Martini Mengaku Dimarahi dan PKH Dicabut karena Hadiri Acara Rycko - RILIS.ID
Martini Mengaku Dimarahi dan PKH Dicabut karena Hadiri Acara Rycko
lampung@rilis.id
Rabu | 19/02/2020 22.16 WIB
Martini Mengaku Dimarahi dan PKH Dicabut karena Hadiri Acara Rycko
Martini saat mengadu di Kantor Tim Advokasi Rycko Menoza, Rabu (19/2/2020). FOTO: IST

RILIS.ID, Bandarlampung – Seorang warga bernama Martini mengaku mendapat intimidasi dari oknum aparat Kelurahan Panjang Selatan, Kecamatan Panjang, usai mengikuti pertemuan dengan bakal calon wali kota Bandarlampung Rycko Menoza SZP.

Warga Kampung Rawa Laut, Kelurahan Panjang Selatan, Kecamatan Panjang, ini mengadukan hal itu kepada Tim Advokasi Rycko Menoza, Rabu (19/2/2020).

Martini menceritakan saat itu ia menghadiri silaturahmi Rycko Menoza dengan warga RT 11, pada Senin (17/2/2020) lalu.

Dalam pertemuan itu, sejumlah warga menyampaikan keluhannya mengenai kondisi masyarakat setempat, di antaranya Program Keluarga Harapan (PKH) yang tidak tepat sasaran, Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang tidak bisa dicairkan, tingginya kriminalitas, dan sejumlah masalah lainnya.

Pada hari berikutnya, oknum Ketua RT setempat marah-marah di rumah Martini. Bahkan bantuan PKH yang ia terima diancam dicabut.

“Pak Camat dan Lurah juga katanya ingin menemui saya terkait masalah ini, Kalau masalah PKH mau dicabut, silakan, ketua RT-nya saja dapat PKH," kata Martini dalam keterangan tertulisnya yang diterima Rilislampung, Rabu (19/2/2020).

Menurut Martini, setiap warga memiliki hak politik untuk memilih pemimpin tanpa intimidasi dan kekerasan.

“Sebelumnya saya juga dimarah-marahi, dan dicaci-maki sama ketua RT karena memasang banner pak Rycko, dan suruh dilepas. Sementara banner orang lain (calon lain) tidak dimarahin," tuturnya.

Padahal, sambung Martini, bakal calon wali kota Eva Dwiana Herman HN juga melakukan sosialiasi di wilayahnya.

“Waktu Bu Eva sosialisasi di tempat saya, aparatur kelurahan tidak mempersoalkannya,” ucapnya.

Sementara Tim Advokasi Rycko Menoza SZP, Heri Hidayat mengatakan tindakan oknum ketua RT tersebut tidak dibenarkan, apalagi sampai mengancam program bantuan pemerintah.

“PKH itu bantuan dari pusat, jadi tidak bisa asal dicabut seperti itu. Camat, lurah dan RT hanya mengawasi dan mengetahuinya saja," katanya.

Menurut Heri, kunjungan Rycko Menoza adalah silaturahmi dengan warga bukan kampanye karena statusnya masih bakal calon dan belum mendaftar ke KPU.

“Justru sebaliknya, camat dan lurah itu Aparatur Sipil Negara (ASN) jadi harus netral, jangan terafiliasi dengan calon tertentu," tegasnya.

Pihaknya berjanji akan membantu relawan atau simpatisan Rycko Menoza jika mendapat intimidasi secara fisik maupun verbal.

"Tolong direkam, jika intimidasi dan ancaman itu ada unsur pidana, kita laporkan. Setiap warga negara punya hak politik," pungkasnya.

Sementara Camat Panjang Bagus Harisma Bramado  mengaku belum mengetahui terkait persoalan tersebut.

"Saya belum tahu permasalahan itu, coba nanti saya cek ke bawah," singkatnya. (*)

Editor Segan Simanjuntak


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID