virus dari Kota Wuhan dua tahun terakhir ini seperti bunyi lonceng yang berdentang di tiap menara gereja menjelang misa memeringati kelahiran Yesus sang Messias. Pesan yang sangat jelas. Suara yang sangat keras.  

Begitu kerasnya hingga menjungkirbalikkan tatanan kehidupan. Perekonomian pun luluh lantak. 

Semua tempat ibadah sempat ditutup. Seluruh aktivitaa terhenti, bahkan napas.

Ada 5,374 juta orang tewas di seluruh dunia akibat Covid-19. (Data WHO, Jumat, 24 Desember 2021).  

Bahkan saat ini, varian baru virus mematikan itu bermunculan dengan mutasi genetik yang tidak terkendali.

Terakhir terindentifikasi varian baru adalah omicron. Tentu dengan tingkat bahaya persebaran yang lebih cepat dari virus sebelumnya.

Wuhan membawa pesan kematian. Merampas harapan orang-orang yang terinfeksi. Bagi yang memiliki penyakit penyerta harus kuat berjibaku mempertahankan diri dari badai sitokin. 

Semua ini terjadi seolah ingin me-reset bumi seperti kisah Bahtera Noah. Mengembalikan ke kondisi ideal. Di mana semua diharapkan berjalan dengan baik. Orang-orang saling memperhatikan dan mengasihi satu sama lain.

Seperti Lukas katakan, “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian"(Lukas 3:11). 

Bahkan lebih jauh Yesus sendiri katakan agar kita melihat yang lain setara bahkan sebagai bagian diri kita sendiri.

Seperti yang disampaikan-Nya sebagai hukum yang utama, yaitu kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:39).

Sikap inilah yang sudah hilang dewasa ini. Bahkan di dalam gereja. Ada sesuatu yang hilang. Justru yang utama. Kasih. 

Begitu juga dengan kesederhanaan seperti tergambar dalam palungan tempat bayi Yesus dibaringkan.

Kini sudah digantikan dengan selimut lembut nan tebal dan hangat. Kereta bayi yang mahal. Kandang domba berubah istana megah.

Domba-domba dengan bulu menggumpal-gumpal, oh, sudah tidak ditemukan. Karena bulu domba pun di-rebonding dan smoothing.

Natal hanya menjadi ajang pemuas diri. Membuat acara apa saja dibungkus seolah merayakan kelahiran Yesus.

Di gedung- gedung gereja yang megah. Di hotel-hotel nan mewah menghabiskan biaya ratusan juta sampai miliaran.

Demikian juga orang membeli apa saja. Ke pusat-pusat perbelanjaan. Ke mal-mal yang hanya menjual barang-barang branded. Pokoknya belanja. 

Tapi coba lihat di sudut seberang jalan di luar sana. Di kolong jembatan. Banyak orang yang kehilangan.  Pekerjaan, keluarga, bahkan harapan. Pandemi ini memukul mereka.

Lalu di mana makna Natal yang harusnya mereka dapatkan saat ini? Bukankah ada 2,5 dari 7,7 miliar penduduk bumi beragama Kristen?

Di Indonesia, tercatat 28,82 juta orang dari 272 juta penduduk penganut agama Nasrani (Kristen dan Katolik) --Sumber: dukcapil.kemendagri.go.id.

Jika jumlah itu melakukan apa yang Tuhan Yesus lakukan, betapa dampaknya bagi dunia.

Demikian jika 28 juta orang Kristen di Indonesia berdoa bagi ibu pertiwi ini. Bergerak membantu memberi satu helai baju dari dua yang dimilikinya. Pasti negeri ini sudah pulih dan bangkit lagi.

Jangan sampai hanya menegaskan apa yang pernah dikatakan Mahatma Gandhi, pejuang kemerdekaan dan perdamaian India.

Dalam satu wawancara, E Stanley Jones bertanya, “Anda sering mengutip kata-kata Kristus, tapi kenapa Anda menolak keras menjadi pengikutnya?"

Jawab Mahatma Gandhi, “Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka Kristus Anda. Tapi saya tidak suka orang Kristen Anda. Jika orang Kristen benar-benar hidup menurut ajaran Kristus seperti yang ditemukan di Alkitab, seluruh India sudah menjadi Kristen hari ini".    

Pernyataan itu biarlah menjadi introspeksi diri di tengah perayaan Natal kali ini.

Wuhan dengan lonceng kematiannya sudah memberi pesannya kepada dunia agar kita kembali ke sudut Betlehem, dusun kecil tempat kelahiran Yesus Kristus. Di kandang domba.

Sebuah tempat yang sangat tidak layak dengan lantai tanah becek. Berbagi dengan beberapa domba yang kebingungan.

Tapi dari tempat sangat sederhana itu pesan kepada dunia disampaikan. Tentang kelahiran Yesus Kristus di kandang domba yang sangat sederhana dan kematian di kayu salib menjadi keselamatan bagi manusia. 

Selamat Natal. (*) 

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya

Pesan Natal dari Wuhan

...
Juan Situmeang
Mesuji
25 Desember 2021 - 7:00 WIB
Perspektif | RILISID
...
Ilustrasi: Pixabay

RILISID, Mesuji — Jutaan tulisan tentang Natal (kelahiran Isa Almasih), bagi umat Nasrani disebut sebagai Yesus Kristus sudah dibukukan.

Baik di kitab-kitab agama Abrahamic (Samawi) maupun tulisan kontemporer dikaitkan dengan kondisi terkini pada tiap-tiap waktu. Mulai dari hal yang remeh-temeh hingga persoalan yang mendalam soal keyakinan dan kepercayaan.

Coretan ini menjadi salah satu bagian sangat kecil dari jutaan tulisan tersebut. Hanya untuk penanda. Terlebih di situasi saat ini di mana pandemi Covid-19 belum juga selesai.

Wabah berupa virus yang dikenal dengan corona virus dari Kota Wuhan dua tahun terakhir ini seperti bunyi lonceng yang berdentang di tiap menara gereja menjelang misa memeringati kelahiran Yesus sang Messias. Pesan yang sangat jelas. Suara yang sangat keras.  

Begitu kerasnya hingga menjungkirbalikkan tatanan kehidupan. Perekonomian pun luluh lantak. 

Semua tempat ibadah sempat ditutup. Seluruh aktivitaa terhenti, bahkan napas.

Ada 5,374 juta orang tewas di seluruh dunia akibat Covid-19. (Data WHO, Jumat, 24 Desember 2021).  

Bahkan saat ini, varian baru virus mematikan itu bermunculan dengan mutasi genetik yang tidak terkendali.

Terakhir terindentifikasi varian baru adalah omicron. Tentu dengan tingkat bahaya persebaran yang lebih cepat dari virus sebelumnya.

Wuhan membawa pesan kematian. Merampas harapan orang-orang yang terinfeksi. Bagi yang memiliki penyakit penyerta harus kuat berjibaku mempertahankan diri dari badai sitokin. 

Semua ini terjadi seolah ingin me-reset bumi seperti kisah Bahtera Noah. Mengembalikan ke kondisi ideal. Di mana semua diharapkan berjalan dengan baik. Orang-orang saling memperhatikan dan mengasihi satu sama lain.

Seperti Lukas katakan, “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian"(Lukas 3:11). 

Bahkan lebih jauh Yesus sendiri katakan agar kita melihat yang lain setara bahkan sebagai bagian diri kita sendiri.

Seperti yang disampaikan-Nya sebagai hukum yang utama, yaitu kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:39).

Sikap inilah yang sudah hilang dewasa ini. Bahkan di dalam gereja. Ada sesuatu yang hilang. Justru yang utama. Kasih. 

Begitu juga dengan kesederhanaan seperti tergambar dalam palungan tempat bayi Yesus dibaringkan.

Kini sudah digantikan dengan selimut lembut nan tebal dan hangat. Kereta bayi yang mahal. Kandang domba berubah istana megah.

Domba-domba dengan bulu menggumpal-gumpal, oh, sudah tidak ditemukan. Karena bulu domba pun di-rebonding dan smoothing.

Natal hanya menjadi ajang pemuas diri. Membuat acara apa saja dibungkus seolah merayakan kelahiran Yesus.

Di gedung- gedung gereja yang megah. Di hotel-hotel nan mewah menghabiskan biaya ratusan juta sampai miliaran.

Demikian juga orang membeli apa saja. Ke pusat-pusat perbelanjaan. Ke mal-mal yang hanya menjual barang-barang branded. Pokoknya belanja. 

Tapi coba lihat di sudut seberang jalan di luar sana. Di kolong jembatan. Banyak orang yang kehilangan.  Pekerjaan, keluarga, bahkan harapan. Pandemi ini memukul mereka.

Lalu di mana makna Natal yang harusnya mereka dapatkan saat ini? Bukankah ada 2,5 dari 7,7 miliar penduduk bumi beragama Kristen?

Di Indonesia, tercatat 28,82 juta orang dari 272 juta penduduk penganut agama Nasrani (Kristen dan Katolik) --Sumber: dukcapil.kemendagri.go.id.

Jika jumlah itu melakukan apa yang Tuhan Yesus lakukan, betapa dampaknya bagi dunia.

Demikian jika 28 juta orang Kristen di Indonesia berdoa bagi ibu pertiwi ini. Bergerak membantu memberi satu helai baju dari dua yang dimilikinya. Pasti negeri ini sudah pulih dan bangkit lagi.

Jangan sampai hanya menegaskan apa yang pernah dikatakan Mahatma Gandhi, pejuang kemerdekaan dan perdamaian India.

Dalam satu wawancara, E Stanley Jones bertanya, “Anda sering mengutip kata-kata Kristus, tapi kenapa Anda menolak keras menjadi pengikutnya?"

Jawab Mahatma Gandhi, “Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka Kristus Anda. Tapi saya tidak suka orang Kristen Anda. Jika orang Kristen benar-benar hidup menurut ajaran Kristus seperti yang ditemukan di Alkitab, seluruh India sudah menjadi Kristen hari ini".    

Pernyataan itu biarlah menjadi introspeksi diri di tengah perayaan Natal kali ini.

Wuhan dengan lonceng kematiannya sudah memberi pesannya kepada dunia agar kita kembali ke sudut Betlehem, dusun kecil tempat kelahiran Yesus Kristus. Di kandang domba.

Sebuah tempat yang sangat tidak layak dengan lantai tanah becek. Berbagi dengan beberapa domba yang kebingungan.

Tapi dari tempat sangat sederhana itu pesan kepada dunia disampaikan. Tentang kelahiran Yesus Kristus di kandang domba yang sangat sederhana dan kematian di kayu salib menjadi keselamatan bagi manusia. 

Selamat Natal. (*) 

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya