Mengamati Metro dari Atas dan Masa Lalu
lampung@rilis.id
Rabu | 07/03/2018 06.01 WIB
Mengamati Metro dari Atas dan Masa Lalu
Kian Amboro, Sejarawan Universitas Muhammadiyah Metro

Pernahkan Anda membuka aplikasi peta Google (Google Map) dan mengamati Kota Metro dari atas? Daerah kolonisasi yang dipelajari oleh Pemerintah Hindia Belanda mulai tahun 1932 ini dirancang menjadi sebuah ruang hunian yang sangat sistematis dan terencana (boleh dikatakan juga sebagai pusat kota).

Tak heran jika sekarang jarang kita jumpai jalan-jalan buntu ada di Metro. Setiap jalur dan jalan saling bersilang satu sama lain. Hal ini dikarenakan Metro sebelumnya memang telah melalui tahap perencanaan dan penataan yang matang oleh Pemerintah Hindia Belanda, baru kemudian didatangkan para kolonis untuk menempatinya.

Sedikit berbeda dengan daerah kolonisasi lainnya di Indonesia. Gedongtataan Kabupaten Pesawaran misalnya, sebagai lokasi pertama kolonisasi tahun 1905 yang sepenuhnya menganut pola tata ruang publik di Jawa (Catur Gatra Tunggal). Pola tata ruang Metro dirancang mengkombinasikan pola tata ruang tradisional Jawa (Catur Gatra Tunggal/Catur Sagotrah). Karena yang dipindahkan adalah masyarakat Jawa dengan pola tata ruang Barat yakni ‘Konsep Poros’.

Hal ini karena proses kolonisasi di Metro dilaksanakan menurut peraturan kolonisatie in marga verband. Pembangunan desa-desa awal kolonisasi pada 3 tahun pertama dikelola oleh Eropeesch Binnenlandsch Bestuur (Pangreh Praja Belanda), dibantu pegawai-pegawai Inlandsch Binnenlandsch Bestuur (Pangreh Praja Pribumi) yang didatangkan dari Jawa (Asisten Wedana dan Wedana). Setelah tiga tahun dan apabila desanya sudah dibangun menurut pola di Jawa, maka desa tersebut diserahkan kepada Pemerintah Marga (Sri-Edi Swasono, 1985:13).

Jadi pada masa selama tiga tahun pertama, Metro merasakan sentuhan-sentuhan Eropa dalam pembangunan dan pengembangan pola tata ruangnya. Sebagaimana yang dikemukakan di atas, meskipun semua warga kolonis berasal dari Jawa yang berimplikasi pada pembangunan tata ruang Jawa, tetapi ada ciri kota modern yang dipersiapkan sejak awal wilayah ini dibuka oleh Pemerintah Hindia Belanda. Tak heran dalam waktu kurang dari satu dekade sejak daerah ini (Metro) ditempati kolonis, statusnya berubah menjadi pusat pemerintahan di mana Asisten Wedana berkedudukan.

Konsep tata ruang Catur Gatra Tunggal/Catur Sagotrah merupakan tata ruang yangg unik, banyak kita jumpai di berbagai daerah. Terutama yang bermasyarakat Jawa atau daerah bekas kerajaan-kerajaan di Jawa zaman dahulu. Konsep ini disebut juga dengan civic center yang berarti bagian dari kota yang secara spasial menajdi pusat bagi berbagai macam kegiatan msyarakat penghuninya (Kostof, 1992:80-81).

Konsep ini menempatkan empat unsur utama (catur) sebagai satu kesatuan (tunggal). Yakni pusat pemerintahan, pasar, alun-alun, dan masjid, yang mewakili ruang politik, ekonomi, sosial, dan spiritual dalam satu kesatuan. Dalam filosofi Jawa, empat unsur/tempat ini harus ada, meskipun masing-masing berdiri sendiri secara terpisah satu sama lain. Namun dihubungkan dengan jalan maupun koridor-koridor. Catur Gatra Tunggal tidak ditemukan di luar Indonesia dan menjadi sebuah nilai kearifan lokal.

Sekarang silahkan diamati untuk Kota Metro. Dapatkah Anda menentukan letak empat unsur tadi secara satu-kesatuan? Dimanakah letak/posisi pusat pemerintahan (rumah/kantor wali kota, kantor pemerintahan), pasar (shopping center, pasar pagi, M3), alun-alun (lapangan/taman Merdeka), dan pusat aktivitas spiritual (Masjid Taqwa)? Apakah letaknya saling berdekatan? Dapatkan Anda menemukan perbedaan dengan pola tata ruang tradisional masyarakat setempat?

Sedangkan konsep tata ruang Poros adalah struktur tata ruang yang menekankan pada pentingnya keberadaan dan kelancaran jalur transportasi yang dapat memberikan pengaruh sangat besar terhadap struktur ruang kota. Teori ini dikemukakan oleh Babcock tahun 1932.

Dapat diamati pada gambar pola tata ruang poros dengan tata ruang Metro saat ini. Dimana jalan-jalan membentuk poros utama pusat aktivitas masyarakatnya. Konsep tata ruang Poros, pesatnya pertumbuhan penduduk dan ekonomi (dibandingkan daerah kolonisasi lain di masanya) ditambah letak geografis Metro yang sejak awal berada di posisi "meterm" (pusat), menjadikan Metro sebagai pusat kedudukan Asisten Wedana, pusat pemerintahan Metro, berlanjut sebagai ibu kota Kabupaten Lampung Tengah, dan kini menjadi Kota Metro.

Dapatkah Anda mencermati kombinasi unsur tradisional dan modern pada struktur tata ruang di Metro? Jika boleh berhipotesis, bisa jadi Metro sejak awal didesain sebagai kota metropolitan yang besar dengan tata ruang yang sistematis. Dengan daerah-daerah penyangga (istilah sekarang kota satelit) di sekitarnya (bedeng 1-70). Tapi itu tidak terwujud karena Belanda sudah angkat kaki dari tanah air tercinta kita ini dan tak bisa mewujudkan masterplan-nya.

Lalu apakah kita harus mempertahankan warisan Pemerintah Kolonial Belanda di era Kemerdekaan ini  atau menyesali angkat kakinya Belanda dari tanah air tercinta? Tentunya jawaban kita tidak sesempit dan sebodoh itu. Setidaknya jika kita memahami bagaimana Metro sejak awal didesain dan dirancang, dapat kita jadikan pertimbangan bagaimana merancang dan menata Metro di masa mendatang.

Jika dianalogikan, jangan sampai Metro menjadi seperti Jakarta yang gagal mengelola sumber daya air yang melimpah sehingga menimbulkan banjir. Padahal Pemerintah Batavia di masa lalu sebagai perancang kota tersebut, dapat mengelolanya dengan baik. Oleh karenanya, mari belajar dari sejarah. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)

 





2019 | WWW.RILIS.ID