Lumpur Tinja Meluap, Warga Blokade Jalan ke TPA Bakung

Selasa | 16/10/2018 14.37 WIB
Lumpur Tinja Meluap, Warga Blokade Jalan ke TPA Bakung
Warga melakukan aksi blokade jalan untuk menghalangi mobil tangki sedot tinja masuk ke TPA Bakung, Selasa (16/10/2018). FOTO RILISLAMPUNG.ID/El Shinta

RILIS.ID, Bandarlampung – Warga Jalan Tulung Buyut RT 1 LK II, Kelurahan Bakung, Telukbetung Barat, Kota Bandarlampung, melakukan blokade jalan untuk menghalangi mobil tangki tinja untuk masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung, Selasa (16/10/2018).

Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes warga atas meluapnya lumpur tinja hingga ke pemukiman warga. 

Dari pantauan di lokasi, sejumlah warga nampak duduk bersantai di bawah pohon.

Sekilas tak terlihat aktivitas yang ganjil. Namun, terdapat dua mobil tangki sedot tinja yang parkir tak jauh dari warga. 

Salah satu warga, Andre Agustiawan (29), mengatakan meluapnya lumpur tinja ke pemukiman warga terjadi pada Senin (15/10/2018) malam sekira pukul 20.30 Wib. 

"Semalam lagi pengajian di rumah warga lainnya, kok kami mencium bau busuk. Kami langsung naik ke atas (TPA Bakung), setelah naik kami lihat lumpur tinjanya sudah meluap dan turun ke badan jalan, kami ikuti sudah penuh di siring kami sampai ke bawah sana," kata Andre ditemui di lokasi. 

Ia dan sembilan warga lainnya langsung mendatangi TPA Bakung meminta pertanggungjawaban. Mereka meminta alat berat menimbun sumber aliran luapan lumpur tinja agar tak semakin banyak turun. 

"Ini siang untungnya nggak bau, kalau malam baunya sudah nggak karuan lagi. Ini benar-benar meresahkan," keluhnya. 

Andre dan warga lainnya kini melakukan demo dengan melarang mobil tangki sedot tinja masuk ke TPA Bakung sampai adanya tanggungjawab dari pihak PD Kebersihan Pemerintah Kota Bandarlampung. 

"Pokoknya tinjanya nggak boleh dibuang dulu, sampai ada orang dari PD Kebersihan yang datang ke sini untuk bertanggungjawab," tukasnya. 

Hal senada juga diungkapkan, Nining Rohani (31). Ia merasa sangat terganggu dengan adanya luapan lumpur tinja yang masuk ke pemukiman warga. 

"Bau banget ini, masa rumah warga bau kotoran manusia? Buat nggak enak makan. Kalau kami nggak bergerak cepat semalam, mungkin sudah mengalir kemana-mana. Sampai sekarang nggak ada tanggapan dari pemerintah," ujarnya.(*)

Editor


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID