Tantangan Hari Pendidikan Nasional di Masa Pandemi Covid-19
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Tantangan Hari Pendidikan Nasional di Masa Pandemi Covid-19


2 Mei 2021 - 22:16 WIB
Perspektif | RILISID
...
Al Harits Maulana Afif, Satuan Siswa Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila Universitas Bandar Lampung

RILISID, — TANGGAL 2 Mei kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional untuk mengenang dan mengingat kembali tokoh pahlawan kita, yang sangat berjasa dalam pendidikan nasional bangsa Indonesia hari ini. Yaitu Ki Hadjar Dewantara atau yang biasa disebut sebagai bapak pendidikan nasional.

Pada awalnya Ki Hajar Dewantara menentang sistem pendidikan pada zaman penjajahan Belanda. Sistem yang  hanya mengizinkan anak-anak keturunan Belanda atau anak-anak orang kaya yang bisa masuk dan belajar di sekolah.

Sementara, anak pribumi yang kelas ekonominya rendah dianggap tidak pantas sehingga terjadi ketimpangan yang besar.

Atas aksi protes dan pendapatnya ini, beliau kemudian diasingkan ke Belanda. Namun alih-alih merasa takut, justru ketika ia kembali ke Indonesia setelah pengasingan, ia semakin getol menentang sistem pendidikan ini.

Ki Hajar Dewantara kemudian mendirikan National Onderwijs Institut Taman Siswa, yang kemudian dikenal dengan nama Taman Siswa. 

Lembaga inilah yang jadi cikal bakal Sekolah Rakyat yang kemudian mampu membawa pendidikan ke kaum menengah ke bawah yang tadinya tak bisa menikmati sekolah.

Meski memang perjuangannya tidak hanya berhenti di sana, namun momentum ini menjadi poin penting nama Ki Hajar Dewantara masuk dalam daftar nama Pahlawan Nasional. Besar sekali jasa Ki Hadjar Dewantara pada pendidikan di Indonesia.

Di tahun ini kita merasakan hal yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena seperti diketahui kita hanya dapat menempuh pendidikan dari rumah saja.

Dasarnya adalah Surat Edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (SE Kemendikbud) Nomor 15 tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19.

Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Regulasi, Chatarina Muliana Girsang, menyampaikan SE Nomor 15 ini untuk memperkuat SE Mendikbud Nomor 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Corona Virus Disease (Covid-19).

Meski begitu, ini tidak menyurutkan semangat kita sebagai mahasiswa yang dengan tridarma perguruan tingginya selalu berperan aktif dalam pendidikan serta bermasyarakat.

Mahasiwa dituntut dapat mengimplementasikan ilmu-ilmu yang ia dapat selama menempuh pendidikan dalam bentuk pengabdian ke masyarakat agar ilmu yang didapat bermanfaat serta berguna bagi masyarakat.

Namun demikian, masih banyak kekurangan yang terdapat pada sistem dalam jaringan (daring) ini. Begitu banyak tugas-tugas yang diberikan tenaga pendidik, proses belajar mengajar kurang efektif, serta tak semua siswa memiliki fasilitas yang memadai untuk menunjang dalam proses belajar daring.

Ini menjadi tantangan yang berat baik bagi siswa dan juga tenaga pendidik, yang mana ini semua menjadi tanggung jawab bersama.

Kesadaran dari diri kita sendiri sangat diperlukan karena tidak mungkin kita selalu disuapi. Kita harus mencari sendiri ilmu itu. Karena sadar serta ikhlas adalah kunci dalam menempuh pendidikan.

Pendidikan mampu melahirkan orang-orang optimistis karena sebutir optimisme lebih berharga daripada sekarung bakat terpendam.

Sedikit catatan, sepertinya pemerintah perlu meredesain kurikulum di setiap jenjang pendidikan sehingga tenaga pendidik bisa menjawab semua tantangan dalam kondisi apapun.

Ucapan Ki Hadjar Dewantara bahwa setiap orang harus mampu menjadi guru dan setiap rumah menjadi sekolah, terasa relevan dengan kondisi sekarang.

Sebab, belajar di rumah secara daring masih menjadi tumpuan utama pembelajaran di Indonesia saat ini. Semua orang menjadi guru untuk membantu belajar dan semua rumah menjadi sekolah untuk tempat anak menggali ilmu. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya

Tantangan Hari Pendidikan Nasional di Masa Pandemi Covid-19

...
[email protected]

2 Mei 2021 - 22:16 WIB
Perspektif | RILISID
...
Al Harits Maulana Afif, Satuan Siswa Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila Universitas Bandar Lampung

RILISID, — TANGGAL 2 Mei kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional untuk mengenang dan mengingat kembali tokoh pahlawan kita, yang sangat berjasa dalam pendidikan nasional bangsa Indonesia hari ini. Yaitu Ki Hadjar Dewantara atau yang biasa disebut sebagai bapak pendidikan nasional.

Pada awalnya Ki Hajar Dewantara menentang sistem pendidikan pada zaman penjajahan Belanda. Sistem yang  hanya mengizinkan anak-anak keturunan Belanda atau anak-anak orang kaya yang bisa masuk dan belajar di sekolah.

Sementara, anak pribumi yang kelas ekonominya rendah dianggap tidak pantas sehingga terjadi ketimpangan yang besar.

Atas aksi protes dan pendapatnya ini, beliau kemudian diasingkan ke Belanda. Namun alih-alih merasa takut, justru ketika ia kembali ke Indonesia setelah pengasingan, ia semakin getol menentang sistem pendidikan ini.

Ki Hajar Dewantara kemudian mendirikan National Onderwijs Institut Taman Siswa, yang kemudian dikenal dengan nama Taman Siswa. 

Lembaga inilah yang jadi cikal bakal Sekolah Rakyat yang kemudian mampu membawa pendidikan ke kaum menengah ke bawah yang tadinya tak bisa menikmati sekolah.

Meski memang perjuangannya tidak hanya berhenti di sana, namun momentum ini menjadi poin penting nama Ki Hajar Dewantara masuk dalam daftar nama Pahlawan Nasional. Besar sekali jasa Ki Hadjar Dewantara pada pendidikan di Indonesia.

Di tahun ini kita merasakan hal yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena seperti diketahui kita hanya dapat menempuh pendidikan dari rumah saja.

Dasarnya adalah Surat Edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (SE Kemendikbud) Nomor 15 tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19.

Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Regulasi, Chatarina Muliana Girsang, menyampaikan SE Nomor 15 ini untuk memperkuat SE Mendikbud Nomor 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Corona Virus Disease (Covid-19).

Meski begitu, ini tidak menyurutkan semangat kita sebagai mahasiswa yang dengan tridarma perguruan tingginya selalu berperan aktif dalam pendidikan serta bermasyarakat.

Mahasiwa dituntut dapat mengimplementasikan ilmu-ilmu yang ia dapat selama menempuh pendidikan dalam bentuk pengabdian ke masyarakat agar ilmu yang didapat bermanfaat serta berguna bagi masyarakat.

Namun demikian, masih banyak kekurangan yang terdapat pada sistem dalam jaringan (daring) ini. Begitu banyak tugas-tugas yang diberikan tenaga pendidik, proses belajar mengajar kurang efektif, serta tak semua siswa memiliki fasilitas yang memadai untuk menunjang dalam proses belajar daring.

Ini menjadi tantangan yang berat baik bagi siswa dan juga tenaga pendidik, yang mana ini semua menjadi tanggung jawab bersama.

Kesadaran dari diri kita sendiri sangat diperlukan karena tidak mungkin kita selalu disuapi. Kita harus mencari sendiri ilmu itu. Karena sadar serta ikhlas adalah kunci dalam menempuh pendidikan.

Pendidikan mampu melahirkan orang-orang optimistis karena sebutir optimisme lebih berharga daripada sekarung bakat terpendam.

Sedikit catatan, sepertinya pemerintah perlu meredesain kurikulum di setiap jenjang pendidikan sehingga tenaga pendidik bisa menjawab semua tantangan dalam kondisi apapun.

Ucapan Ki Hadjar Dewantara bahwa setiap orang harus mampu menjadi guru dan setiap rumah menjadi sekolah, terasa relevan dengan kondisi sekarang.

Sebab, belajar di rumah secara daring masih menjadi tumpuan utama pembelajaran di Indonesia saat ini. Semua orang menjadi guru untuk membantu belajar dan semua rumah menjadi sekolah untuk tempat anak menggali ilmu. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya