Suburkan Filantrofi di Masa Pandemi
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Suburkan Filantrofi di Masa Pandemi

Bandarlampung
22 September 2021 - 23:31 WIB
Perspektif | RILISID
...
Fajar Sidik SH M.Medkom, Relawan Yayasan Amanah Kemanusiaan dan Keadilan Lampung

RILISID, Bandarlampung — KEPILUAN pandemi terdengar lirih di seantero negeri. Tak terkecuali warga sang bumi ruwa jurai, turut mengalami.

Layar sentuh persegi, mengabarkan kesulitan itu setiap hari. Mulai nafkah yang sulit dicari, atau usaha kecil yang terpaksa terhenti.

Belum lagi cerita duafa yang lirih berduka, atau anak-anak yatim yang menyendiri nelangsa.

Sungguh ada tanggung jawab sosial kita di sana. Yah... walau hanya menutup luka, belum sanggup menyelesaikan derita, yang kini menganga!

Tengoklah di ujung jalan penuh deru, anak duafa menggurat kisah pilu, bersama wajah-wajah sendu, semangat yang lama membeku, terngiang orang tua terkubur terbujur kaku.

Tengok pula di pojok rumah-rumah, ada keluarga menghamba nafkah, sambil mengenang sang ayah, yang lama terlumat tanah.

Dan inilah saatnya, bergandeng tangan, merajut kesetiakawanan sosial, membantu sesama, meringankan beban berat duafa.

Kedermawanan atau yang lebih tren dengan kata filantropi merupakan salah satu perintah Allah terhadap umatnya.

Dalam Al-Qur’an, kedermawanan tersubtitusikan dengan kata amal saleh yang statusnya sejajar dengan salat maupun jihad.

Dalam kehidupan, amal saleh ini terjewantahkan dalam bentuk zakat, infak dan sedekah.

Dan orang-orang berharta, selayaknya memperhatikan perintah ini dengan penuh kearifan. Karena sesungguhnya, setiap rupiah harta Anda, akan dimintakan pertanggungjawabannya secara detail tanpa celah.

Sebuah motivasi bagi kita semua sebagaimana disebut dalam hadis riwayat Imam Thabrani dari Abu Darda.

Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya, “Apakah engkau menginginkan kepuasan dan kesuksesan batin serta terpenuhi kebutuhan hidup? Sayangilah anak yatim (duafa), usaplah kepalanya, dan berikanlah makanan yang sama dengan makanan yang engkau makan. Pasti engkau akan mendapatkan kesuksesan batin dan akan terpenuhi kebutuhan,” pesan Rasul pada umatnya.

Lalu, kenapa kita ragu melakukannya. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Beberapa kontribusi yang dapat dilakukan di antaranya membantu kaum papa dengan meringankan beban hidupnya bagi yang berpunya, menentramkan hati mereka dengan ayatullah bagi pendakwah, dan merumuskan konsep pemberdayaan umat bagi intelektual.

Sinergi ketiganya menjadi fondasi kokoh membangun masyarakat muslim madani. Karena bagaimana pun, kemiskinan sangat potensial membawa pada kekufuran.

Dan, hal itu sudah cukup menjadi alasan untuk memerangi kemiskinan dengan mengasah kedermawanan umat. Karena pandemi ini harus juga menyuburkan filantrofi.

Hari ini, tanah Lampung tersenyum bangga. Melihat banyak komunitas-komunitas aktif bergerak membantu sesama.

Ada yang rutin menyediakan makan siang gratis, ada juga yang membagi-bagikan beras kebutuhan keluarga duafa.

Atau mereka yang giat menyayangi anak-anak yatim dengan berbagai santunannya. Semua tergerak dalam kebersamaan untuk meringankan beban saudaranya.

Apakah mereka orang-orang kaya? Tentu tidak, sebagian mereka orang-orang yang memiliki kepedulian yang tinggi.

Dalam keterbatasan yang melingkupi dirinya, tetap bisa bergerak menginisiasi dan menebar kebaikan pada sekitarnya. Dan hal ini perlu terus dilestarikan.

Karena kebaikan itu seperti bola salju yang akan semakin membesar dan pada akhirnya menjadi gerakan solidaritas yang masif.

Menjaga kontinuitas gerakan sosial, maka diperlukan strategi yang terstruktur. Seluruh komunitas perlu membangun kebersamaan dan bekerjasama yang apik, sehingga dapat menyentuh lebih luas masyarakat yang membutuhkan.

Kekhawatiran dari gerakan ’individual’ komunitas adalah kurang optimalnya penyaluran santunan. Karena sangat mungkin satu target sosial, disantuni oleh beberapa komunitas.

Padahal, pada sisi lainnya masih terdapat target sosial lain yang belum tersentuh. Oleh kaena itu, kerjasama dan sinergi komunitas perlu diinisiasi sehingga mampu menyatukan orang-orang baik, sehingga semakin memperluas kebaikan yang akan dilaksanakan.

Kemudian, yang tidak kalah penting dalam menjaga kontinuitas gerakan adalah transparansi keuangan.

Laporan penyaluran yang disertai transparansi pengelolaan keuangan, akan menjaga trust para dermawan untuk terus rutin menyalurkan donasinya.

Dan, teori word of mouth dari Kotler dan Keller akan berlaku. Para dermawan akan menjadi perantara orang ke orang baik secara lisan, tulisan, maupun lewat alat komunikasi elektronik, untuk menyampaikan peluang-peluang lebaikan yang dilakukan oleh komunitas.

Efeknya, semakin tersebar kegiatan filantrofi, akan semakin banyak pihak yang berdonasi, dan pada akhirnya akan semakin luas kontribusi komunitas pada duafa di saat pandemi ini.

Sementara itu, menurut hasil penelitian Mansur Efendi dalam Jurnal Manajemen Zakat dan Wakaf Volume 2 Nomor 1 Tahun 2021, dipaparkan kecenderungan donatur memberikan donasinya melihat dua hal yakni urgensi program yang ditawarkan dan narasi yang disampaikan kepada publik.

Semakin menarik perhatian publik dan kian spesifik target sosial akan meningkatkan keterlibatan para dermawan untuk berdonasi.

Hal ini tentu perlu menjadi salah satu perhatian komunitas-komunitas sosial dalam menyusun program filantrofinya.

Harapannya, dengan semakin unik program disertai target sosial yang terukur, kontinuitas gerakan akan terjaga dengan baik dan tentunya menginspirasi komunitas lain untuk bergerak membantu sesama, melewati pandemi saat ini.

Terakhir, untuk menjaga napas panjang perjuangan, maka kedekatan ruhiyah dengan pemilik semesta perlu dijaga.

Karena kepedulian pada sesama, itu membutuhkan energi yang banyak. Dan kekuatan terbesar untuk menggerakkan jiwa kita, sahabat-sahabat kita ataupun orang-orang di sekitar kita, datangnya dari hidayah Tuhan yang esa.

Karenanya, menjaga hubungan batin kita dengan Tuhan menjadi aspek penting yang harus dijaga.

Menyuburkan filantrofi saat pandemi menjadi tanggung jawab kita semua. Setiap diri dapat mengambil peran sebagai donatur atau penggerak komunitas sosial. Karena tanpa kebersamaan, maka nestapa yang dialami duafa, akan sulit terselesaikan.

Pandemi ini mengajak kita untuk meningkatkan kepedulian. Agar bumi Lampung semakin subur dengan kebaikan-kebaikan.

Mari dimulai dari hal yang paling sederhana dan hal-hal yang dekat di lingkungan kita. Jika kesulitan maka bergabunglah bersama komunitas sosial yang menjamur saat ini. Ayo bergerak, jangan ragu! (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya

Suburkan Filantrofi di Masa Pandemi

...
[email protected]
Bandarlampung
22 September 2021 - 23:31 WIB
Perspektif | RILISID
...
Fajar Sidik SH M.Medkom, Relawan Yayasan Amanah Kemanusiaan dan Keadilan Lampung

RILISID, Bandarlampung — KEPILUAN pandemi terdengar lirih di seantero negeri. Tak terkecuali warga sang bumi ruwa jurai, turut mengalami.

Layar sentuh persegi, mengabarkan kesulitan itu setiap hari. Mulai nafkah yang sulit dicari, atau usaha kecil yang terpaksa terhenti.

Belum lagi cerita duafa yang lirih berduka, atau anak-anak yatim yang menyendiri nelangsa.

Sungguh ada tanggung jawab sosial kita di sana. Yah... walau hanya menutup luka, belum sanggup menyelesaikan derita, yang kini menganga!

Tengoklah di ujung jalan penuh deru, anak duafa menggurat kisah pilu, bersama wajah-wajah sendu, semangat yang lama membeku, terngiang orang tua terkubur terbujur kaku.

Tengok pula di pojok rumah-rumah, ada keluarga menghamba nafkah, sambil mengenang sang ayah, yang lama terlumat tanah.

Dan inilah saatnya, bergandeng tangan, merajut kesetiakawanan sosial, membantu sesama, meringankan beban berat duafa.

Kedermawanan atau yang lebih tren dengan kata filantropi merupakan salah satu perintah Allah terhadap umatnya.

Dalam Al-Qur’an, kedermawanan tersubtitusikan dengan kata amal saleh yang statusnya sejajar dengan salat maupun jihad.

Dalam kehidupan, amal saleh ini terjewantahkan dalam bentuk zakat, infak dan sedekah.

Dan orang-orang berharta, selayaknya memperhatikan perintah ini dengan penuh kearifan. Karena sesungguhnya, setiap rupiah harta Anda, akan dimintakan pertanggungjawabannya secara detail tanpa celah.

Sebuah motivasi bagi kita semua sebagaimana disebut dalam hadis riwayat Imam Thabrani dari Abu Darda.

Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya, “Apakah engkau menginginkan kepuasan dan kesuksesan batin serta terpenuhi kebutuhan hidup? Sayangilah anak yatim (duafa), usaplah kepalanya, dan berikanlah makanan yang sama dengan makanan yang engkau makan. Pasti engkau akan mendapatkan kesuksesan batin dan akan terpenuhi kebutuhan,” pesan Rasul pada umatnya.

Lalu, kenapa kita ragu melakukannya. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Beberapa kontribusi yang dapat dilakukan di antaranya membantu kaum papa dengan meringankan beban hidupnya bagi yang berpunya, menentramkan hati mereka dengan ayatullah bagi pendakwah, dan merumuskan konsep pemberdayaan umat bagi intelektual.

Sinergi ketiganya menjadi fondasi kokoh membangun masyarakat muslim madani. Karena bagaimana pun, kemiskinan sangat potensial membawa pada kekufuran.

Dan, hal itu sudah cukup menjadi alasan untuk memerangi kemiskinan dengan mengasah kedermawanan umat. Karena pandemi ini harus juga menyuburkan filantrofi.

Hari ini, tanah Lampung tersenyum bangga. Melihat banyak komunitas-komunitas aktif bergerak membantu sesama.

Ada yang rutin menyediakan makan siang gratis, ada juga yang membagi-bagikan beras kebutuhan keluarga duafa.

Atau mereka yang giat menyayangi anak-anak yatim dengan berbagai santunannya. Semua tergerak dalam kebersamaan untuk meringankan beban saudaranya.

Apakah mereka orang-orang kaya? Tentu tidak, sebagian mereka orang-orang yang memiliki kepedulian yang tinggi.

Dalam keterbatasan yang melingkupi dirinya, tetap bisa bergerak menginisiasi dan menebar kebaikan pada sekitarnya. Dan hal ini perlu terus dilestarikan.

Karena kebaikan itu seperti bola salju yang akan semakin membesar dan pada akhirnya menjadi gerakan solidaritas yang masif.

Menjaga kontinuitas gerakan sosial, maka diperlukan strategi yang terstruktur. Seluruh komunitas perlu membangun kebersamaan dan bekerjasama yang apik, sehingga dapat menyentuh lebih luas masyarakat yang membutuhkan.

Kekhawatiran dari gerakan ’individual’ komunitas adalah kurang optimalnya penyaluran santunan. Karena sangat mungkin satu target sosial, disantuni oleh beberapa komunitas.

Padahal, pada sisi lainnya masih terdapat target sosial lain yang belum tersentuh. Oleh kaena itu, kerjasama dan sinergi komunitas perlu diinisiasi sehingga mampu menyatukan orang-orang baik, sehingga semakin memperluas kebaikan yang akan dilaksanakan.

Kemudian, yang tidak kalah penting dalam menjaga kontinuitas gerakan adalah transparansi keuangan.

Laporan penyaluran yang disertai transparansi pengelolaan keuangan, akan menjaga trust para dermawan untuk terus rutin menyalurkan donasinya.

Dan, teori word of mouth dari Kotler dan Keller akan berlaku. Para dermawan akan menjadi perantara orang ke orang baik secara lisan, tulisan, maupun lewat alat komunikasi elektronik, untuk menyampaikan peluang-peluang lebaikan yang dilakukan oleh komunitas.

Efeknya, semakin tersebar kegiatan filantrofi, akan semakin banyak pihak yang berdonasi, dan pada akhirnya akan semakin luas kontribusi komunitas pada duafa di saat pandemi ini.

Sementara itu, menurut hasil penelitian Mansur Efendi dalam Jurnal Manajemen Zakat dan Wakaf Volume 2 Nomor 1 Tahun 2021, dipaparkan kecenderungan donatur memberikan donasinya melihat dua hal yakni urgensi program yang ditawarkan dan narasi yang disampaikan kepada publik.

Semakin menarik perhatian publik dan kian spesifik target sosial akan meningkatkan keterlibatan para dermawan untuk berdonasi.

Hal ini tentu perlu menjadi salah satu perhatian komunitas-komunitas sosial dalam menyusun program filantrofinya.

Harapannya, dengan semakin unik program disertai target sosial yang terukur, kontinuitas gerakan akan terjaga dengan baik dan tentunya menginspirasi komunitas lain untuk bergerak membantu sesama, melewati pandemi saat ini.

Terakhir, untuk menjaga napas panjang perjuangan, maka kedekatan ruhiyah dengan pemilik semesta perlu dijaga.

Karena kepedulian pada sesama, itu membutuhkan energi yang banyak. Dan kekuatan terbesar untuk menggerakkan jiwa kita, sahabat-sahabat kita ataupun orang-orang di sekitar kita, datangnya dari hidayah Tuhan yang esa.

Karenanya, menjaga hubungan batin kita dengan Tuhan menjadi aspek penting yang harus dijaga.

Menyuburkan filantrofi saat pandemi menjadi tanggung jawab kita semua. Setiap diri dapat mengambil peran sebagai donatur atau penggerak komunitas sosial. Karena tanpa kebersamaan, maka nestapa yang dialami duafa, akan sulit terselesaikan.

Pandemi ini mengajak kita untuk meningkatkan kepedulian. Agar bumi Lampung semakin subur dengan kebaikan-kebaikan.

Mari dimulai dari hal yang paling sederhana dan hal-hal yang dekat di lingkungan kita. Jika kesulitan maka bergabunglah bersama komunitas sosial yang menjamur saat ini. Ayo bergerak, jangan ragu! (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya